MARKET DATA

Mengganas Lagi, Harga Batu Bara Terbang ke Rekor Tertinggi Setahun

mae,  CNBC Indonesia
17 February 2026 08:10
Batu bara
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus menanjak hingga mencetak rekor tertinggi setahun.

Pada perdagangan Senin (16/2/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 120,1 atau menguat 0,17%. Penguatan ini memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 3,3% selama tiga hari beruntun.

Penguatan juga membawa emas ke rekor tertinggi sejak 6 Januari 2025 atau lebih dari setahun.

Harga batu bara naik mencapai level tertinggi dalam setahun karena China, produsen dan konsumen batu bara terbesar dunia, mulai merapikan sektor batu baranya di tengah tanda-tanda konsumsi yang mulai mencapai puncak.

Regulator menyetujui rencana China Shenhua Energy Co untuk mengakuisisi sekitar US$19 miliar aset dari induknya, China Energy Investment Corp. Aset tersebut mencakup bisnis batu bara ke kimia (coal-to-chemicals), pertambangan, pembangkit listrik, serta operasi logistik.

Transaksi ini bertujuan memperdalam integrasi vertikal dan meningkatkan efisiensi rantai pasok. Setelah akuisisi, kapasitas produksi batu bara tahunan Shenhua akan meningkat menjadi 512 juta ton.

Sementara itu di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengambil langkah untuk mendukung sektor pembangkit listrik tenaga batu bara yang tengah menurun. Pemerintah mengarahkan US$175 juta dana federal untuk meningkatkan enam pembangkit listrik serta menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan.

Harga batu bara juga menanjak karena persediaan di China menurun.

Port stok batubara di pelabuhan utara China, termasuk pelabuhan transshipment utama seperti Qinhuangdao, menunjukkan tren penurunan persediaan dalam minggu yang berakhir pada 13 Februari. Penurunan ini terutama karena pengeluaran batubara yang terus melampaui masuknya pasokan melalui kereta api ke pelabuhan tersebut.

Di beberapa pelabuhan di wilayah utara Laut Bohai, total stok batubara tercatat lebih rendah secara mingguan, walaupun sedikit variasi harian terjadi tergantung arus masuk dan keluar. Secara keseluruhan, tren mingguan menunjukkan stok yang menurun, mencerminkan bahwa konsumsi dan pengiriman keluar masih kuat relatif terhadap suplai masuk.

CNBC INDONESIA RESERACH
[email protected]

(mae/mae)



Most Popular