10 Saham RI dengan Valuasi "Tak Masuk Akal", PBV Tembus 1.500 Kali
Jakarta, CNBC Indonesia - MSCIÂ tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan investor domestik maupun asing.
Saham yang berkaitan erat dengan  MSCI tengah turun cukup terjal sejak pengumuman MSCI mengenai kekhawatiran transparansi data kepemilikan saham di Indonesia.
Implikasinya adalah analisis fundamental menjadi instrumen vital bagi investor pasar modal saat ini untuk menilai kewajaran harga sebuah saham di pasar. Saat ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan sejumlah emiten yang diperdagangkan dengan valuasi premium, jauh melampaui rata-rata industri.
Berdasarkan data pasar terkini, terdapat sepuluh saham yang memiliki rasio Price to Book Value (PBV) dan Mean PE Standard Deviation (Standar Deviasi PE 5 Tahun) yang sangat tinggi.
Tingginya angka deviasi PE ini mengindikasikan bahwa emiten tersebut memiliki riwayat fluktuasi valuasi laba yang sangat lebar dalam periode lima tahun terakhir, yang mencerminkan volatilitas ekspektasi pasar.
Dominasi Anomali Valuasi RONY
Posisi teratas dalam daftar valuasi tertinggi ditempati oleh PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY). Emiten ini mencatatkan angka yang sangat ekstrem pada kedua indikator utama.
Dengan harga pasar Rp3.220 per lembar, RONY memiliki PBV sebesar 1.523,71 kali. Artinya, pasar menghargai perusahaan ini ribuan kali lipat di atas nilai aset bersihnya. Selain itu, volatilitas valuasinya tercermin dari Mean PE Standard Deviation yang mencapai angka 10.624, jauh meninggalkan emiten lainnya dalam daftar ini.
Disparitas Harga Nominal dan Valuasi
Fenomena menarik terlihat pada PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII). CLAY, meskipun diperdagangkan dengan harga nominal relatif rendah di level Rp2.780, memiliki valuasi PBV tertinggi kedua sebesar 730,15 kali.
Sebaliknya, DCII mencatatkan harga nominal tertinggi di angka Rp197.000 per lembar. Namun, secara rasio PBV, DCII berada di level 122,65 kali, dengan standar deviasi PE yang jauh lebih rendah (308,38) dibandingkan RONY atau POLU.
Berikut adalah rincian data sepuluh perusahaan dengan valuasi pasar tertinggi berdasarkan indikator PBV dan PE Standard Deviation:
Implikasi Risiko bagi Investor
Kombinasi antara PBV yang tinggi dan standar deviasi PE yang lebar menuntut kewaspadaan lebih dari para pelaku pasar. Valuasi premium tersebut umumnya didorong oleh optimisme pasar yang agresif terhadap pertumbuhan masa depan perusahaan.
Apabila realisasi kinerja fundamental emiten tidak mampu memenuhi ekspektasi tinggi tersebut, terdapat potensi risiko koreksi harga yang signifikan menuju nilai wajarnya.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk meninjau kembali profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi pada saham dengan karakteristik valuasi ekstrem ini.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)