Dunia Banyak Tantangan di 2026, Ini Daftarnya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki 2026, kondisi global terlihat penuh tantangan, Ancaman mulai dari konflik geopolitik, ketegangan ekonomi antarpasar, hingga risiko fragmentasi perdagangan terus menjadi sorotan para pengambil keputusan dan investor.
Melansir the World Economic Forum's Global Risks Report 2026, berdasarkan survei yang dilakukan antara 12 Agustus hingga 22 September 2025, para pemimpin, pengambil kebijakan, dan ahli global diminta memilih risiko yang dianggap paling mungkin menimbulkan krisis material berskala dunia pada 2026. Hasilnya sebagai berikut:
Hasil survei menunjukkan bahwa konfrontasi geoekonomi menempati posisi teratas sebagai risiko global paling mengkhawatirkan. Ketegangan antarnegara melalui kebijakan tarif, pembatasan ekspor, serta proteksionisme perdagangan dinilai berpotensi mengganggu arus barang, modal, dan teknologi lintas negara. Kondisi ini tidak hanya menekan pertumbuhan ekonomi global, tetapi juga memperbesar risiko fragmentasi pasar internasional.
Di posisi berikutnya, konflik bersenjata antarnegara masih menjadi ancaman besar. Eskalasi militer di berbagai kawasan berpotensi mengguncang stabilitas politik dan pasar keuangan, sekaligus memicu lonjakan harga energi dan komoditas. Risiko geopolitik ini juga memperumit upaya pemulihan ekonomi global yang hingga kini masih belum sepenuhnya solid.
Selain faktor geopolitik, risiko berbasis iklim juga semakin mendapat perhatian. Peristiwa cuaca ekstrem menempati peringkat tinggi dalam daftar kekhawatiran responden. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada rantai pasok pangan, infrastruktur, serta ketahanan ekonomi di banyak negara.
Di sisi sosial, polarisasi masyarakat dan maraknya misinformasi serta disinformasi turut menjadi sumber risiko yang signifikan. Perpecahan sosial yang semakin tajam dinilai dapat memperbesar ketidakpastian politik, melemahkan kepercayaan publik, serta menghambat efektivitas kebijakan pemerintah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan instabilitas yang lebih luas.
Sementara itu, ancaman perlambatan ekonomi global tetap membayangi. Kombinasi suku bunga yang relatif tinggi, beban utang pemerintah yang meningkat, serta lemahnya permintaan di sejumlah kawasan membuat risiko resesi atau stagnasi masih relevan. Tekanan ini semakin terasa di negara-negara berkembang yang lebih rentan terhadap volatilitas arus modal.
Transformasi teknologi juga membawa tantangan tersendiri. Responden menyoroti dampak negatif teknologi kecerdasan buatan, kerentanan keamanan siber, serta meningkatnya ketimpangan sosial sebagai risiko yang tidak bisa diabaikan. Di tengah adopsi teknologi yang semakin cepat, kesiapan regulasi dan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu agar manfaat inovasi dapat dirasakan secara merata.
Selain itu, sejumlah risiko struktural lain turut masuk dalam daftar, seperti utang, potensi pecahnya gelembung aset, kelangkaan sumber daya alam, gangguan infrastruktur vital, hingga migrasi paksa. Meski masing-masing memperoleh porsi lebih kecil dalam survei, akumulasi risiko-risiko tersebut mencerminkan kompleksitas tantangan global yang saling terkait.
Kombinasi berbagai risiko ini menunjukkan bahwa dunia tidak lagi hanya menghadapi tantangan ekonomi semata. Persaingan geopolitik, perubahan iklim, transformasi teknologi, serta tekanan sosial kini berjalan bersamaan dan saling memperkuat. Ketidakpastian semacam ini sering mendorong negara-negara untuk memperkuat kapasitas domestik mereka, termasuk melalui investasi pada riset, inovasi, dan pengembangan industri strategis, sebagai upaya meningkatkan daya tahan terhadap guncangan eksternal.
Dengan begitu banyak tantangan yang hadir secara simultan, 2026 diperkirakan menjadi tahun krusial bagi arah perekonomian dunia. Manajemen risiko yang solid, diplomasi lintas negara yang efektif, serta strategi inovasi jangka panjang akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas global dan menopang pertumbuhan berkelanjutan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)