MARKET DATA
Review Sepekan

Bukan Cuma Emas! Perak Ikut Cetak Rekor Baru, Terbang Tembus 7%

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
24 January 2026 07:25
silver perak
Foto: silver perak

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak hanya harga emas yang kembali mencetak rekor tertinggi barunya, harga perak juga kembali mencetak rekor, ditopang oleh ketegangan Negara Barat dalam beberapa hari terakhir dan prospek penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

Merujuk Refinitiv, harga perak di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (23/1/2026) ditutup di posisi US$102,95 per troy ons, melonjak 7,04% dari perdagangan sehari sebelumnya. Selama sepekan terakhir, harga perak melejit 14,46% secara point-to-point (ptp).

Dengan ini, maka harga perak menyentuh rekor tertinggi sepanjang masanya (all time high/ATH).

Sama seperti emas, harga perak yang mencetak rekor terjadi karena adanya ketegangan Negara Barat dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, investor juga cenderung mencari aset alternatif dari emas, meski perak bukan menjadi aset safe haven.

"Perak memiliki narasi fundamental yang jauh lebih menarik daripada emas, mungkin bukan aset cadangan seperti emas, tetapi tetap mendapat manfaat dari aliran dana safe-haven, dan pelemahan dolar," ujar Nikos Tzabouras, analis pasar senior di Tradu, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/1/2026).

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, di mana kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.

Namun, detail kesepakatan tersebut masih belum jelas dan Denmark bersikeras bahwa kedaulatannya atas pulau itu tidak dapat didiskusikan.

Ketegangan yang terjadi akibat huru-hara Venezuela hingga pencaplokan Greenland sudah terjadi sejak awal Januari lalu, tepatnya 6 Januari 2026. Ketegangan ini membuat para investor tak hanya kembali melirik emas, juga mereka melirik perak.

Dari segi data, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat pada November dan Oktober 2025, menunjukkan pertumbuhan yang kuat selama tiga kuartal berturut-turut.

Pasar mengantisipasi The Fed akan menerapkan dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini.

Perak dan logam saudaranya, emas, cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga lebih rendah. Artinya, ekspektasi penurunan suku bunga ditambah dengan penyelidikan terhadap Powell dan The Fed telah membantu mendorong harga logam baik emas maupun perak.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)



Most Popular