Kabar Damai Trump Tak Digubris, Bitcoin Cs Tetap Kebakaran
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto menutup perdagangan pekan ini dengan nada yang cenderung lesu pada Jumat (23/01/2026). Bitcoin (BTC) dan mayoritas aset berkapitalisasi besar masih tertahan di zona merah, gagal memanfaatkan serangkaian berita positif yang muncul dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.
Meskipun ketegangan geopolitik mereda pasca pidato Presiden AS Donald Trump, sentimen pasar aset berisiko justru terbebani oleh faktor teknikal pasar (arus keluar ETF) dan dinamika pasar obligasi global.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai anomali pasar hari ini.
Bitcoin dan Ethereum Masih Tertekan
Mengacu pada data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $89.516, turun tipis -0.41% dalam 24 jam terakhir. Secara mingguan, Bitcoin telah kehilangan valuasi sebesar -6.23%, menandakan fase koreksi yang belum berakhir.
Kondisi lebih berat dialami oleh Ethereum (ETH) yang turun -2.00% hari ini ke level $2.953. Penurunan mingguan Ethereum mencapai -10.67%, mempertegas tren underperformance aset ini dibandingkan Bitcoin. Di sisi lain, Tron (TRX) dan Bitcoin Cash (BCH) tampil sebagai pengecualian positif (outliers), masing-masing mencatatkan kenaikan harian +2.41% dan +1.97%.
Paradoks Geopolitik dan Kebijakan BOJ
Pasar kripto tampaknya mengabaikan sentimen positif dari Davos. Presiden Trump mengindikasikan pembentukan "Board of Peace" dan tercapainya titik tengah kesepakatan antara AS dan Uni Eropa terkait isu Greenland. Biasanya, penurunan tensi geopolitik memicu sentimen risk-on, namun kali ini pasar lebih fokus pada data makroekonomi.
Dari Asia, Bank of Japan (BOJ) diproyeksikan menahan suku bunga acuan di level 0,75% pagi ini. Keputusan ini didukung oleh data inflasi Jepang yang melemah ke angka 2,1% (YoY), lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,7%.
Meskipun inflasi melandai, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun (JP10Y) justru melonjak signifikan ke level 2,236%. Kenaikan yield obligasi ini menyedot likuiditas dari pasar aset berisiko, menjadi salah satu alasan mengapa kripto sulit reli.
Saylor Beli $2 Miliar, Walaupun ETF Mengalami Outflow
Dukungan fundamental sebenarnya datang dari Michael Saylor dan MicroStrategy yang baru saja menambah kepemilikan Bitcoin senilai US$ 2 Miliar. Aksi korporasi ini menaikkan harga rata-rata pembelian mereka ke level $75.980.
Namun, aksi beli tunggal ini tertutup oleh besarnya tekanan jual dari arus keluar (outflow) ETF Bitcoin Spot. Analis pasar memperingatkan bahwa downside risk masih mengintai.
Jika penarikan dana ETF berlanjut dan imbal hasil obligasi terus naik, Bitcoin berisiko tergelincir kembali ke level terendah minggu ini. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu gelombang likuidasi berantai yang mengubah koreksi kecil menjadi penurunan tajam.
Foto: Bitcoin Reserve Michael Saylor 23 Januari 2026 |
Outlook: Volatilitas Jelang FOMC
Anthony Scaramucci, pendiri SkyBridge Capital, dalam wawancaranya di Davos menyatakan harapannya agar Bitcoin dapat kembali ke kisaran $125.000 - $150.000. Namun, ia juga memperingatkan volatilitas tinggi dengan menyebut aset ini "melakukan apa saja yang ia inginkan" (it does whatever it wants).
Kewaspadaan investor kini beralih ke pertemuan The Fed (FOMC) yang akan digelar pekan depan (Kamis dini hari waktu Indonesia).
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga AS di tengah data ekonomi yang beragam membuat investor cenderung mengambil posisi defensif (wait and see), yang berpotensi menahan laju pemulihan harga kripto dalam jangka pendek.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Foto: Bitcoin Reserve Michael Saylor 23 Januari 2026