MARKET DATA
Newsletter

Amukan Trump Mereda, Sanggupkah IHSG Bangkit Hari Ini?

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
23 January 2026 06:28
ilustrasi trading
Foto: Presiden AS Donald Trump memberi isyarat ke arah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, saat mereka mengikuti pengumuman piagam untuk inisiatif Dewan Perdamaian yang bertujuan menyelesaikan konflik global, bersamaan dengan Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56, di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (Tangkapan Layar Youtube/The White House)
  • Pasar keuangan bergerak beragam, bursa saham melemah tetapi sebaliknya rupiah mulai membaik
  • Wall Street pesta pora dengan kompak menguat
  • Pertemuan Davos, uang beredar hingga data ekonomi AS akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi jeblok, obligasi juga masih dijual investor, tetapi rupiah sudah mulai menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan berat karena banyaknya tekanan global. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.

IHSG pada penutupan perdagangan Kamis kemarin (22/1/2026) terkoreksi 0,2% atau 18,15 poin ke level 8.992,18. Padahal, pada sesi pertama, IHSG sempat menguat sampai 1% lebih.


Sebanyak 360 saham naik, 353 turun, dan 245 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 37,94 triliun, melibatkan 68,58 miliar saham dalam 3,99 juta kali transaksi.

Tercatat ada tiga saham yang kena tekanan jual besar. Bumi Resources (BUMI), saham yang paling banyak ditransaksikan kemarin terkena net sell Rp 1,01 triliun. BUMI tercatat anjlok 9,8% ke level 348. Mengutip Refinitiv, BUMI menjadi pemberat utama indeks kemarin dengan bobot 9,86 indeks poin.

Selain itu, emiten Prajogo Pangestu, yakni Petrosea (PTRO) yang turun 12,9% ke level 10.775 terkena net sell Rp 242,6 miliar. PTRO juga membebani indeks secara signifikan dengan bobot 9,96 indeks poin.

Lalu emiten Bakrie lainnya, Darma Henwa (DEWA) membukukan net sell Rp 266,1 miliar dan turun 9,5% ke level 665. Dewa menyeret IHSG turun dengan bobot 4,4 indeks poin.

Sementara itu, modal asing kembali mengalir keluar sampai Rp964, 14 miliar. di pasar reguler. Bank Central Asia (BBCA) kembali menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, yakni Rp 613,7 miliar.

Kemudian diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) Rp 170,6 miliar dan Petrosea (PTRO) Rp 161,7 miliar.

Adapun berbeda dengan IHSG, rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin.

Merujuk data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.880/US$ atau menguat 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebagai catatan, pada perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah juga ditutup menguat 0,09% di level Rp16.930/US$.

Rupiah sejatinya sudah menguat sejak pembukaan pagi hari kemarin, dengan apresiasi 0,18% di posisi Rp16.900/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.920-Rp16.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB kemarin terpantau relatif stabil di level 98,769, tidak jauh berbeda dari penutupan sebelumnya di 98,761.


Penguatan rupiah terjadi seiring respons lanjutan pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan kemarin, Rabu (21/1/2026). Dengan keputusan ini, BI tercatat sudah empat kali beruntun mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sejak September 2025.

Keputusan tersebut dinilai membantu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah, sehingga menopang stabilitas nilai tukar di tengah tekanan yang sempat membayangi rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Dari sisi eksternal, sentimen pasar global cenderung lebih tenang setelah Presiden AS Donald Trump meredakan tensi kebijakan dengan menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan mengambil Greenland dengan kekuatan.

Pernyataan ini mendorong minat terhadap aset berisiko seperti saham, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas mulai berkurang.

Kondisi risk-on tersebut umumnya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil. Meski demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati karena arah kebijakan AS dinilai masih bisa berubah cepat.

Sementara itu, dari pasar obligasi terpantau masih terjadi aksi jual lagi, tercermin dari yield obligasi acuan RI tenor 10 tahun (ID10Y) yang mengalami kenaikan.

Melansir data Refinitiv, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada penutupan kemarin Kamis mengalami kenaikan 0,38 basis poin menjadi 6,36%.

Perlu dipahami, yield dan harga pada surat utang itu geraknya berlawanan arah. Jadi, ketika yield naik lagi, artinya harga terkoreksi yang mengindikasikan sedang banyak aksi jual.


 

Pasar Amerika Serikat (AS) Wall Street, lagi-lagi kompak mencatatkan penguatan pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Lonjakan ini sebagai respon atas pencabutan ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland.
Pada penutupan perdagangan Kamis (22/1/2026), Dow Jones menguat 0,63% di level 49.384,01. Kemudian S&P 500 terapresiasi 0,55% di level 6.913,35, dan Nasdaq naik 0,91% di level 23.436,02.

Wall Street melesat pada Kamis setelah Presiden AS Donald Trump menolak untuk merebut Greenland dengan kekerasan dan mencabut ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa.

"Saya tidak perlu menggunakan kekerasan, saya tidak ingin menggunakan kekerasan, saya tidak akan menggunakan kekerasan," ujar Trump di Davos tentang pengamanan Greenland, menambahkan bahwa ia tidak akan memberlakukan tarif impor 10% yang telah diancamnya pada barang-barang dari delapan sekutu Eropa.

Pada hari Kamis, ia menindaklanjutinya dengan mengatakan bahwa ia telah mengamankan kesepakatan dengan aliansi militer NATO yang menghasilkan akses AS yang lengkap dan permanen ke Greenland. "Pada dasarnya ini adalah akses total," ujar Trump kepada Fox Business Network dalam sebuah wawancara.

"Pelajaran dari tahun lalu adalah bahwa pasar sebenarnya mampu mengabaikan hal ini (volatilitas yang dipicu oleh berita geopolitik)," ujar Michael Metcalfe dari State Street, menambahkan bahwa pemotongan suku bunga AS dan fundamental ekonomi seharusnya mulai mendominasi fokus lagi.

Data yang diterbitkan sebelum pembukaan Wall Street menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan permohonan baru untuk tunjangan pengangguran meningkat kurang dari yang diperkirakan minggu lalu, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja mempertahankan laju pertumbuhan pekerjaan yang stabil pada bulan Januari.

Sementara itu, Indeks VIX .VIX, yang dijuluki sebagai pengukur ketakutan Wall Street, telah jatuh tajam karena obligasi pemerintah AS, di mana aksi jual telah mendorong imbal hasil obligasi acuan 10 tahun ke level tertinggi sejak Agustus, juga mengalami kenaikan.

Sentimen pasar keuangan pada akhir pekan ini masih cenderung hati-hati, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan perdagangan AS, serta data ketenagakerjaan AS.

Fokus utama pasar akan tertuju pada perkembangan di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, yang menjadi panggung utama diplomasi ekonomi dan geopolitik global.

Meski begitu, nada positif sudah mulai berhembus setelah tarif AS-Eropa dibatalkan, ditambah Presiden Prabowo cukup pede berpidato di Davos membahas Makan Bergizi Gratis (MBG) sampai Danantara.

Berikut kami ulas beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pasar akhir pekan ini:

Meredanya Risiko Perang Dagang AS-Eropa

Salah satu katalis positif datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang menangguhkan rencana penerapan tarif impor baru sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa. Tarif tersebut semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026, dengan potensi kenaikan hingga 25% pada pertengahan tahun.

Penangguhan tarif ini diumumkan setelah adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan antara AS dan NATO, khususnya terkait isu Greenland, dalam diskusi Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di  Davos.

 

Trump menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kerangka kesepakatan masa depan mengenai Greenland yang dinilai akan menguntungkan AS dan seluruh anggota NATO. Atas dasar pemahaman tersebut, AS memutuskan untuk tidak memberlakukan tarif yang sebelumnya direncanakan.

Adapun delapan negara Eropa yang semula menjadi target tarif adalah Prancis, Jerman, Inggris, Denmark, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia. Sebelumnya, ancaman tarif ini sempat memicu rencana pertemuan darurat Uni Eropa serta diskusi terkait langkah pembalasan.

Di World Economic Forum (WEF), Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, meskipun tetap menyatakan kepentingan strategis atas wilayah tersebut. Pernyataan ini dipandang pasar sebagai pergeseran sikap yang lebih moderat, sehingga membantu menurunkan premi risiko geopolitik dalam jangka pendek.

Data Tenaga Kerja AS: Solid, tapi Mulai Kehilangan Momentum

Dari sisi makroekonomi, data terbaru tenaga kerja AS menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif tangguh, meskipun mulai memperlihatkan tanda-tanda perlambatan.

Berdasarkan rilis Departemen Tenaga Kerja AS yang dikutip Reuters, klaim awal tunjangan pengangguran naik tipis 1.000 menjadi 200.000 (seasonally adjusted) untuk pekan yang berakhir 17 Januari. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi konsensus 210.000, menandakan laju PHK masih terkendali.

Namun demikian, volatilitas data dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi oleh faktor musiman akhir tahun. Lebih jauh, pasar mulai mengantisipasi hasil revisi patokan tahunan data ketenagakerjaan oleh BLS, yang dijadwalkan rilis bersamaan dengan laporan tenaga kerja Januari bulan depan.

BLS sebelumnya mengindikasikan bahwa sekitar 911.000 lapangan kerja lebih sedikit tercipta dalam periode 12 bulan hingga Maret 2025 dibandingkan laporan awal, yang mengonfirmasi bahwa momentum penciptaan kerja AS telah melemah sejak 2024.

Kombinasi data klaim pengangguran yang solid namun revisi payroll yang negatif membuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed tetap terbuka, tetapi tidak agresif. Ini menjaga yield obligasi AS relatif stabil dan membatasi penguatan dolar secara berlebihan.

Presiden Prabowo di WEF 2026

Perhatian juga tertuju pada pidato Presiden Prabowo Subianto di WEF 2026. Kehadiran Indonesia di Davos memperkuat persepsi bahwa pemerintah berupaya memposisikan Indonesia sebagai mitra strategis global, terutama di bidang investasi, energi, dan rantai pasok.

Beberapa hal disampaikan Prabowo seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Danantara, sampai kredibilitas Indonesia yang Ia nilai tidak pernah sekalipun 'gagal bayar' dalam pembayaran utang.

Prabowo menegaskan bahwa rezim kepemerintahan yang berganti selalu sukses membayar utang pemerintahan sebelumnya dengan tepat waktu.

"Presiden yang sukses akan selalu menghormati utang administrasi sebelumnya," ungkap Prabowo.

Kemudian dalam hal MBG, Prabowo menjelaskan program tersebut memiliki dua manfaat utama, yaitu meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak sekaligus menggerakkan perekonomian.

Menurut Prabowo, sebanyak lebih dari 61 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi kini menjadi bagian dari rantai pasok MBG.

"Kami menciptakan lebih dari 600 ribu lapangan kerja hanya di dapur-dapur tersebut. Pada puncaknya, kami optimistis akan mencapai 1,5 juta lapangan kerja langsung," ujar Prabowo.

Menurut kepala negara, jumlah itu akan kian bertambah seiring keterlibatan vendor dan pemasok MBG. Jumlah lapangan kerja yang tercipta akan ada lebih dari satu juta.

"Itulah mengapa saya yakin pertumbuhan kita akan mencapai angka yang mengesankan. Kebijakan sosial kita harus meningkatkan produktivitas dan menghasilkan pertumbuhan," kata Prabowo.

Pasar Mulai Antisipasi Aturan Baru dan Rebalancing MSCI

Sentimen lain yang juga berpotensi memberi tekanan ke pasar adalah meningkatnya risiko arus dana asing keluar (foreign outflow) apabila MSCI benar-benar menerapkan formula baru perhitungan free float untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia dalam indeks mereka.

Dalam skema terbaru ini, MSCI tidak lagi hanya melihat kepemilikan publik secara administratif, tetapi juga memperhitungkan kualitas likuiditas dan aksesibilitas saham di pasar.

Saham dengan porsi kepemilikan pengendali yang besar, likuiditas rendah, atau kepemilikan publik yang dinilai tidak benar-benar tradable berisiko mengalami penurunan free float adjustment factor.

Dampaknya, bobot saham Indonesia di indeks MSCI dapat tertekan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar namun dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.

Penyesuaian bobot ini berpotensi memicu penjualan teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI, sehingga memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

Selain itu, sejumlah saham yang mengalami tekanan penjualan beberapa hari ini dinilai ada kaitan-nya dengan rebalancing MSCI edisi Februari mendatang.

Walaupun aturan baru perhitungan free float belum secara resmi diberlakukan, pasar cenderung bergerak lebih dulu dengan mengantisipasi skenario terburuk.

Ekspektasi tersebut membuat pasar mulai "kembali ke realita", bahwa tidak semua saham berkapitalisasi besar secara otomatis layak masuk atau bertahan di indeks populer seperti MSCI, terutama jika struktur kepemilikan, likuiditas, dan investability-nya dinilai kurang memadai.

Akibatnya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuation premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.

 Uang Beredar (M2) Desember, Cerminan Konsumsi RI

Bank Indonesia akan merilis data uang beredar (M2) untuk Desember pada hari ini Jumat (23/1/2026). Laporan ini akan menggambarkan seberapa kencang belanja masyarakat sepanjang Desember yang biasanya menjadi sala satu puncak dari konsumsi. Data Desember juga akan mencerminkan laju kredit perbankan Indonesia.

Seperti diketahui, uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2025 tumbuh sebesar 8,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai angka Rp 9.891,60 triliun. Pertumbuhan ini mengalami akselerasi (percepatan) dibandingkan bulan Oktober yang tercatat sebesar 7,7%.

Angka Rp 9.891,60 triliun tersebut sekaligus mencatatkan rekor nominal tertinggi sepanjang masa (all-time high) dalam sejarah pencatatan uang beredar di Indonesia.

Sebagai perbandingan, rata-rata uang beredar M2 dari tahun 1980 hingga 2025 berada di kisaran Rp 2.241 triliun, yang menunjukkan betapa besarnya skala ekonomi Indonesia saat ini.

Akselerasi pertumbuhan M2 ini memberikan sinyal bahwa likuiditas di dalam sistem perekonomian sangat melimpah (ample liquidity).

Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan pertumbuhan kredit (poin 10) dan pola musiman akhir tahun di mana belanja pemerintah (ekspansi fiskal) serta konsumsi masyarakat cenderung meningkat.

Bagi pasar saham dan obligasi, data ini adalah sentimen positif karena menunjukkan bahwa "bahan bakar" untuk aktivitas ekonomi tersedia cukup banyak, sehingga risiko kekeringan likuiditas di perbankan relatif minim.

Inflasi PCE Stagnan, Klaim Pengangguran

Indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures) Amerika Serikat naik 0,2% secara bulanan (month-to-month) pada November 2025, sama seperti Oktober dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Harga barang naik 0,2%, berbalik arah dari penurunan 0,1% pada Oktober. Sementara itu, harga jasa meningkat lebih lambat sebesar 0,2%, dibandingkan kenaikan 0,3% pada Oktober.

Core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi juga naik 0,2%, sama seperti September dan sesuai dengan perkiraan pasar.

Secara terpisah, harga pangan stagnan, sementara biaya energi (barang dan jasa) melonjak 1,9%, setelah sebelumnya naik 0,7%.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi PCE utama meningkat menjadi 2,8% dari 2,7%, sesuai ekspektasi.

Inflasi Core PCE AS naik ke 2,8% pada November 2025, dari 2,7% pada Oktober dan sesuai dengan proyeksi pasar. Angka ini masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.

Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) di AS naik tipis 1.000 menjadi 200.000 pada pekan yang berakhir 17 Januari. Angka ini tetap berada jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan lonjakan ke 212.000.

Sementara itu, klaim berkelanjutan (continuing claims) turun 26.000 menjadi 1.849.000, masih di bawah rata-rata paruh kedua tahun lalu, namun tetap lebih tinggi dibandingkan level pasca-guncangan pandemi.

Data ini memperpanjang tren pasar tenaga kerja dengan tingkat PHK rendah dan perekrutan yang juga terbatas, tanpa menunjukkan pendinginan lanjutan sejak perlambatan signifikan pada kuartal IV 2025.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Fed Balance Sheet untuk periode yang berakhir 21 Januari 2026

  • Inflasi Jepang

  • Laporan uang beredar M2 Bank Indonesia (BI)

  • Dskusi interaktif dengan direksi Perum Bulog di Bulog Business District, Jakarta Selatan.

    Komisi XI DPR melaksanakan fit and proper test calon deputi gubernur Bank Indonesia di ruang rapat Komisi XI DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

  • Media briefing Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri di Aula Kantin Diplomasi, Kemenlu, Jakarta Pusat. 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Public Expose BELL dan POLA

Berikut untuk indikator ekonomi RI :


 

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 


(saw/saw) Next Article IHSG Dibayangi Aksi Profit Taking, Rupiah Hadapi Gempuran Data Amerika


Most Popular
Features