Tembus US$4.700, Tak Ada yang Sanggup Hentikan Kegilaan Harga Emas
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terus meroket dan menembus level tertinggi baru sepanjang masa. Ketegangan geopolitik yang terus meningkat, mendorong permintaan aset safe-haven semakin agresif.
Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), harga emas dunia naik 1,93% di level US$4.760,02 per troy ons. Pada perdagangan intraday, harga emas sempat melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di US$4.766,06 per troy ons.
Penutupan kemarin menjadi yang tertinggi sepanjang masa dan membawa emas ke level penutupan baru yakni US$ 4.700 per troy ons. Penguatan kemarin juga memperpanjang tren positif emas dengan menguat 2,6% dalam dua hari beruntun.
Pada perdagangan hari ini Rabu (21/1/2026) hingga pukul 06.37 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,1% di posisi US$4.758,49 per troy ons.
Harga emas naik ke rekor tertinggi baru pada perdagangan Selasa, melampaui tonggak sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya di angka US$4.700 per troy ons karena meningkatnya ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan aset safe-haven.
"Emas telah melonjak lebih tinggi ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya karena investor melakukan lindung nilai terhadap meningkatnya risiko politik," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
"Melemahnya dolar memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia, memperkuat reli emas pada saat kepercayaan terhadap aset AS tampaknya goyah."
Harga emas menguat ditopang oleh ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump terhadap Eropa terkait kendali atas Greenland.
Pernyataan tersebut telah meningkatkan ketegangan menjelang pertemuan Trump yang diperkirakan akan berlangsung dengan para pemimpin bisnis global di Davos, Swiss, pada Rabu.
Indeks dolar ambruk 0,75% ke 98,64 pada perdagangan kemarin. Penurunan ini adalah yang terdalam sejak Agustus 2025. Pelemahan dolar ini membuat emas yang dihargai dolar AS lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri.
Emas, yang dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman selama ketidakstabilan ekonomi dan politik, melonjak 64% pada tahun 2025 dan telah bertambah 9,5% sejak awal tahun. Reli logam mulia ini juga didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga AS, yang mengurangi biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Pasar memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mulai pertengahan 2026, sementara fokus meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Trump dapat menunjuk ketua The Federal Reserve baru paling cepat minggu depan.
"US$4.800 dan US$4.900 per troy ons adalah titik acuan yang jelas berikutnya untuk emas, dengan level kunci US$5.000 per troy ons menonjol sebagai target psikologis jangka panjang," tambah Razaqzada.
Berbeda dengan harga emas yang justru mencatatkan kenaikan tajam dan pecah rekor baru, harga perak justru mulai loyo dan tak bertenaga.
Harga perak (XAG) di pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), turun 0,12% di level US$94,57 per troy ons. Pada perdagangan intraday, harga perak sempat menyentuh level tertinggi US$95,87 per troy ons, sebelum akhirnya ditutup lebih rendah.
Sementara pada perdagangan hari ini Rabu (21/1/2026) hingga pukul 06.35 WIB, harga perak di pasar spot melemah 0,21% di level US$94,37 per troy ons.
Logam putih ini naik sekitar 147% pada tahun 2025 dan telah naik lebih dari 34% sejak awal tahun 2026.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw) Next Article May Day! May Day! Harga Emas Terjun 3%, Tenggelam ke Level US$3.900