MARKET DATA
Sentimen Pekan Depan

Sentimen Pasar Pekan Depan: Harap-Harap Cemas Kabar AS, China & Jepang

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
18 January 2026 10:58
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (ketiga kiri) saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (ketiga kiri) saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan Januari 2025 dengan Cakupan Triwulanan pada Rabu (15/1/2025). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ketiga Januari 2026 akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi arah pasar keuangan global maupun domestik. Investor dihadapkan pada jadwal rilis data ekonomi yang high impact news.

Datang dari tiga kekuatan ekonomi utama dunia: Amerika Serikat, China, dan Jepang, serta keputusan kebijakan moneter dari dalam negeri.

Pasar saat ini sedang mencerna divergensi (perbedaan arah) ekonomi yang semakin tajam. Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengejutkan, sementara China masih bergelut dengan risiko perlambatan struktural.

Di sisi lain, Jepang mulai keluar dari era suku bunga rendah, dan Indonesia memilih langkah pragmatis untuk menjaga stabilitas.

Berikut adalah rangkuman 10 sentimen utama dan analisis mendalam mengenai dampaknya bagi pasar pada pekan depan (19-23 Januari 2026):

Bank Indonesia Diproyeksikan Pertahankan BI Rate 4,75%

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Di tengah ketidakpastian global (China melambat, AS kuat), Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan Rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.

Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat Dolar AS masih kuat, Rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat Rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.

Keputusan menahan suku bunga ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar serta tetap memperkuat Rupiah di tengah proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Sektor perbankan mungkin akan tetap menikmati marjin bunga bersih (NIM) yang stabil, namun sektor riil yang sensitif terhadap bunga (seperti properti dan otomotif) mungkin belum akan melihat lonjakan permintaan yang signifikan dalam waktu dekat.

China Rilis PDB: Menguji Fondasi Ekonomi di Tengah Tren Perlambatan

Fokus utama pasar pada pembukaan pekan, Senin (19/1), akan tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) China. Sentimen pasar cenderung berhati-hati mengingat tren perlambatan yang terjadi pada kuartal sebelumnya.

Sebagai catatan, pada Kuartal III-2025, ekonomi China hanya tumbuh 4,8% secara tahunan yoy), melambat dari 5,2% pada kuartal sebelumnya.

Angka 4,8% tersebut merupakan laju pertumbuhan terlambat sejak tahun sebelumnya. Tekanan datang dari berbagai sisi: ketegangan dagang yang berlanjut dengan Amerika Serikat, krisis di sektor properti yang belum tuntas, serta permintaan konsumen yang melunak.

Biro Statistik Nasional China sendiri telah memberikan peringatan bahwa fondasi pemulihan ekonomi masih rapuh, meskipun target pertumbuhan tahunan sekitar 5% masih mungkin tercapai.

Jika realisasi PDB Kuartal IV yang dirilis pekan depan berada di bawah ekspektasi pasar (di bawah 4,8%), hal ini akan mengonfirmasi bahwa ekonomi China sedang mengalami hard landing.

Bagi Indonesia, ini adalah sinyal waspada, mengingat China adalah mitra dagang utama. Perlambatan ekonomi China berpotensi menekan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti batu bara dan nikel.

Sinyal Bahaya dari Penjualan Ritel China yang Terus Melemah

Selain data PDB, indikator konsumsi rumah tangga China juga menjadi sorotan tajam. Data terakhir menunjukkan penjualan ritel pada November 2025 hanya tumbuh 1,3% (yoy).

Angka ini jauh di bawah estimasi pasar sebesar 2,9% dan merupakan pertumbuhan paling lambat sejak akhir 2022, saat negara tersebut masih bergulat dengan pembatasan pandemi.

Rincian data memperlihatkan pelemahan yang meluas. Penjualan barang-barang sekunder seperti kosmetik, pakaian, dan perhiasan merosot tajam.

Yang lebih mengkhawatirkan, sektor-sektor yang berkaitan dengan properti seperti bahan bangunan (-17,0%) dan peralatan rumah tangga (-19,4%) mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif yang dalam.

Subsidi konsumen yang digelontorkan Beijing tampaknya belum cukup ampuh untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Lemahnya data ritel ini menunjukkan adanya risiko deflasi di China. Bagi investor global, ini adalah tanda bahwa mesin pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia sedang macet.

Hal ini dapat memicu sentimen risk-off di pasar saham Asia, di mana investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS atau Emas.

Bank Sentral China (PBoC) Diprediksi Tahan Suku Bunga

Di tengah data ekonomi yang lesu, pelaku pasar menanti langkah Bank Sentral China (PBoC) dalam pengumuman suku bunga pinjaman acuan (Loan Prime Rate/LPR) pada hari Selasa.

Konsensus pasar memperkirakan PBoC akan mempertahankan LPR 1 tahun di level 3,0% dan LPR 5 tahun di level 3,5%. Sikap PBoC yang cenderung menahan diri ini didasari oleh pertimbangan stabilitas nilai tukar Yuan dan margin perbankan.

Meskipun ekonomi membutuhkan stimulus, bank sentral tampaknya menilai bahwa pemangkasan suku bunga yang terlalu agresif justru dapat memicu arus keluar modal (capital outflow) dan memperlemah mata uang mereka lebih lanjut.

PBoC sebelumnya telah menahan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah, yang menjadi sinyal kuat bahwa LPR juga tidak akan berubah.

Keputusan untuk menahan suku bunga mungkin akan direspons negatif oleh pasar saham China dan Hong Kong yang mengharapkan stimulus lebih besar.

Kekecewaan ini bisa merembet ke pasar regional, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena investor asing mungkin akan mengurangi bobot investasi di Asia Emerging Markets.

Inflasi Jepang Bertahan di Atas Target 2%

Jepang menghadapi dinamika inflasi yang unik. Inflasi umum tercatat 2,9% pada November 2025, sedikit turun dari bulan sebelumnya. Namun, inflasi inti (Core Inflation) bertahan kokoh di level 3,0%.

Ini berarti inflasi di Jepang telah berada di atas target bank sentral selama 44 bulan berturut-turut.

Kenaikan harga terjadi pada sektor utilitas (listrik dan gas) serta barang-barang kebutuhan sehari-hari. Berbeda dengan masa lalu di mana Jepang bergulat dengan deflasi, kini tekanan harga menjadi permanen, didorong oleh kenaikan upah dan biaya impor.

Data inflasi yang persisten ini memperkuat argumen bagi Bank of Japan (BoJ) untuk segera melakukan normalisasi kebijakan. Pasar kini berspekulasi bahwa era suku bunga ultra-rendah di Jepang benar-benar akan berakhir, yang akan mengubah peta arus dana global.

Ekonomi AS Tumbuh 4,3%, The Fed Sulit Pangkas Bunga

Sentimen yang paling membingungkan pasar saat ini datang dari Amerika Serikat. Alih-alih melambat akibat suku bunga tinggi, ekonomi AS justru tumbuh 4,3% (annualized) pada Kuartal III-2025. Angka ini jauh melampaui kuartal sebelumnya (3,8%) dan estimasi awal pasar.

Motor penggerak utamanya adalah konsumsi masyarakat yang sangat kuat, tumbuh 3,5%, terutama pada sektor jasa kesehatan dan pariwisata.

Ekspor AS juga melonjak 8,8%. Data ini menggambarkan kondisi ekonomi yang "panas", yang bertolak belakang dengan kondisi di Eropa atau China.

Pertumbuhan ekonomi AS yang terlalu kuat ini menjadi "berita buruk" bagi pasar keuangan negara berkembang.

Mengapa? Karena data yang kuat memberikan alasan bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk menunda pemangkasan suku bunga atau mempertahankannya di level tinggi (higher for longer). Hal ini berpotensi menjaga Dolar AS (DXY) tetap perkasa dan menekan mata uang Rupiah.

Inflasi PCE AS Stabil, Namun Belum Mencapai Target

Meskipun pertumbuhan ekonomi AS melonjak, data inflasi Core PCE (Personal Consumption Expenditures)-yang menjadi acuan utama The Fed-masih terkendali.

Pada bulan September 2025, inflasi inti tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan.

Angka 2,8% ini menunjukkan bahwa tren disinflasi (penurunan laju inflasi) masih berjalan, namun kecepatannya melambat dan belum menyentuh target 2%.

Stabilitas ini memberikan sedikit ruang napas bagi The Fed, namun belum cukup meyakinkan untuk segera melonggarkan kebijakan moneter secara agresif.

Pasar obligasi AS (US Treasury) akan sangat sensitif terhadap data ini. Jika inflasi tetap membandel di angka 2,8%, imbal hasil (yield) obligasi AS kemungkinan akan tetap tinggi, yang pada gilirannya akan menjaga biaya pinjaman global tetap mahal.

Bank of Japan (BoJ) Siap Naikkan Suku Bunga Lagi

Risalah pertemuan dan opini para pejabat Bank of Japan menunjukkan konsensus yang semakin bulat (hawkish) yaitu kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan.

Dengan suku bunga kebijakan saat ini di level 0,75% (tertinggi sejak 1995), BoJ memberikan sinyal bahwa mereka siap menaikkan bunga lagi untuk menjaga stabilitas harga.

Gubernur BoJ dan dewan gubernur menilai bahwa Jepang telah mencapai siklus kenaikan upah dan harga yang sehat. Mereka juga memperingatkan risiko penundaan kebijakan: jika bunga tidak dinaikkan sekarang, inflasi bisa tidak terkendali di masa depan.

 Rencana kenaikan bunga BoJ adalah salah satu risiko terbesar bagi pasar global tahun ini. Hal ini dapat memicu unwinding Yen Carry Trade (pembalikan arus dana pinjaman Yen), yang bisa menyebabkan gejolak likuiditas di pasar saham global.

Investor perlu mewaspadai potensi volatilitas tinggi pada pasangan mata uang JPY.

Likuiditas Perekonomian Membaik, Uang Beredar (M2)

Kabar positif datang dari indikator moneter domestik. Bank Indonesia melaporkan posisi likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2025 tumbuh sebesar 8,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai angka Rp 9.891,60 triliun. Pertumbuhan ini mengalami akselerasi (percepatan) dibandingkan bulan Oktober yang tercatat sebesar 7,7%.

Angka Rp 9.891,60 triliun tersebut sekaligus mencatatkan rekor nominal tertinggi sepanjang masa (all-time high) dalam sejarah pencatatan uang beredar di Indonesia.

Sebagai perbandingan, rata-rata uang beredar M2 dari tahun 1980 hingga 2025 berada di kisaran Rp 2.241 triliun, yang menunjukkan betapa besarnya skala ekonomi Indonesia saat ini.

Akselerasi pertumbuhan M2 ini memberikan sinyal bahwa likuiditas di dalam sistem perekonomian sangat melimpah (ample liquidity).

Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan pertumbuhan kredit (poin 10) dan pola musiman akhir tahun di mana belanja pemerintah (ekspansi fiskal) serta konsumsi masyarakat cenderung meningkat.

Bagi pasar saham dan obligasi, data ini adalah sentimen positif karena menunjukkan bahwa "bahan bakar" untuk aktivitas ekonomi tersedia cukup banyak, sehingga risiko kekeringan likuiditas di perbankan relatif minim.

(gls/gls)



Most Popular