Dolar AS Babak Belur, Mata Uang Dunia Ramai-ramai Menguat di 2025
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang utama dunia mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang 2025. Pelemahan dolar terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan akibat perang dagang Donald Trump yang membuat ketidakpastian kebijakan perdagangan naik ke level sangat tinggi.
Di saat yang sama, porsi dolar AS yang disimpan dalam cadangan devisa bank sentral global juga turun ke level terendah dalam 20 tahun. Kombinasi faktor tersebut ikut menekan permintaan global terhadap dolar dan mendorong investor melakukan penyeimbangan portofolio ke mata uang lain.
Melansir data dari Visual Capitalist, krona Swedia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS pada 2025, dengan kenaikan 20,2%. Penguatan ini menjadi salah satu performa terbaik krona dalam beberapa dekade.
Dolar AS melemah seiring data ekonomi yang lebih lunak dan perubahan ekspektasi akan kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), sementara investor turut beralih ke mata uang seperti krona karena prospek pertumbuhan Swedia dinilai relatif lebih kuat dan fundamental ekonominya lebih solid.
Di posisi kedua ada peso Meksiko yang menguat 15,6% sepanjang 2025. Capaian ini menjadi tahun terbaik peso sejak 1994, bahkan terjadi di tengah tensi dagang dengan Amerika Serikat. Kenaikan peso turut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap tahan banting serta kondisi makro yang relatif stabil.
Selanjutnya, franc Swiss menguat 14,5%, rand Afrika Selatan naik 13,8%, dan euro menguat 13,5%. Mata uang Eropa lain juga ikut mencatat penguatan besar, seperti krone Denmark yang naik 13,3% dan krone Norwegia 12,9%.
Dari negara berkembang atau emerging market, real Brasil berhasil menguat 12,8% dari greenback yang sekaligus menunjukkan penguatan terhadap dolar tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga merambah negara berkembang.
Di kawasan Asia, nilai tukar dolar Singapura terhadap dolar AS turut mencatatkan penguatan hingga 6,2%. Mata uang ini kerap dipandang sebagai tempat berlindung (safe haven aset) di Asia karena kekuatan institusi serta surplus transaksi berjalan Singapura yang besar, sehingga tetap menarik saat pasar global diliputi ketidakpastian.
Penguatan mata uang-mata uang tersebut memperlihatkan bahwa sepanjang 2025, investor tidak hanya merespon arah kebijakan Amerika Serikat, tetapi juga memilih mata uang dengan fundamental yang dinilai lebih kuat di tengah perubahan lanskap perdagangan global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)