Prabowo Siapkan 6 Proyek Hilirisasi, Deretan Saham Ini Dapat Berkah!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto menyiapkan enam proyek hilirisasi baru. Hal ini tentu akan menguntungkan sejumlah perusahaan, siapa saja mereka?
Presiden Prabowo menyampaikan, dalam beberapa minggu lagi minimal ada enam proyek hilirisasi yang akan mulai dibangun.
"Minimal enam proyek hilirisasi mungkin bisa sampai 11. Nilainya adalah kurang lebih US$ 6 miliar (setara Rp 101,05 triliun) dan kita akan menerima investasi besar-besaran dari luar, saya perkirakan cukup besar investasi yang akan masuk," terang Prabowo dalam peresmian Kilang Minyak atau RDMP Balikpapan di Kalimantan Timur, dikutip Selasa (13/1/2026).
Oleh karena itu, Prabowo meminta kepada para menteri kabinet untuk menyiapkan pasukan, baik itu manajemen yang bisa menjaga dan mengelola proyek-proyek hilirisasi tersebut.
"Total kita butuh sampai industrialisasi yang benar mungkin rencananya 10 - 15 - 20 tahun tapi kita ingin mempercepat," tegas Prabowo.
Sebelumnya, pada Minggu malam (11/1/2026) di Hambalang, Bogor, Presiden Prabowo mengumpulkan beberapa menteri Kabinet yang salah satunya membahas mengenai enam proyek hilirisasi ini.
"Perkembangan rencana groundbreaking enam titik baru proyek hilirisasi senilai US$ 6 miliar di awal Februari 2026," tulis Sekretaris Kabinet (Seskab) dalam unggahan akun instagram @sekretariat.kabinet, dikutip Selasa (13/1/2026).
Ratas tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani.
Sebelumnya, Rosan mengungkapkan enam proyek strategis hilirisasi yang akan dibangun pada tahun ini. Rencananya proyek ini akan dibangun secara bertahap mulai Januari 2026 ini.
Pembangunan enam proyek itu meliputi untuk pembangunan pengolahan bauksit, bioavtur, pabrik bioetanol, hingga fasilitas budidaya unggas.
"Bauksit, Refinery Alumunium di Mempawah yang saya ingat ya. Kemudian Refinery di Cilacap, kemudian di Banyuwangi. Pokoknya ada lima lah," kata Rosan, di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (8/12/2026)
Rosan menjabarkan enam proyek itu, antara lain:
Seperti diketahui pemerintah mencanangkan 18 proyek hilirisasi baru di tangan Danantara. Proyek itu terdiri dari pembangunan pabrik pengolahan komoditas mineral, kimia, hingga hasil perkebunan.
Di lain sisi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, mengatakan setidaknya ada enam proyek hilirisasi yang akan diresmikan pembangunannya pada bulan ini. Bertahap hingga 18 proyek hingga Februari dan Maret mendatang.
Proyek termasuk dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG).
"Rencananya akan ada di bulan Januari, ada enam groundbreaking dari program hilirisasi," kata Prasetyo, di sela-sela Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa barat, Selasa (6/12/2026).
Dari enam proyek itu ada beberapa emiten yang akan mendapatkan keuntungan. Berikut kami ulas satu per satu:
ANTM
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sangat berpotensi jadi salah satu penerima berkah utama. ANTAM punya cadangan bauksit besar di Kalimantan Barat yang menjadi bahan baku utama untuk produksi alumina.
Selain itu, ANTAM sudah terlibat di projek SGAR (Smelter Grade Alumina Refinery) melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) bersama Inalum, proyek ini merupakan bagian dari hilirisasi bauksit menjadi alumina yang akan menjadi input bagi smelter aluminium. Karena itu, permintaan atas bauksit dari ANTAM seharusnya naik sejalan dengan kebutuhan feedstock bagi proyek SGAR di Mempawah.
ADMR
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) merupakan kandidat lain yang sangat logis mendapat dampak positif. Grup ini tengah membangun smelter aluminium skala besar melalui anak usahanya PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) di Kalimantan.
Proyek ini diproyeksikan mulai berproduksi bertahap dengan kapasitas awal hingga 500.000 ton aluminium ingot per tahun, kemudian naik hingga 1,5 juta ton dalam fase berikutnya, sebuah kapasitas yang signifikan di skala industri. KAI sendiri merupakan hasil kerjasama internal ADMR, termasuk partisipasi modal dari CITA (PT Cita Mineral Investindo Tbk).
PTPP-WIKA-ADHI
Emiten konstruksi BUMN, seperti PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berpotensi diuntungkan dari pembangunan fasilitas bioavtur di Cilacap, bioetanol, hingga proyek smelter dan pengolahan terintegrasi lainnya.
Nilai investasi proyek yang besar membuka peluang kontrak konstruksi, EPC, dan infrastruktur pendukung. Dampaknya biasanya bersifat bertahap, muncul saat kontrak mulai ditandatangani dan proyek masuk fase konstruksi.
JPFA-CPIN
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), kedua emiten ayam-ayaman ini berpotensi menikmati dampak dari pengembangan fasilitas budidaya unggas.
Jika proyek ini meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi rantai pasok unggas nasional, maka emiten poultry berpeluang mendapat stabilitas pasokan dan perbaikan margin. Namun efeknya cenderung tidak instan dan lebih terasa dalam jangka menengah.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)