MARKET DATA

Pegadaian Bongkar 2 Skenario Harga Emas Terbaru, Jangan Salah Langkah!

mae,  CNBC Indonesia
12 January 2026 06:45
emas
Foto: emas

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas ada di persimpangan jalan pada tahun ini setelah pesta pora pada 2025.

Harga emas ditutup di posisi US$4509,79 per ton pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Harganya melonjak 0,77%. Dalam sepekan, harga sang logam mulia melesat 4,16%.

Pada hari ini, Senin (12/1/2025) pukul 06.22 WIB, harga emas melonjak 0,44% ke US$4529,39.

Harga emas sudah terbang 4,5% hanya dalam hitungan sembilan hari di tahun ini.

Harga Emas dalam Ramalan Pegadaian: Lanjut Naik, Konsolidasi, atau Mulai Jenuh?

Setelah reli panjang hampir dua tahun berturut-turut, harga emas memasuki fase krusial pada 2026. Kenaikan tajam yang telah terjadi menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah tren positif masih berlanjut, atau justru pasar butuh jeda?

Sebagai catatan, 2025 akan dikenang sebagai salah satu periode paling liar dalam sejarah pasar emas global. Sang logam mulia bahkan mencetak rekor 50 kali sepanjang 2025. Harga emas juga menguat US$ 1.700 per troy ons atau64% pada 2025, tertinggi sejak 1979.

Bimo Satrio, officer Divisi Gadai/ Analis Emas PT Pegadaian, menjelaskan secara fundamental, pergerakan emas masih sangat ditentukan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta suku bunga riil global.

Menurutnya, emas akan bergerak dalam dua scenario:
Skenario 1: Emas Melanjutkan Tren Positif

Skenario ini akan berjalan jika ekonomi global melambat dan faktor geopolitik makin kencang.
Jika ekonomi global cenderung melambat, tekanan terhadap kebijakan moneter AS akan meningkat. Dalam kondisi ini, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) berpeluang memangkas suku bunga.
Kondisi ini akan berdampak positif ke emas dalam bentuk penurunan suku bunga riil dan melemahnya dolar AS.
Seperti diketahui, pembelian emas global dikonversi dalam dolar AS sehingga melemahnya dolar akan membuat konversi lebih murah yang pada akhirnya meningkatkan pembelian.

"Kalau ekonomi cenderung melambat, The Fed akan menurunkan suku bunga, dampalnya ke suku bunga rill dan dolar juga akan melemah. Pada saat itu, emas punya ruang menguat. Dolar dan ekspektasi pasar akan menjadi driver ke emas," ujar Bimo, kepada CNBC Indonesia.

Skenario emas menguat ini juga bisa ditopang oleh risiko global yang terus meningkat.
"Global risk masih akan terus berkembang. Kita tidak tahu dari mana. Sebagai aset safe haven, permintaan emas masih akan tinggi," imbuh Bimo.

Dia menambahkan kondisi geopolitik di Timur Tengah memang sudah mereda tetapi ketegangan dunia bisa datang dari mana saja. Dalam perkembangan terbaru, misalnya, geopolitik memanas setelah Presiden AS Donald Trump menginvasi Venezuela.

Faktor pendukung lain dari scenario kenaikan harga emas tahun ini datang dari bank sentral dunia. Tren pembelian emas oleh bank sentral belum berhenti. Banyak negara semakin sadar pentingnya emas sebagai alat diversifikasi cadangan devisa dan pelindung nilai jangka panjang. Meski demikian, pembelian ini cenderung bertahap dan terukur, bukan agresif dalam waktu singkat.

"Pembelian bank sentral masih terus meningkat karena banyak negara sadar pentingnya emas dalam diversifikasi portofolio," tutur Bimo.

Skenario 2: Reflasi dan Konsolidasi Harga

Skenario kedua muncul jika ekonomi global justru memasuki fase reflasi di mana pertumbuhan kembali menguat dan inflasi naik.

Situasi ini umumnya muncul akibat intervensi agresif pemerintah dan bank sentral yang bertujuan mendorong permintaan, menghindari deflasi, dan menghidupkan kembali roda ekonomi.

Dalam kondisi ini suku bunga berpotensi ditahan lebih lama, bahkan bisa naik kembali. Kondisi ini akan mengerek harga dolar sehingga emas kehilangan momentum reli.

Pada fase ini, investor mulai melirik aset yang risk on, seperti saham, obligasi, dan cryptocurrency

"Kalau terjadi reflasi, suku bunga akan naik lagi karena inflasi naik lagi, bunga akan dihold dulu. Akibatnya dolar akan naik lagi dan emas akan terkonsolidasi," ujar Bimo.

Merujuk pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) edisi Desember 2025, The Fed hanya memberi sinyal sekali pemangkasan pada tahun ini karena inflasi yang sulit dijinakkan.

Bagaimana dengan Emas Lokal?

Bimo menjelaskan harga emas lokal tentu akan mengikuti harga emas global dan dolar AS. Namun, tingginya permintaan dalam negeri dalam negeri membuat harga terjaga.

"Demand emas masih akan tinggi, baik emas fisik atau Tabungan emas," jelasnya.

Bimo menjelaskan tingginya permintaan emas lokal disebabkan sejumlah faktor mulai dari kesadaran berinvestasi, budaya hingga Fear Of Missing Out (FOMO).

"Akses informasi makin luas sehingga masyarakat mulai aware menjadikan emas sebagai investasi dan pelindung nilai," ujarnya.

Sebagai catatan, pada April 2025 atau masa Lebaran Idul Fitri tahun lalu, demam emas mengguncang Indonesia. Masyarakat bahkan rela antri dari Subuh untuk membeli emas. Fenomena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia.

"Mengapa masyarakat Indonesia sangat getol membeli emas karena secara culture memang kuat seperti di Makassar dan Sumatra. Di sana emas dijadikan alat budaya," tutur Bimo.

Sebagai perbandingan, harga emas yang dijual di Galeri 24 Pegadaian sudah melonjak.
Sebagai contoh, emas Galeri 24 pada 2 Januari 2025 untuk 1 gram dibanderol Rp 1.506.000. Pada Minggu, 11 Januari 2026 harganya sudah tembus Rp2.622.000/gram atau hampir dua kali lipat.

Lalu, apakah harga emas saat ini sudah kemahalan?
"Sebenarnya mahal atau tidaknya relative karena ini harus dilihat lagi terhadap fundamental kondisi makronya," jelas Bimo.

Harga perak ditutup di posisi US$79,95 per ton pada perdagangan Jumat (9/1/2026). Harganya melonjak hampir 4%.

Pada hari ini, Senin (12/1/2025) pukul 06.22 WIB, harga perak makin merajalela dengan terbang 1,3% ke US$80,99 per troy ons.

Harga perak melonjak dipicu buruknya data tenaga kerja AS. Kondisi ini meningkatkan optimisme jika The Fed akan memangkas suku bunga lagi pada bulan ini.

Jumlah non-farm payrolls AS pada Desember hanya bertambah 50.000, lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 60.000, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,4%, di bawah perkiraan 4,5%.

"Data ketenagakerjaan menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja. Potensi meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak yang cenderung lebih tinggi dan bersifat inflasioner, ketidakpastian, serta kebijakan The Fed yang mulai lebih longgar - semuanya menjadi kombinasi positif bagi logam mulia," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.

 Pelaku pasar emas pekan ini menantikan sejumlah data penting mulai dari inflasi Amerika Serikat (AS) pada Selasa hingga data perdagangan China.



Most Popular
Features