MARKET DATA

Gudang Mineral Dunia Bernama Greenland, Pantas Diincar Trump

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
09 January 2026 13:35
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland yang saat ini merupakan wilayah Denmark. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Foto: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland yang saat ini merupakan wilayah Denmark. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, CNBC Indonesia- Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengangkat wacana pengambilalihan Greenland pada awal 2026, reaksi global melihatnya sebagai lanjutan gaya konfrontatif pasca-operasi militer Amerika Serikat di Venezuela.

Namun jika dicermati dari struktur ekonominya, Greenland menyimpan salah satu cadangan mineral strategis terbesar yang pernah terpetakan di belahan bumi utara.

Greenland menyimpan volume logam yang jauh melampaui banyak negara industri mapan, termasuk bahan baku inti untuk teknologi, energi, dan persenjataan modern.

Pemetaan sumber daya Greenland dari GEUS memperlihatkan bahwa rare earth elements (REE) mencapai 36,1 juta ton, zirconium 57,1 juta ton, feldspar 111,5 juta ton, grafit 6 juta ton, niobium 5,9 juta ton, fosfor dan titanium masing-masing 11,5 juta ton, serta silikon metal 2,8 juta ton. Ini bukan komoditas biasa.

REE, niobium, grafit, dan silikon adalah tulang punggung industri semikonduktor, baterai kendaraan listrik, sistem radar, hingga mesin jet. Titanium dan zirconium masuk dalam struktur pesawat tempur, reaktor nuklir, dan kapal selam.

Dalam rantai pasok global hari ini, mayoritas material itu dikendalikan oleh China dan Rusia.

Inilah mekanisme ekonomi yang menjelaskan posisi Greenland dalam strategi Trump. Amerika Serikat berada dalam situasi ketergantungan ekstrem terhadap impor mineral kritis. China menguasai lebih dari 60% pemurnian REE global dan sebagian besar grafit sintetis.



Rusia memegang kendali signifikan atas titanium kelas aerospace. Setiap konflik geopolitik berpotensi langsung memukul produksi jet tempur, rudal, satelit, hingga kendaraan listrik AS. Greenland menawarkan solusi struktural: cadangan dalam jumlah raksasa yang berada di wilayah NATO, dekat dengan basis militer AS, dan di luar pengaruh Beijing maupun Moskow.

Posisi geografis Greenland memperkuat kalkulasi itu. Pulau ini berada di jalur terpendek lintasan rudal balistik Rusia menuju Amerika Utara. Itulah sebabnya Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya bernama Thule, telah menjadi bagian dari sistem pertahanan misil AS sejak Perang Dingin.

Kontrol militer atas Greenland berarti kendali atas radar peringatan dini, ruang udara Arktik, dan jalur laut yang mulai terbuka akibat mencairnya es. Ketika es Arktik menyusut, Greenland berubah dari pulau terpencil menjadi simpul logistik dan pertahanan global.

Namun dimensi yang membuat Trump agresif bukan hanya soal militer.

Jika digabungkan, nilai ekonomis logam Greenland mencapai ratusan miliar dolar. Feldspar 111,5 juta ton menjadi bahan utama kaca, keramik, dan panel surya. REE 36,1 juta ton adalah bahan magnet permanen untuk turbin angin dan kendaraan listrik. Zirkonium 57,1 juta ton penting dalam reaktor nuklir dan pelindung panas.

Grafit 6 juta ton adalah inti baterai lithium-ion. Greenland pada praktiknya adalah gudang bahan mentah untuk transisi energi dan ekonomi digital abad ke-21.

Pernyataan Trump bahwa Amerika "tidak membutuhkan mineral" bertabrakan dengan arsitektur industrinya sendiri. Amerika membutuhkan logam ini untuk mempertahankan produksi F-35, drone tempur, jaringan satelit, dan ekosistem kendaraan listriknya. Dengan Venezuela, Trump membidik minyak.

Dengan Greenland, targetnya jauh lebih struktural, bahan baku seluruh sistem industrinya. Logika ini menjelaskan mengapa setelah operasi militer di Amerika Latin, fokus geopolitik Gedung Putih langsung beralih ke Arktik.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular