Investor Ritel RI Dua Kali Lebih "Berkuasa" dari AS, Ini Risikonya
Jakarta, CNBC Indonesia - Struktur demografi investor di pasar modal global menunjukkan disparitas yang menarik pada 2025.
Berdasarkan data terbaru yang menghimpun persentase partisipasi investor ritel terhadap total order saham di berbagai negara, Indonesia mencatatkan posisi yang strategis.
Investor ritel domestik kini bukan lagi sekadar pelengkap likuiditas, melainkan pilar utama penopang bursa dengan kontribusi mencapai 50%.
Angka ini menandakan bahwa separuh dari aktivitas permintaan dan penawaran di Bursa Efek Indonesia (BEI) digerakkan oleh investor perorangan. Transformasi ini menjadi indikator penting bahwa pasar modal Indonesia telah memiliki kedalaman (market depth) yang cukup kuat untuk menahan gejolak arus modal asing.
Komparasi Global
Data tersebut menyoroti fakta yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan pasar maju. Amerika Serikat, yang sering dianggap sebagai kiblat pasar modal dengan teknologi investasi ritel yang masif, ternyata mencatatkan porsi order ritel yang lebih rendah, yakni sebesar 25%.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah investor ritel di AS sangat besar secara nominal, volume transaksi di Wall Street secara persentase masih didominasi oleh institusi raksasa, dana pensiun, dan algoritma high-frequency trading.
Sebaliknya, pengaruh investor ritel terhadap pembentukan harga harian di Indonesia secara proporsional dua kali lipat lebih besar dibandingkan di AS.
Bahkan jika dibandingkan dengan India-sesama negara emerging market dengan populasi besar-Indonesia masih unggul signifikan. India mencatatkan partisipasi ritel sebesar 27,37%. Data ini mengonfirmasi bahwa ketergantungan BEI terhadap investor domestik perorangan jauh lebih tinggi dibandingkan bursa saham Mumbai.
Spektrum Ekstrem Asia
Dalam peta regional, Indonesia berada di titik keseimbangan yang unik di antara dua spektrum ekstrem.
Di satu sisi, terdapat China dengan dominasi ritel yang luar biasa tinggi mencapai sekitar 90%. Tingginya angka ini kerap diasosiasikan dengan karakter bursa saham China yang memiliki volatilitas tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen spekulatif jangka pendek.
Di sisi lain, Malaysia menunjukkan karakteristik pasar yang sangat institusional. Partisipasi ritel di Negeri Jiran hanya tercatat sebesar 16,9%. Kondisi ini membuat pasar Malaysia cenderung lebih stabil namun mungkin kurang dinamis dalam hal perputaran aset dibandingkan pasar yang didominasi ritel.
Implikasi bagi Stabilitas Pasar Modal
Proporsi 50% di Indonesia merupakan pedang bermata dua yang harus dikelola dengan bijak. Di sisi positif, dominasi ini menciptakan "bantalan" likuiditas. Ketika investor asing melakukan aksi jual (net sell) akibat berbagai faktor internal maupun eksternal.
Dengan ini investor ritel domestik memiliki kapasitas untuk menyerap pasokan saham tersebut, menjaga IHSG dari koreksi tajam dan mampu membendung IHSG naik ke level 8646 pada penutupan di tahun 2025 dengan investor domestik mencapai angka 74%.
Namun, besarnya porsi ritel juga menuntut emiten untuk mengubah strategi komunikasi perusahaan. Transparansi informasi dan edukasi menjadi krusial, mengingat profil risiko investor ritel cenderung berbeda dengan institusi yang memegang aset untuk jangka panjang.
Otoritas bursa dan pemangku kepentingan kini menghadapi tantangan untuk memastikan literasi keuangan investor ritel tumbuh seiring dengan besarnya kontribusi transaksi mereka, guna menjaga stabilitas pasar yang berkelanjutan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)