Demi Perut, Ojol Rela Turun ke Jalan: Berapa Pendapatannya Sehari?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
29 August 2025 15:25
Ilustrasi aturan baru tarif ojek online. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi aturan baru tarif ojek online. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Demonstrasi besar di depan DPR RI pada Kamis (28/8/2025) berujung duka. Seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. Insiden ini terekam jelas, korban terjatuh, Baracuda terus melaju tanpa berhenti, dan suasana ricuh berubah jadi tragedi.

Peristiwa ini menyorot soal kebebasan menyampaikan aspirasi, juga rapuhnya posisi ekonomi para pengemudi ojol. Mereka turun ke jalan karena tekanan hidup sehari-hari. Selama ini, platform ride-hailing menyebut para driver sebagai "mitra", tetapi status itu membuat mereka tidak memiliki jaminan dasar pekerja: upah minimum, jam kerja pasti, hingga tunjangan hari raya (THR).

Berdasarkan rilis Grab, mitra dengan kategori tertinggi "Jawara" bisa meraih pendapatan Rp6,8 juta per bulan dengan bekerja rata-rata 6 jam sehari. Di Bali, misalnya, driver bisa menyelesaikan 486 order dalam 25 hari kerja dengan pendapatan Rp6,83 juta. Sementara di Makassar, 570 order dalam sebulan menghasilkan Rp6,48 juta.

Namun, angka itu tidak menggambarkan keseluruhan. Banyak driver lain yang masuk kategori lebih rendah seperti Ksatria, Pejuang, atau Anggota, dengan pendapatan di bawah Rp4 juta.

Bahkan, survei Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah pekerja di sektor kurir dan ekspedisi 2024 hanya sekitar Rp2,2 juta-Rp3,7 juta per bulan, bergantung wilayah. Bandingkan dengan UMP DKI Jakarta 2025 sebesar Rp5,3 juta, jelas gap kesejahteraan masih menganga.

Tak heran jika tuntutan THR dan perlindungan kerja terus bergema. Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, menegaskan bahwa fleksibilitas kemitraan hanyalah dalih perusahaan untuk menghindari tanggung jawab. "Platform menikmati keuntungan besar, sementara pengemudi terjebak dalam kondisi kerja tidak pasti," ujarnya.

Gelombang protes pun merebak, dari Jakarta hingga Sukabumi, Dumai, Pontianak, dan Pangkal Pinang. Para driver serempak melakukan aksi "off bid", menghentikan order sebagai simbol perlawanan. Tekanan ini menambah kompleksitas hubungan antara negara, perusahaan teknologi, dan pekerja informal.

Kasus di depan DPR menjadi simbol nyata pengemudi ojol, selain menghadapi risiko jalanan setiap hari, juga menghadapi ketidakpastian ekonomi yang melelahkan. Tragedi Affan Kurniawan menuntut refleksi lebih dalam-apakah Indonesia akan terus membiarkan para driver berjuang sendirian, atau mulai merumuskan regulasi yang menjamin kesejahteraan mereka?

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(emb/emb)
Tags

Related Articles

Most Popular
Recommendation