The Inspiring Woman

Direktur Konsumer BRI Handayani: Kerjakan Tugas Dengan Cinta

Profil - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
05 May 2021 12:40
Handayani Konsumer BRI. Foto: Direktur Konsumer BRI Handayani

Jakarta, CNBC Indonesia- Perempuan di Indonesia banyak yang memiliki potensi dan kemampuan besar untuk menjadi pemimpin. Saat ini cukup banyak perempuan yang berada di puncak kepemimpinan di perusahaan ataupun organisasi.

Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Handayani menjadi salah satu perempuan yang sukses berada di puncak manajemen perusahaan BUMN perbankan. Karirnya selama 33 tahun di industri perbankan, mulai dari bank swasta, asing, hingga ke BUMN membawanya menjadi pemimpin dan telah merasakan berbagai perubahan di industri ini.

Bermula dari seorang dokter gigi yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi, Handayani akhirnya memilih banting setir dan berkarir di industri perbankan. Pengalaman ini membuat dia berkesimpulan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari, asalkan serius dan memiliki tekad.


Dia juga memberikan inspirasi kepada perempuan untuk terus belajar dan menggapai mimpi, dengan menceritakan perjalanan karirnya dan peran pentingnya di perusahaan. Berikut petikan lengkap dialog inspiratif CNBC Indonesia, The Inspiring Woman:


Bagaimana cerita bisa menjadi seorang bankir, padahal sekolahnya dokter gigi. Biasanya perempuan suka menganggap kerja sesuai dengan sekolahnya. Tapi banyak perempuan yang menjadi pimpinan kerjanya tidak sesuai dengan sekolahnya?

Jadi kenapa saya kuliah di FKG karena meluluskan permintaan Ibu saya, yang ingin anaknya menjadi dokter. Tapi setelah selesai waktu kecil sering diajak ibu ke bank, saya pikir kerja di bank itu asyik. Waktu itu tahun 1988 bank sangat ekspansif cabang-cabang baru, saya kirim CV ketiga bank terbesar dan diterima.


Sempat praktik tidak setelah lulus dari FKG?

Sempat praktik bersama dengan dosen, saya mengisi hari seminggu dua kali Rabu dan Sabtu. Ternyata menyenangkan hati ibu banyak pahalanya.


Dalam proses masuk bank pengalamannya kan luar biasa, bagaimana ketika perpindahan dari satu bank ke bank lain. Apa yang membuat Anda tertantang untuk pindah?

BRI ini adalah perusahan ke-8 yang saya masuki, saya sudah bekerja selama 33 tahun. Dari bank swasta, bank asing, dan masuk ke BUMN jadi semua bank sudah pernah dimasukin. Jadi pada waktu masih muda saya punya target, dan memiliki role model yakni kakak saya sendiri. Kebetulan kakak saya cepat sekali karirnya, dan dia menjadi VP di usia 28 tahun. Saya pun menargetkan harus mengalahkan dia. Jadi ketika ada kesempatan ODP, saya bilang kalau mau di posisi tertentu harus berapa lama waktu yang dibutuhkan. Waktu itu kan bank sangat cepat berkembangnya.

Pada waktu itu ODP ditantang juga kalau dapat posisi 1 sampai 3 gajinya lebih tinggi. Jadi saya berusaha, meski saya dari FKG yang lain dari ekonomi.

Ambisi diperlukan juga ya berarti untuk mencapai tempat tertentu?

Sebenarnya lebih tepat bukan ambisi, tetapi rencana dan target dan memperhitungkan horison waktu supaya kita bisa merencanakan dengan baik. Waktu itu karena saya tidak berlatar belakang ekonomi, saya harus belajar dua kali lipat lebih keras dibandingkan yang lain, dan kemudian tidak malu untuk bertanya.

Tahapan yang begitu cepat Anda dipercaya menjadi direktur di BUMN, itu kan tidak mudah. Bagaimana proses belajarnya?

Dari pengalaman karir saya, saya berkesimpulan tidak ada sesuatu yang tidak bisa dipelajari. Sepanjang kita bersungguh-sungguh. Ketika diberikan tugas kita harus 'try to romance with the task'. Itu yang saya gunakan di dalam karir. Ketika saya mendapatkan penugasan yang sangat baru maka saya berusaha dengan cepat menyelesaikan pekerjaan itu supaya saya bisa menyelesaikan tugas itu dengan baik.


Tipe kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan?

Saya menyebutnya 'relator' karena saya sebagai leader kita tidak harus menonjolkan diri.Justru tugas kita itu membantu atasan kita, bisa perform pekerjaannya dengan baik. Jadi sebagai bawahan saya tentu harus bisa mengerjakan itu. Kepada peers saya harus berkolaborasi dan berkoordinasi supaya bisa bersama-sama mendorong dan membantu atasan kita supaya bisa perform lebih baik. Demikian juga ke bawahan, saya berusaha menjadi bagian dari bawahan saya supaya mereka bisa menyelesaikan tugas dengan baik.

Jadi saya merasa bersalah kalau saya tidak menempatkan diri sehingga bawahan saya kesulitan atau kebingungan.


Anda lama di konsumer banking, tapi di banyak bank banyak yang justru ingin melepaskan konsumer. Sebenarnya kalau dilihat konsumer di Indonesia seperti apa, khususnya di konsumer banking?

Konsumer banking tugasnya adalah bagaimana bisa memenuhi kebutuhan produk dan layanan perbankan di setiap life stage of customer. Kalau bicara small, mikro itu kan size bisnis, tetapi menurut saya konsumer banking selamanya dibutuhkan karena yang kita gapai adalah individu dan kebutuhan itu bervariasi, dari nasabah lahir sampai dia wafat.

Handayani Konsumer BRI.Foto: Direktur Konsumer BRI Handayani

Sekarang ke arah digitalisasi, bagaimana transformasi BRI karena kita lihat konsumen didominasi kaum milenial?

Kami di BRI masuk ke transformasi 2.0, sebelumnya kami memang ditransformasi 1.2 bicara mengenai digitalisasi dan kultur dikuatkan. Kami bersyukur, di satu sisi Covid-19 bermanfaat percepatan digitalisasi. Kami beruntung BRI sudah menyiapkan beragam produk dan layanan.Jadi basisnya ada tiga hal yang didigitalisasi, pertama task core, jadi semua proses sudah digital. Kami juga memperkenalkan onboarding customer dengan basisnya digital, dan kami hubungan dengan digital ekosistem. Jadi tiga pilar ini kami kerjakan bersama.

BRI kan ada segmen mikro dan mengembangkan prioritas, ini kan jarang memiliki dua-duanya. Bagaimana mengembangkan dua sisi yang kelihatannya tidak sejalan?

BRI kan segmennya luas sekali, dari ultra mikro sampai high network, karena kami juga memiliki nasabah korporasi. Makanya diperlukan layanan yang wealth management, yang touchnya berbeda dengan bank lain karena yang kami lakukan adalah memberikan literasi sehingga konsumen kami memiliki pemahaman terhadap investment asset-nya, ke dalam investment asset yang produktif. Sehingga wealth management ini bukan hanya menabung, jadi fungsinya ketika dia menggunakan BRI dia seharusnya lebih baik dalam mengelola keuangan.


Banyak perubahan perilaku dalam masyarakat, apakah sudah diantisipasi perubahan ini yang banyak ke online dan tumbuh sektor keuangan non bank yang menjadi bagian dari jaringan bank itu sendiri?

Saya beruntung di BRI yang besar dan tersebar di seluruh pelosok dan kami memiliki lebih dari 110 juta konsumen jadi tentu ketika ada fintech atau startup baru ini yang kami lakukan bagaimana mengkolaborasikan apa yang menjadi solusi mereka dengan yang dimiliki oleh BRI. Jadi kami melihatnya bukan persaingan tetapi kolaborasi, jadi bisa melayani seluruh penduduk Indonesia.

Award juga banyak diperoleh BRI, bagaimana mencapai penghargaan-penghargaan ini?

Dengan top leader yang konsisten bagaimana mengubah kultur di internal BRI agar adaptif dan bisa mengikuti perubahan, banyak sekali hal yang sudah beliau canangkan dalam program. Yang penting juga adalah soliditas dari tim dan ketika kami gaungkan sebuah objektif ini sampai turun ke bawah. Yang paling mengena ketika kami sampaikan pada karyawan, kami punya employee value proposition yang memberi makna Indonesia, dan ini membentuk sebuah kultur di BRI.

Jadi apapun penugasan dari pemerintah, kementerian BUMN, harapan dari stakeholder kami selalu petakan sehingga bisa menjalani dengan baik.


BUMN banyak misi yang antara komersial, profit dan penugasan. Bagaimana menyeimbangkan keduanya bagaimana agar kinerjanya tetap bagus?

Kami melihat setiap penugasan pasti ada satu sisi bisnis yang bisa dikelola dengan baik, misalnya kami diberikan penugasan bansos, ini buat kami menjadi sebuah pipeline agar bisa follow through untuk bermanfaat bagi ultra mikro. Dan kita bisa menjadi pendamping mereka mengembangkan bisnis dengan mereka menggunakan BRI. Jadi bukan dari sisi tugas memberatkan tetapi dari sisi peluang.

Apa yang Anda lakukan untuk mengisi waktu luang?

Jadi suka travelling, saya dasarnya suka makan jadi kuliner menjadi bagian yang menyenangkan buat saya. Untuk itu kan harus traveling. jadi setiap ke luar kota atau luar negeri selalu mencari makanan yang khas.

Banyak sekali, ketika di BRI yang memiliki banyak binaan, memang banyak sekali tempat yang menarik untuk dicoba.

Kemudian karena Covid-19 kan kita harus kena matahari, salah satu alternatifnya sepeda dan jalan kaki. Ternyata menjadi tren, sehingga seru aja.

Apakah anda rutin bersepeda?

Justru saya olahraga yang paling gampang adalah senam-senam kecil di rumah, paling tidak seminggu dua kali sebelum bergerak ke kantor. Jalan pagi juga biasanya bisa juga.


Dalam komunitas, apa yang sering diajak ngobrol ketika sebelum pandemi?

Saya sering bertemu dengan teman saya. Saya memiliki empat sahabat yang semua wanita karir, kami sering membahas misalnya anak-anak yang sering lupa nyanyian yang membangkitkan semangat nasional. Kemudian kami membuat sesuatu soal itu.

Saat pandemi Covid-19 kami juga concern soal rempah Indonesia. Inginnya memberdayakan perempuan karena kaya sekali manfaat.

Dulu kan kita sering lihat ibu-ibu menyeduh jamu dari daun-daunan yang dikeringkan dan itu menyehatkan. Sekarang itu tidak ada, dan diganti dengan kapsul-kapsul. Kemarin kami baru berdiskusi perempuan menanam rempah yang mudah, dan dijadikan bagaimana cara minum rempah.


Lalu apa yang Anda lakukan untuk bersantai?

Saya termasuk orang yang malas ke salon, tapi mau tidak mau harus karena harus tetap 'me time'. Jadi kadang ke spa dan salon untuk relaksasi.


Apakah masih sempat untuk sering bertemu sahabat-sahabatnya?

Kami sebelum pandemi setahun sekali selalu memiliki 'me time' yang kami pergi dan ambil cuti bareng-bareng 3-4 hari yang kami secara individu dan ngobrol yang memang menghibur. Ini menjadi refreshment, dan bisa melepaskan pikiran pekerjaan.


Bagaimana membangun hubungan dengan anak-anak milenial?

Saya memiliki putri yang usianya milenial. Tapi saya tahu anak milenial tidak suka digurui, jadi cara saya berkomunikasi adalah dengan bertanya dan mendapatkan feedback dan menjadi teman buat mereka. Jadi saya selalu bilang juga ke karyawan, misalnya idenya apa dan saya mendengarkan


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading