Mengungkap Rencana Besar Royke Tumilaar di BNI

Profil - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
09 September 2020 10:03
Direktur Utama Bank Mandiri, Royke Tumilaar (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang baru, Royke Tumilaar, membeberkan sejumlah rencana strategis terkait dengan pengembangan bisnis BNI ke depan. 

Dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia, Royke menyebut, salah satu yang akan menjadi fokus BNI adalah penguatan di segmen kredit korporasi.

Terlebih lagi, saat ini bank yang berdiri sejak 1946 ini mempunyai jaringan bisnis luar negeri yang cukup kuat dengan core competencies di kredit korporasi. Dengan modal tersebut bisa mendatangkan sumber pendanaan baru dari investor luar negeri guna membiayai proyek-proyek infrastruktur di dalam negeri.


"Sebenarnya BNI ini punya sejarah lama, jaringan luar negeri cukup kuat, korporasi core competence-nya dia. Arahnya saya ingin korporasi dengan basis jaringan luar negeri yang cukup lama dan kuat jadi sumber funding baru di Indonesia dalam membiayai infrastruktur yang masih akan menjadi pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia," tutur Royke dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (8/9/2020).

Tidak hanya itu, arah bisnis BNI ke depan, kata dia, juga membantu korporasi yang bisnisnya berorientasi ekspor.

"Kita bisa bawa investor dari berbagai negara ke Indonesia sebagai market yang punya prospek bagus dan kita sebagai bank yang besar di Indonesia, bisa men-support pengembangan bisnis," kata mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) ini.

Berikut petikan wawancara selengkapnya dengan mantan Group Head Regional Commercial Sales I BMRI, Komisaris Mandiri Sekuritas, Group Head of Commercial Sales Jakarta, dan mantan Managing Director Treasury, Financial Institutions & Special Asset Management BMRI ini.


Ke mana arah bisnis BNI ke depan?

Sebenarnya BNI ini punya sejarah lama, jaringan luar negeri cukup kuat, korporasi core competence dia. Arahnya, saya ingin korporasi dengan basis jaringan luar negeri yang cukup lama dan kuat jadi sumber funding baru di Indonesia dalam membiayai infrastruktur. Ini yang masih akan menjadi pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia. Gak akan cukup bank lokal membiayai infrastruktur. Selain itu, kita akan membantu para eksportir untuk mendapatkan financing lebih baik, lebih murah.

Kita bisa bawa investor dari berbagai negara ke Indonesia sebagai market yang punya prospek bagus dan kita sebagai bank yang besar di Indonesia, bisa men-support investor dalam pengembangan bisnis di Indonesia.

Tentunya, dengan situasi pandemi kita harus segera berubah jadi bank digital, suatu keharusan, harus menjadi mindset orang-orang BNI, supaya cepat kita berubah jadi bank digital baik proses, bisnis proses dan produk-produknya.

Mengenai visi internasional BNI, seperti apa strateginya dan berapa belanja modal yang disiapkan?

Capex [capital expenditure/belanja modal] gak perlu, kita jaringan sudah ada, jaringan sudah lama, Bank Indonesia paling tua di Singapura adalah BNI. People yang kita siapkan, cari partner strategis di market supaya dapat funding yang lebih kompetitif dan bawa funding ke Indonesia, ini bisa jadi salah satu alternatif sumber financing untuk pengembangan industri apapun di Indonesia. Likuiditas global cukup banyak, ini menarik untuk kita jalankan saat ini.

Pendanaan internasional dalam bentuk valas, tentu ada risiko kurs, apakah akan tetap jadi bidikan BNI?

Tentunya kita akan lihat penggunaan funding, kalau sumber valas tentunya sedapat mungkin revenue kita harus yang berbasis US Dollar. Misalnya, eksportir yang bergerak di bisnis oil and gas, komoditas yang berbasis dollar. Tapi, kalau pembiayaan infrastruktur harus cari partner untuk lakukan hedging, supaya safe dari volatilitas kurs. Ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Saya ingin bicara mengenai swap dengan central bank, kan bagus sekali.

Ini yang Akan Jadi Fokus BNI ke Depan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading