Spesial Hari Kartini

Anne Patricia, Peran Perempuan & Cerita Sukses Bisnis Tekstil

Profil - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
21 April 2019 16:02
Anne Patricia, Peran Perempuan & Cerita Sukses Bisnis Tekstil
Jakarta, CNBC Indonesia - Anda mungkin tidak asing dengan brand-brand besar seperti Adidas, Uniqlo, maupun H&M. Tahukah Anda siapa sosok di balik manufaktur itu di tanah air?

Di belakangnya ada sosok wanita inspratif, Anne Patricia Sutanto, Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, salah satu perusahaan manufaktur garmen terbesar di tanah air.

Ia memimpin setidaknya 37.000 karyawan dari 25 pabrik yang tersebar di Indonesia. Kepada CNBC Indonesia, Anne menjelaskan kiprahnya membangun bisnis Pan Brothers sejak awal. 


Semula Anne membantu bisnis keluarga di PT Kayu Lapis milik sang ayah, lantaran tidak cocok dengan paman, ia memutuskan keluar. Namun paman lainnya di Batik Keris memintanya bergabung mengingat perusahaan batik itu akan mengakuisisi satu perusahaan tekstil yang kala itu masih kecil yakni PT Pan Brothers Tbk.

Tahun 1990 silam, Pan Brothers sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan itu kemudian diakuisisi melalui tahap tender offer (penawaran kepada investor publik) pada 1996. Anne pun memiliki saham perusahaan pada tahun 2000.

Kisah Anne Patricia, Perempuan yang Sukses Membangun TekstilFoto: Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Perjalanan di Pan Brothers memang tidak mudah. Pada mulanya, penjualan Pan Brothers baru mencapai US$ 12 juta per tahun, namun di tangan dinginnya, sekarang penjualan Pan Brothers sudah mencapai US$ 600 juta, dengan komposisi 97% produknya diekspor ke berbagai negara di Asia, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, hingga Kanada.

Laporan keuangan mencatat, hingga akhir 2018, pendapatan emiten dengan kode saham PBRX itu mencapai US$ 611,37 juta atau setara dengan Rp 8,55 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$), naik dari tahun 2017 sebesar US$ 549,36 juta. Laba bersih juga melonjak hingga menjadi US$ 18,29 juta dari sebelumnya US$ 9,35 juta pada 2017.

Lantas bagaimana kiprah perjalanan Anne dalam membangun bisnis dan pesan yang ingin disampaikan kepada perempuan Indonesia yang ingin merintis di dunia usaha?

Jurnalis CNBC Indonesia Syahrizal Sidik dan Tahir Saleh, bersama fotografer Andrean Kristianto, mewawancarai Anne pada Selasa pekan lalu (16/4/2019) di kantornya, Permata Hijau, Jakarta. Berikut petikan lengkapnya.

Bagaimana peran wanita modern Indonesia di mata Ibu?
Wanita Indonesia punya peran yang bermacam-macam, salah satu peran yang pasti kita itu hakikatnya sebagai pasangan hidup, kita juga sebagai anak perempuan, diminta lebih perhatian.

Ketiga kalau sudah berpasangan, selain memperhatikan suami juga anak-anak kita. Di luar itu seperti saya, kita ada suatu ambisi mempunyai karier dan kita ingin hidup kita ini all out, sehingga berbagai peran yang ada di hidup kita bisa seimbang. Jadi memang pada saat kita mengambil keputusan, waktu kita menikah, sudah siap menjadi pasangan hidup, setelah melahirkan harus siap menjadi ibu, pada saat kita bekerja siap dengan peran itu, karena harus siap dengan konsekuensi dan tanggungjawabnya.

Jadi semua peran yang kita lakukan perlu kita tahu. Itu yang sering saya sampaikan ke tim saya, harus membuat decision dan choice [keputusan dan pilihan].

Memang, ada kelebihan dan kelemahannya, kita juga harus paham apapun yang kita lakukan dan harus siap dengan segala tatanan yang diharapkan dari peran kita. Untuk saya sendiri, karena decision saya tidak ada paksaan dari manapun, kita harus menjalaninya dengan senang, meski ada kendala.

Itu konsekuensi, pada saat kita down, saat pihak lain malah sirik, orang lain enggak happy dengan eksistensi kita. Konsekuensi itu harus balance dan kita harus bias menganggap itu sebagai happiness.

Kisah Anne Patricia, Perempuan yang Sukses Membangun TekstilFoto: Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)


Banyak pengusaha perempuan muncul, sebetulnya apa faktor utamanya dominasi perempuan di dunia usaha?
Sebenarnya ngomong blak-blakan dari dulu banyak pengusaha wanita, boleh saya bilang banyak pengusaha yang sudah ada bertahun tahun karena dengan peranan media sosial, kemajuan teknologi yang pesat otomatis mereka mulai terekspos.

Kalau dilihat berbagai macam pengusaha wanita ada yang sudah lama jadi pengusaha, ada juga yang yang baru karena terinspirasi karena yang terekspos itu.

Itu kombinasi keduanya, itu peran media jadi menginspirasi. Kalau orang baca artikel, dengar radio, menyaksikan televisi mereka tahu oh ada, oh bisa, media dipandang mata oleh mereka 'lebih terpercaya'. Dari dulu kalau dilihat banyak pengusaha wanita, karena memang media melihat ini fenomena yang baik, banyak perempuan memulai bisnis UMKM atau mikro bisnis yang mulai menapak menuju bisnis kecil sedang, menengah.

Ada riset yang membandingkan karakter perempuan dan laki-laki, memang ada kecenderungan lebih bagus perempuan memimpin perusahaan?
Ini saya to the point, menurut saya perempuan dan laki laki itu ada kelebihan ada kekurangan, saya enggak bisa ngomong perempuan lebih baik, dan saya enggak merasa juga demikian, saya juga merasa laki laki lebih baik, itu kembali ke individu, jangan dilihat gender.

Individu yang saya tahu, sebagai kolega dan partner bisnis perlu mempunyai suatu kualifikasi menjadi pemimpin, seperti pendidikan.

Kedua memang jam terbang itu penting. Karena di semua bisnis kita ini banyak yang mengelola ada hubungan dengan pihak ketiga, brand supplier, kita harus mempunyai jam terbang yang cukup, sehingga halangan regulasi di lapangan bisa kita jalani secara baik.

Kisah Anne Patricia, Perempuan yang Sukses Membangun TekstilFoto: Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Dari sisi kendala perempuan memimpin perusahaan, masalah klasik keluarga dan karier, bagaimana peran Ibu di Pan Brohters membagi kedua peran tersebut?
Karena kebetulan anak-anak saya sudah besar, saat ini yang pertama umurnya dari 21 ke 22 tahun. Yang satunya lagi, umur 19 mau ke 20. Jadi mereka sudah sangat independen, malah yang laki laki mau lulus sekolah S-1. Amount of time yang saya habiskan ke mereka, karena kebetulan studinya di Amerika Serikat itu, in the last 4 years, itu ya hanya di saat mereka libur. Atau di saat saya mengunjungi mereka, kalau komunikasi ada WhatsApp, juga Skype, jadi komunikasi sekarang sudah mudah dan murah.

Jadi kita bisanya alokasikan waktu ke arah komunikasi chating atau komunikasi jarak jauh. Kalau kebersamaan saat libur saat mengunjungi mereka. Yang kedua, memang suami saya, memang balancing itu entah suami anak keperluannya perlu sama, jadi memang banyak hal yang kita memang perlu juga komunikasi secara terbuka ke suami atau ke keluarga, bahwa waktu atau jadwal yang adil kita seperti ini.

Susah enggak Bu?
Memang enggak mudah untuk suami mengerti "kenapa kok saya kadang lebih repot memikirkan kerjaan, organisasi, daripada mereka". Cuma sekali lagi, kita memang harus menjalaninya dengan suatu kedisiplinan bahwa yang kita lakukan murni untuk kepentingan masa depan, karena ada memang dari skala kecil menyiapkan makanan, tapi hal itu bisa kita delegasikan ke asisten rumah.

Ya memang perhatian beda, tapi kan ada beberapa hal tetap tidak bisa kita delegasikan, itu yang perlu kita take over. Pembicaraan mengenai masa depan harus kita ambilalih, kalau seperti berbelanja, membersihkan rumah, mengurus pakaian, setelah itu memasak, itu kan harus kita delegasikan.

Anak-anak sudah besar saat ini. Dulu waktu Ibu di Batik keris, anak-anak masih kecil, pertentangan di awal seperti apa?
Itu anehnya, ketika anak-anak masih kecil somehow, menurut saya amount of time untuk mereka itu walau enggak terlalu banyak tapi smooth saja, karena saat anak anak kecil bukan kebutuhan perhatian, tapi pakai baju bagus, nutrisi, kita bisa persiapkan dan delegasikan, tapi kebutuhan bercakap cakap enggak bisa didelegasikan.

Waktu mereka kecil amount of time untuk mereka itu lebih sedikit daripada sekarang, karena mereka sudah dewasa, quality time kalau enggak bener-bener quality, mereka akan sensitif, "your'e not even here mom, physically you are here, but your mind is not here".

Jadi memang amount of time yang waktu kita pakai untuk komunikasi dengan mereka saat ini jauh lebih intensif daripada dulu mereka masih kecil-kecil. Kalau masih kecil kan pembicaraanya sebatas mau makan, minum. Kalau sudah besar kan lebih berat ya, ngomong soal politik, masa depan, ya bahas soal yang menurut saya perlu pemikiran lebih lanjut, lebih dalam.

Suami di bidang usaha yang sama?

Di pabrik es balik, suami juga ada home accessories industri dengan saya, juga ada pabrik kayu.

Artinya saling mendukung?
Ya, sebetulnya bisnisnya berbeda, tapi kita saling mendukung dalam arti pemikiran-pemikiran yang saling mendukung.

Bagaimana ceritanya Ibu di Pan Brothers?
Awalnya dari Batik Keris, jadi waktu itu sebenarnya saya enggak mau lagi di bisnis keluarga, karena saya magang di PT Kayu Lapis milik ayah saya.

Waktu itu sebenarnya saya enggak cocok dengan paman saya. Saya saat itu berpikiran kerja profesional di luar, tapi saat saya melamar ke tempat lain di mana saya sudah direferensikan, itu mendadak paman saya di Batik Keris mengajak saya, "Ne mula besok kamu ikut aku ya, bekerja sama sama," karena saat itu perusahaan mau akuisisi Pan Brothers.

Saat itu, saya diberikan kesempatan dan kepercayaan dan itu tahun 1996 proses due diligence [uji tuntas] saat kami mau akuisisi, di April 1997 saya ditunjuk paman saya sebagai salah satu direktur Pan Brothers, memang saat itu Pan Brothers masih kecil, belum sebesar sekarang.

Pan Brother sudah IPO? Lalu bagaimana mekanisme pembeliannya?
Sudah IPO [masuk bursa, initial public offering/IPO] tahun 1990, lalu melalui proses tender offer [penawaran saham publik ketika ada akuisisi perusahaan lain] di 1996. Take over Pan Brothers juga alami guncangan manajamen, kami akhirnya berhasil menakhodai sampai sekarang.

Saya adalah partner sejak 2010. Saya adalah owner, sejak 2010. Pan Brother sudah tidak related lagi dengan Batik Keris, karena 2002 sudah dijual [saham Batik Keris di Pan].

Aset Pan Brother akhir 2018 sudah US$ 579 juta (Rp 8 triliun), waktu akuisisi dulu berapa aset perusahaan saat itu?
Kecil waktu itu juga dalam rupiah bukan dolar, sudah gitu penjualan paling baru US$ 10-11 juta per tahun. Kalau sekarang per tahun lalu sudah US$ 600 juta. Jadi kami melalui perjalanan yang all out. Cikal bakalnya dari Pabrik Siliwangi dan berkembang ke mana-mana.

Bicara mengenai SDM perempuan, posisi perempuan di perusahaan seperti apa?
Kalau di kita itu sebenarnya 90 persen pekerjanya wanita terutama operator level. Yang terjadi adalah 3 tahun ini kita 30 persen, laki-laki 70 perempuan.

Perempuan memang lebih lama di perusahan, laki-laki cepat keluar karena ada yang kena teguran merokok sembarangan, kurang disiplin jam kerja, macam-macam. Total karyawan tetap 50-60 persen dengan total 37.000 karyawan dari 25 pabrik dan ini kami berkembang terus.

Kisah Anne Patricia, Perempuan yang Sukses Membangun TekstilFoto: Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Kekhawatiran soal hari buruh yang biasa diperingati 1 Mei, yang menjadi kekhawatiran soal tidak ada pengangkatan dari pekerja kontrak ke tetap, tanggapan Ibu?
Saya bicara to the point ya, dulu sebelum adanya UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja tahun 1990 yang konversi di 2013, ini semua pekerja adalah tetap. Tapi aturan pemerintah saat itu membuat dispersal of trust [hilangnya kepercayaan] antara pekerja dengan pengusaha.

Kalau baca aturan dengan baik, istilahnya orang yang terlihat kejahatannya pun kita harus kasih pesangon. Kalau lihatnya harfiah.

Mereka [pekerja] ada urusan hukum enggak bisa diterima, kita harus cut, kalau seperti ini kita kasih pesangon, fairness atau rasa keadilannya enggak ada untuk pengusaha. Itu kami sampaikan UU Nomor 13 siap menjalani untuk batas tertentu harusnya di cut kalau dia mencuri, misalnya. Atau dia [karyawan] keluar begitu saja, ada perlindungan yang over.

Memang ini bukan [warisan] pemerintahan Jokowi, kan beliau melaksanakan saja. Saya terus menerus, ditanya pandangan ibu kalau UU 13/2003, pandangan apa? Ini dari dulu peraturan, yang jangan salahkan pemerintah sekarang, pemerintah sekarang perlu mempertegas arahnya.

Okeh, kita ke kembali ke pribadi Ibu, apa sih kelemahan dari ibu?
Pasti, emosi misalnya. Saya ini passionate with I do, kadang kadang gemes, kenapa kalau orang kita agak lambat dalam merespons, cara berpikir oportunis, kita ini enggak bisa dalam relation supplier, bayar terlalu oportunis, karena kita ini manufacturing, bukan trader, kita harus punya culture relationship.

Berkenaan dengan Hari Kartini, kira-kira apa yang yang ingin ibu sampaikan bagi pengusaha perempuan yang merintis bisnis?

Satu, yang pertama kita ini perlu punya komitmen, seperti yang disampaikan di awal, di dalam hidup ada beberapa peran yang saya sampaikan. Itu saya harap semua wanita yang baru meniti karier memikirkan mana prioritas dan komitmen supaya di kemudian hari, kita ini enggak merasa bahwa hidup kita ini sia-sia sebagai wanita.

Kedua, adalah memastikan passion sesuai dengan prioritas kita, karena waktu kita 24 jam x 365 hari, jangan lihat rumput tetangga kok enak, jangan lihat itu, yang tahu enak atau enggak, passion kita ya hanya kamu sendiri bukan orang lain, kita juga harus bisa refleksi apa passion kita.

Sebenarnya secara jujur, tugas paling besar wanita adalah ibu rumah tangga, karena menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Memang ketika saya selalu ngomong kepada semua wanita karier, inspirasi saya dalam hal ini Kartini. Kenapa di jaman Kartini, jaman yang sangat konservatif terhadap wanita tradisional, Kartini memang punya background wanita yang cukup okelah, bukan rakyat jalata.

Beliau punya kemauan untuk belajar, punya keinginan, kesempatan untuk belajar, untuk seseorang dengan priviledge women saat itu dari backround konservatif luar biasa.

Kita jangan lihat Kartini sekarang mudah, pada abad itu adalah tahun yang enggak seperti sekarang. Lihat wanita kerja biasa, lihat wanita ke sekolah sangat biasa, lihat wanita jadi pemimpin negara biasa, atau menjadi menteri biasa, jadi kegigihan dari Kartini perlu kita tiru, dan perlu ditiru lagi adalah dia ini tetap tidak meninggalkan identitasnya sebagai wanita, anak wanita, istri dan ibu. Kalau ada choice harus pilih karier atau keluarga, saya pilih keluarga.

Kisah Anne Patricia, Perempuan yang Sukses Membangun TekstilFoto: Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Apa ibu tertarik terjun ke dunia politik?
Enggak, kalau ambisi saya menjadi number one garment manufacture di dunia tercapai, ya mungkin nanti kita mikir-mikir ya. Buat saya terjun ke politik akan jadi public servant, bukan untuk pencitraan, karena at the end saya orang Indonesia, saya sangat cinta Indonesia, orang yang ngomong cinta Indonesia gimana, ya salah satunya sumbangsih tenaga kita, kita harus punya waktu untuk itu.

Apa harapan untuk Presiden terpilih?
Pesannya satu, kita ini Indonesia ada sejak 1945 merdeka karena leluhur kita paham bangsa kita punya satu ideologi, Pancasila. Kita semua yang merasa dirinya adalah Indonesia, harus paham kenapa Pancasila itu merupakan hakekat rakyat Indonesia.

Kedua, saya memang karena kebetulan saya dari ras China, identitas saya di Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Saya akan all out Indonesia kalau saya punya identity di Indonesia. Saya enggak terima ada pihak yang mau mengganti Pancasila, untuk saya itu harga mati. Siapapun presiden terpilih, harus bagaimana memproteksi ideologi ini. Saya lihat, Pancasila termasuk ideologi yang terbagus dari negara-negara lain, Indonesia bisa maju kalau punya culture identity yang jelas.

Let's be sportive, the best is the winner!


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading