Wawancara Khusus Sri Mulyani

"Jika Wanita Tak Diberi Peluang, Betapa Banyak Kesia-siaan"

Profil - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
21 April 2019 10:00
Jakarta, CNBC Indonesia- Pernah menjabat posisi tinggi di Bank Dunia, dan kini menjadi menteri keuangan negara yang setiap harinya bergelut dengan angka ribuan triliun rupiah, sosok Sri Mulyani adalah panutan bagi kebanyakan perempuan Indonesia.

CNBC Indonesia berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Sri Mulyani, tapi kali ini kami sama sekali tidak menyinggung soal urusan ekonomi negara atau isu pemerintahan yang sedang hangat.

Kali ini, Sri Mulyani meluangkan waktunya selama hampir satu jam untuk menjawab segala pertanyaan terkait isu perempuan, kesetaraan gender, dan pribadinya sebagai ibu rumah tangga.

Wawancara kami ini terbagi dalam beberapa sesi, sesi pertama kami membahas isu kesetaraan gender. Mulai dari Kartini di mata Sri Mulyani, hingga bagaimana perkembangan emansipasi dan kesetaraan gender di Indonesia.

Dijumpai di kantornya pada Kamis, (18/4/2019), berikut adalah kutipan wawancara Sri Mulyani bersama dengan Prima Wirayani dan Gustidha Budiartie dari CNBC Indonesia.

Bagaimana seorang Sri Mulyani memaknai Hari Kartini?
Kartini adalah sosok yang betul-betul mengesankan, karena ia mampu menuliskan pemikiran dan perjuangannya dalam surat yang indah. Meski ada nada kesedihan, tapi indah.

Ini menggambarkan bahwa hampir sejak 200 tahun lalu, atau masa penjajahan, Indonesia sudah mampu melahirkan perempuan yang memiliki kepedulian luar biasa terhadap masyarakatnya, peka terhadap keadilan, dan memiliki persepsi mengenai hidup perempuan yang sebenarnya banyak potensi namun dihalangi faktor kultural.

Ini narasi perjuangan yang indah, menyedikan tapi juga memberi inspirasi luar biasa bagi seorang seperti saya yang kadang coba menulis yang saya pikirkan.

Kartini sosok contoh mengagumkan, buat orang Indonesia dia simbol persamaan hak perempuan dan bahkan dirayakan dengan seremonial parade baju tradisional. Tapi ini bisa timbulkan makna bagi anak-anak perempuan Indonesia, setidaknya menancap dulu.
Perempuan itu masih punya pekerjaan rumah, atau bukan cuma perempuan tapi masyarakat bagaimana perbedaan gender tidak berarti harus memiliki masa depan yang terbatas.

Dilahirkan jadi perempuan destinasi hidup terbatas jadi ibu, istri, urusan domestik saja. Padahal, banyak perempuan yang punya potensi luar biasa.

Ini adalah gambaran perjalanan Indonesia, hari ini Indonesia beri kesempatan luar biasa untuk perempuan agar maju. Namun, bukan berarti kesetaraan gender itu selesai, masih banyak pekerjaan rumah yang lain.

Di berbagai acara, salah satunya di IMF. Anda sering menyinggung isu kesetaraan gender. Apa ada misi tertentu?
Ide kesetaraan gender identik dengan pembangunan, jika di planet ini dari 7 miliar separuhnya adalah perempuan, apabila tidak diberi kesempatan untuk menyalurkan pemikiran, bakat, dan potensinya, betapa banyak kesia-siaan.

Kesetaraan gender adalah isu ekonomi, karena Anda punya potensi sama. Lihat Jepang di mana terjadi male dominated society, kini mereka menyadari bahwa ekonominya menurun. Kadang stagnan di 0, kadang negatif.

Kalau ingin ekonomi tumbuh, satu-satunya sumber yang bisa dioptimalkan dalam society-nya adalah perempuan. Untuk itu sekarang, Perdana Menteri Abe beri ruang pada perempuan agar tidak terbebani dengan domestic works dan bisa masuk pasar tenaga kerja. Ini lebih positif, dan memberi dampak ekonomi luar biasa.

Sebenarnya kaum perempuan itu sudah meng-empower [memberdayakan] diri sendri, tapi kadang society-nya yang beri halangan. Contoh Afrika, perempuan itu sudah harus cari air sendiri untuk anaknya, cocok tanam, jadi mereka sudah bekerja. Tapi ada halangannya, karena sebagai perempuan mereka tidak punya aset atas nama pribadi dan mereka tidak punya akses terhadap keuangan.

Cerita klasik, jika ada anak lelaki dan perempuan sementara di rumah terdapat masalah atau kendala, yang akan diutamakan anak lelakinya. Perempuan sebagai warga negara kelas dua.

Padahal, jika perempuan tumbuh sehat, diberi kesempatan yang sama, dan sekolah. Mereka bisa jadi tulang punggung keluarga yang penting. Perempuan itu berperan dalam mendidik anak, melahirkan, jadi pintu pertama pendidikan itu perempuan. Interaksi pertama pada anak bayi adalah dengan perempuan.

Perempuan punya fungsi dan peran penting tidak hanya dari sisi regenerasi tapi juga menciptakan populasi dunia yang lebih baik, jika mereka cukup gizi dan dapat akses pendidikan. Mereka akan jadi makhluk yang percaya diri, dan beri efek positif bagi keluarga dan masyarakat.

Foto: Wawancara Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Courtesy CNBC Indonesia TV)

Dibanding negara lain, nasib kesetaraan gender di Indonesia bagaimana. Apa sudah lebih baik?
Kalo sifatnya simbol tertentu seperti presiden perempuan, kita pernah. Amerika tidak pernah, Jepang apalagi, Jerman saja yang ada. Dari sisi simbolik sangat maju, politik partisipasi kita tidak ada halangan.

Tapi, Ibu Mega (mantan presiden RI, Megawati Soekarnoputri) pernah berkata, "Mbok ya, perempuan mau berpolitik karena penting bagi masa depan Indonesia."

Beliau saja yang sudah jadi presiden merasa begitu banyak halangan, stigma , kesempatan barrier untuk perempuan lebih tinggi dari laki-laki.

Kalau perempuan menempati posisi tertentu, langsung ditanya apakah mampu? Karena kita menduduki posisi yang sebelumnya tidak pernah diisi perempuan. Kita selalu disambut dengan reaksi pertama itu, skeptisme kemampuan karena beda gender. Kalau laki, tak ada beban itu.

Dan, perempuan dalam hidupnya menghadapi situasi di mana laki-laki tidak menghadapi, seperti hamil dan melahirkan. Itu secara natural akan menyebabkan perempuan terjeda. Memang perempuan ditakdirkan beda secara biologis, dan saat ingin jalani hidup dan jalankan profesi dalam tahapannya akan hadapi halangan-halangan.

Tapi di Indonesia ada kemajuan dibanding negara lain, misal cuti hamil dan melahirkan tetap dibayar. Amerika belum ada. Perempuan Indonesia bisa miliki aset atas nama pribadinya.

IFC menyebut di sejumlah negara tetapi memang masih ada isu gender equality, dan ada kebijakan legislasi yang mendiskriminasi wanita.

Overall, Indonesia relatif maju tapi bukan berarti sudah beri cukup ruang agar wanita Indonesia bisa maju. Kita dari sisi parlemen di berbagai bidang studi masih dominated by man, perempuan di daerah juga harus diberikan akses pendidikan dan kesehatan yang ditingkatkan serta atasi halangan-halangan tadi.





(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading