A20 Jawaban Korea Selatan dari Internasionalisasi Kpop?
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
K-pop sudah lama berhenti menjadi urusan Korea Selatan semata. Ingyu Oh dalam tulisannya di Korea Observer menjelaskan bahwa kebangkitan K-pop berpijak pada proses global, lokal, lalu global kembali. Konten musik dari Eropa atau tempat lain dicari, diubah menjadi konten Korea, lalu disebarkan ke pasar dunia.
Sejak awal K-pop adalah mesin pengolah pengaruh asing. Generasi pertama membangun sistem idola, generasi kedua dan ketiga membawanya ke Asia dan Amerika, generasi keempat memperkuat dunia penggemar digital, dan generasi kelima tampil dengan wajah yang makin lepas dari Korea. Gejala ini mudah dibaca lewat konsep Mukokuseki Koichi Iwabuchi, yakni produk budaya yang sengaja dibuat tanpa bau kebangsaan agar mudah diterima di mana saja.
Wajah itu tampak pada komposisi grup. Laporan KOCCA tentang grup berformasi mayoritas Jepang mencatat bahwa NCT Wish meraih penjualan album 1,4 juta keping pada pekan pertama, sedangkan album debut Korea milik &TEAM terjual sejuta keping pada hari yang sama.
Seorang pejabat industri dalam laporan itu menyebut K-pop sebagai genre global. Genre tidak mengenal paspor. Begitu K-pop menjadi genre, siapa pun dapat memproduksinya. Artikel di Dance Chronicle tentang penari cover di Bali menunjukkan bahwa modal budaya K-pop kini dimanfaatkan di luar Korea untuk keuntungan artistik, pendidikan, dan kewirausahaan, pun juga Blackswan, grup K-pop tanpa satu pun anggota Korea.
Di titik inilah ancaman yang jarang dibicarakan muncul. Jika grup lokal yang terkenal di Indonesia seperti No-Na, lalu Filipina dan Bini-Bini, dan grup lokal atau regional lainnya seperti dari Jepang atau Amerika Latin mampu memakai rumus idola Korea dengan biaya lebih murah dan kedekatan bahasa lebih kuat, keunggulan Korea tergerus oleh keberhasilannya sendiri.
Pada suasana itulah A2O Lite muncul, yang di banyak unggahan penggemar tertulis A2O Lite. Grup perempuan beranggota sembilan orang besutan A2O milik Lee Soo-man, pendiri SM Entertainment, yang kembali ke produksi musik Korea seperti mereset dunia K-pop.
Menurut Korea Herald, lagu debut Neon langsung memuncaki Melon Top 100. Dipe mencatat capaian itu diraih dalam 29 jam, waktu tersingkat bagi grup pendatang baru sejak Melon mengubah metode agregasi pada 2021. Lagu itu juga masuk Apple Music Top 100 Global dan menjadi nomor satu di QQ Music China. A2O Lite seperti menyalip rekan 1 produksinya A2O Soul yang debut di waktu yang sama.
Hal yang membuat fenomena ini menarik adalah cara A2O Lite lewat Neon dibuat. Menurut Dipe, lagu ini justru menolak tren durasi dua menit dan hook 30 detik demi dunia short-form. Lagu ini menghidupkan lagi bridge dramatis dan dance break dalam struktur lebih dari tiga menit, dengan Yoo Young-jin sebagai produser bersama.
Ironinya, SBS Star melaporkan bahwa meme buatan pengguna menyebar lebih dulu daripada tantangan koreografi. Formula lama ternyata bisa menemukan jalan lewat budaya media sosial yang selama ini dianggap menyingkirkannya.
Namun jawaban ini tidak sesederhana kembali ke akar K-pop. Menurut Complex, anggota A2O Lite berasal dari Korea, Jepang, China, Thailand, dan Amerika Serikat, dan SBS Star menyebut usia mereka 13 sampai 17 tahun. Artinya grup ini tetap multinasional, sebagaimana tren yang sudah berjalan.
Perbedaannya terletak pada siapa yang memegang kendali kerajinan. Kewarganegaraan anggota tidak menjadi pembeda, sebab yang dipertaruhkan adalah kepemilikan atas cara membuat musiknya. Jawaban Korea di sini bukan nasionalisme etnis, melainkan klaim keahlian bahwa pemilik sistem K-pop yakni Lee Soo-man paling tahu cara menjalankannya.
Lewat paradigma Nye, daya tarik tidak lahir dari paspor, melainkan dari mutu produk yang membuat orang ingin mendekat. Meski begitu, sebutan sensasi global dan reset industri perlu dibaca hati-hati. Satu lagu tunggal belum membentuk soft power.
Kekuatan Neon sejauh ini paling nyata di tangga lagu Korea dan China, sedangkan posisi globalnya baru menengah ke atas. Nissim Otmazgin mengingatkan bahwa industri budaya populer Asia bertahan karena jaringan pasar, bukan karena satu momen viral. Grup lokal yang meniru K-pop pun tidak lenyap hanya karena satu debut gemilang. Ancaman mereka bersifat struktural, sedangkan keberhasilan A2O Lite masih bersifat peristiwa.
Oleh karena itu, A2O Lite memang tampak seperti jawaban Korea dari internasionalisasi, tetapi jawaban atas pertanyaan yang lebih sempit, yakni apakah kualitas musik, koreografi, dan struktur lagu masih bisa mengalahkan formula yang disesuaikan dengan algoritma.
Atas pertanyaan yang lebih besar, yaitu siapa yang berhak menyebut sesuatu sebagai K-pop ketika produksinya sudah menyebar ke mana-mana, Neon belum menjawab apa pun. Reset yang sebenarnya mungkin bukan pada gaya musik, melainkan pada kesadaran industri bahwa internasionalisasi tanpa kendali kreatif hanya mengundang pesaing. Ujiannya baru tiba pada rilisan kedua dan ketiga, ketika sensasi debut harus berubah menjadi kebiasaan mendengarkan.
(miq/miq)