Ketika Resep Diwariskan, Konsumen Ikut Mewariskan Kebiasaan
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Ada cerita yang tidak selalu kita temukan di ruang seminar, forum diskusi, atau agenda resmi sebuah perjalanan. Kadang-kadang, cerita itu justru hadir di meja makan. Ia tersimpan dalam semangkuk soto yang rasanya akrab, dalam makanan yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh, atau dalam kebiasaan sebuah keluarga mengunjungi tempat makan yang sama dari tahun ke tahun.
Pengalaman itu saya rasakan ketika berada di Solo untuk menghadiri Konvensi Humas Indonesia (KHN) 2026. Di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan diri menikmati kuliner setempat. Pilihan saya jatuh pada Soto Sapi Asli Trisakti di Jalan Kalilarangan No. 61, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta.
Di sana, saya berbincang cukup panjang dengan Mas Romli, pengelola sekaligus generasi keempat yang meneruskan usaha tersebut. Ada perjalanan usaha yang telah berlangsung sejak dekade 1960-an, proses meneruskan usaha dari generasi ke generasi, dan tantangan untuk menjaga sesuatu yang telah dikenal selama puluhan tahun.
Di sekitar lokasi itu, dipisahkan beberapa rumah ada Abon Mesran, salah satu pilihan oleh-oleh bagi orang yang berkunjung ke Solo. Kehadirannya memberi sudut pandang lain tentang hubungan makanan dengan kehidupan masyarakat.
Penulis (kanan) bersama Romli selaku pengelola sekaligus generasi keempat Soto Sapi Asli Trisakti di Jalan Kalilarangan No. 61, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa) |
Dua pengalaman tersebut mengingatkan saya pada sesuatu yang lebih luas. Di berbagai daerah di Nusantara, kita mengenal rumah makan keluarga, kedai legendaris, produsen makanan khas, hingga usaha oleh-oleh yang tetap dicari ketika orang kembali ke kampung halaman atau berkunjung ke suatu kota.
Nama dan perjalanan setiap usaha tentu berbeda. Soto Trisakti dan Abon Mesran pun memiliki karakter serta model bisnis masing-masing. Keduanya tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh usaha kuliner lokal di Indonesia. Namun, pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memikirkan pertanyaan yang menarik: mengapa sebagian usaha kuliner mampu bertahan ketika pemiliknya berganti generasi, sementara selera dan cara hidup konsumennya terus berubah?
Warisan dari Pemilik: Bukan Hanya Resep, tetapi Juga Kepercayaan
Ketika berbicara tentang usaha kuliner yang bertahan lama, kita sering langsung membayangkan resep rahasia atau cita rasa yang tidak berubah. Keduanya memang penting. Namun, keberlanjutan sebuah usaha tidak cukup ditopang oleh resep semata.
Resep dapat ditulis. Takaran bahan dapat dicatat. Proses memasak pun bisa diajarkan. Akan tetapi, menjaga kualitas secara konsisten membutuhkan lebih dari sekadar petunjuk teknis. Ketika usaha diteruskan kepada generasi berikutnya, yang seharusnya berpindah bukan hanya kemampuan membuat makanan. Pengetahuan tentang pelanggan, standar pelayanan, pengelolaan usaha, serta nilai yang selama ini dijaga juga perlu diwariskan.
Pada saat yang sama, generasi baru tidak bisa sepenuhnya bergantung pada cara lama. Lingkungan bisnis terus bergerak. Konsumen semakin mudah membandingkan pilihan, informasi menyebar dengan cepat, dan ekspektasi terhadap kebersihan, pelayanan, kemudahan transaksi, serta pengalaman berkunjung ikut berkembang.
Karena itu, menjaga warisan bukan berarti membekukan usaha dalam bentuk masa lalu. Sebuah rumah makan dapat mempertahankan resep andalan sambil memperbaiki kebersihan, pencatatan keuangan, pengelolaan bahan baku, pelayanan, dan bahkan mengembangkan komunikasi digital.
Tradisi tetap menjadi fondasi, sedangkan inovasi membantu usaha bertahan menghadapi perubahan. Sebab, warisan yang baik bukan hanya sesuatu yang berhasil dipertahankan, melainkan sesuatu yang mampu diteruskan tanpa kehilangan maknanya.
Warisan dari Konsumen: Ketika Selera Menjadi Kebiasaan Keluarga
Kita mungkin pernah diajak orang tua makan di tempat yang sudah mereka kenal sejak muda. Ketika dewasa, kita kembali ke tempat itu bersama pasangan atau anak-anak. Kita juga mungkin memiliki kebiasaan membawa makanan tertentu setiap pulang dari perjalanan, membeli oleh-oleh khas daerah, atau mencari hidangan yang sama setiap kali berkunjung ke sebuah kota.
Pada awalnya, semua itu mungkin hanya pilihan sederhana. Namun, ketika dilakukan berulang kali, pengalaman makan dapat berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian menjadi bagian dari ingatan keluarga. Begitulah selera dapat diwariskan, meskipun tidak selalu melalui instruksi atau kesengajaan. Ia berpindah melalui pengalaman bersama.
Tentu, tidak semua kebiasaan akan bertahan. Generasi berikutnya bisa memiliki selera berbeda, tinggal di kota lain, atau memilih makanan yang lebih sesuai dengan gaya hidupnya. Namun, pengalaman positif yang terus diingat memberi peluang bagi sebuah produk untuk tetap dicari.
Di sinilah konsumen memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar melakukan transaksi. Mereka dapat menjadi penghubung antara usaha kuliner dan generasi pelanggan berikutnya. Jika pemilik meneruskan resep melalui dapur, konsumen meneruskan pengalaman melalui kehidupan sehari-hari.
Dari Pengalaman Menjadi Cerita
Kebiasaan keluarga bukan satu-satunya cara sebuah usaha kuliner bertahan. Ada pula rekomendasi dari mulut ke mulut, atau word of mouth, yang membuat pengalaman seseorang menjadi alasan bagi orang lain untuk mencoba.
Dalam kajian pemasaran, komunikasi dari mulut ke mulut telah dibahas sebagai salah satu mekanisme penting dalam penyebaran informasi antarkonsumen. Penelitian de Matos dan Rossi (2008), misalnya, mengulas berbagai faktor yang berkaitan dengan komunikasi tersebut.
Kini, cerita tentang makanan tidak hanya menyebar melalui percakapan langsung. Foto, video, ulasan, dan unggahan media sosial memungkinkan pengalaman seseorang menjangkau orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut.
Usaha kuliner lokal yang sebelumnya dikenal terutama oleh masyarakat sekitar berpeluang ditemukan oleh konsumen dari daerah lain. Makanan yang dibawa pulang pun dapat menjadi bahan cerita, rekomendasi, dan pengalaman yang dibagikan kembali.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat: cerita yang menarik belum tentu menjamin pelanggan akan kembali. Promosi dapat membuat orang datang untuk pertama kali, tetapi kualitas produk dan pengalaman pelanggan ikut menentukan apakah mereka akan datang lagi. Karena itu, komunikasi bisnis sebaiknya tidak berhenti pada upaya membuat usaha terlihat menarik. Cerita yang disampaikan harus sejalan dengan pengalaman nyata yang diterima konsumen.
Tidak Semua Keberhasilan Harus Diukur dari Jumlah Cabang
Dalam dunia bisnis, pertumbuhan sering kali dihubungkan dengan ekspansi. Semakin banyak cabang, semakin luas pasar, dan semakin besar skala usaha. Bagi banyak bisnis, strategi ini memang dapat membuka peluang baru. Namun, tidak semua usaha kuliner warisan harus tumbuh dengan cara yang sama.
Ekspansi membawa peluang sekaligus tantangan. Semakin luas operasi sebuah bisnis, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga konsistensi rasa, mengelola tenaga kerja, mengawasi kualitas, dan memastikan pengalaman pelanggan tetap sesuai dengan reputasi yang telah dibangun. Bagi usaha yang memiliki karakter khas, pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa kesiapan operasional justru berisiko mengaburkan identitasnya.
Karena itu, keberhasilan usaha kuliner perlu dilihat melalui sejumlah ukuran. Apakah kualitasnya terjaga? Apakah pelanggan masih mempercayainya? Apakah generasi penerus mampu mengelola bisnis dengan baik? Apakah usaha mampu beradaptasi tanpa kehilangan karakter yang membuatnya dikenal?
Bertahan dalam satu lokasi bukan berarti gagal berkembang. Sebaliknya, membuka banyak cabang juga bukan jaminan bahwa sebuah usaha akan bertahan lintas generasi. Yang penting adalah menemukan bentuk pertumbuhan yang sesuai dengan karakter bisnis dan kemampuan pengelolaannya.
Merawat Tradisi, Membuka Jalan ke Masa Depan
Usaha kuliner lokal memiliki modal yang tidak selalu dapat dibangun dalam waktu singkat: sejarah, kedekatan dengan masyarakat, pengalaman pelanggan, dan identitas yang terbentuk selama bertahun-tahun. Namun, sejarah panjang tidak dengan sendirinya menjamin masa depan. Warisan dapat kehilangan relevansinya jika tidak lagi mampu menjawab kebutuhan konsumen.
Karena itu, usaha kuliner lintas generasi perlu memahami konsumennya hari ini tanpa melupakan pelanggan yang telah membesarkannya. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, memudahkan pelanggan memperoleh informasi, mengelola pesanan, dan membangun hubungan yang lebih baik.
Pengelolaan usaha juga perlu semakin tertata agar pengetahuan yang selama ini hanya berada di kepala pemilik dapat dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pada saat yang sama, konsumen juga memiliki pilihan. Mereka dapat mendukung usaha lokal, memperkenalkan makanan khas kepada anak-anak dan "circle"-nya, memberikan rekomendasi yang jujur, dan menghargai proses panjang di balik produk yang mereka nikmati.
Di sinilah inspirasi dari berbagai usaha kuliner lokal dapat kita temukan. Mereka mengingatkan bahwa masa depan tidak selalu harus dibangun dengan meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang, masa depan justru dapat dirawat dengan memahami apa yang layak dipertahankan dan apa yang perlu diperbarui.
Dua Warisan, Satu Keberlanjutan
Perbincangan dengan Mas Romli di Soto Sapi Asli Trisakti menjadi titik berangkat bagi saya untuk melihat persoalan yang lebih luas. Kisah satu usaha tentu tidak mewakili keragaman seluruh kuliner Nusantara. Namun, ia mengajak kita memperhatikan sesuatu yang kerap tersembunyi di balik aktivitas sederhana: makan, membeli oleh-oleh, dan kembali ke tempat yang sama.
Di berbagai daerah, ada pemilik yang berusaha menjaga resep, kualitas, dan nilai usaha agar dapat diteruskan. Ada pula konsumen yang membawa pengalaman, preferensi, dan kebiasaan keluarga ke generasi berikutnya. Sebagian hubungan itu tumbuh di meja makan, sebagian lainnya hadir melalui makanan yang dibawa pulang dan dibagikan kepada orang terdekat.
Keduanya saling melengkapi. Pemilik menjaga kesinambungan produk, sedangkan konsumen membantu menjaga keberadaannya dalam ingatan dan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, sebuah usaha kuliner tidak hanya bertahan karena ada orang yang terus memasak resep yang sama. Ia juga membutuhkan orang yang masih ingin menikmati makanan itu, mengingat pengalamannya, dan memperkenalkannya kepada orang lain.
Pemilik mewariskan cara membuat makanan. Konsumen mewariskan kebiasaan menikmatinya. Ketika keduanya bertemu, makanan tidak lagi sekadar produk yang diperjualbelikan. Ia dapat menjadi cerita, kenangan, dan bagian dari tradisi yang menghubungkan generasi.
Mungkin itulah salah satu pelajaran paling menarik dari usaha kuliner lokal: keberlanjutan tidak selalu dimulai dari rencana bisnis yang besar. Kadang-kadang, ia tumbuh dari hal sederhana yang terus dijaga-resep yang diteruskan dengan sungguh-sungguh, pelanggan yang kembali dengan sukarela, dan kebiasaan berbagi rasa yang tidak berhenti pada satu generasi.
(miq/miq)
