Dua Puluh Enam
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.
---
Pada usia dua puluh enam tahun, saya pernah melihat masa depan saya, ketika dia terlihat kosong. Saya sedang duduk sendirian di Coffee Bean Plaza Senayan ketika melihat status Facebook seorang perempuan berubah menjadi in a relationship. Saya menatap layar itu lama sekali, perempuan itu bukan pacar saya.
Bahkan, kalau mau jujur, saya tidak mempunyai hak apa pun untuk merasa kehilangan. Kami tidak pernah berpacaran, tidak pernah ada janji, tidak pernah ada pertengkaran, tidak pernah ada kata putus. Saya hanya terlambat.
Dan rupanya seseorang bisa patah hati bahkan karena kehilangan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya. Saya menutup Facebook, dan entah berapa lama kemudian saya berdiri dan berjalan keluar.
Plaza Senayan sore itu tetap seperti biasa. Orang-orang membawa tas belanja, restoran mulai ramai, eskalator terus naik dan turun. Orang-orang berbicara, tertawa, dan memilih tempat makan.
Tidak ada sesuatu pun yang berubah, kecuali hidup saya, setidaknya waktu itu. Saya berjalan semakin cepat. Entah karena marah, sedih, atau malu terhadap diri sendiri, saya hampir membanting tas yang saya bawa. Saya tidak jadi melakukannya, seakan tas yang rusak hanya akan memperberat pikiran.
Ketika itu, saya baru dua puluh enam tahun. Saya belum punya banyak hal, karier dan identitas belum berbentuk. Saya tidak tahu akan menjadi apa, akan tinggal di mana, atau siapa yang kelak akan berada di sebelah saya.
Anehnya, justru ketika saya hampir tidak mengetahui apa pun tentang masa depan, sore itu saya merasa mengetahui satu hal dengan sangat pasti. Saya akan sendirian untuk waktu yang sangat lama. Dan bagian yang masih terasa aneh ketika saya mengingatnya sekarang adalah: Saya tidak sepenuhnya salah.
Beberapa bulan sebelum sore itu, saya sebenarnya pernah mencoba. Waktu itu bulan puasa, saya membeli sebuah kue dari Colette & Lola. Seorang sahabat menemani saya mengantarkannya. Kami pergi dengan mobilnya, BMW 750iL, yang mengingatkan kita pada Tomorrow Never Dies. Saya tidak lagi ingat apa yang kami bicarakan.
Mungkin sahabat saya tahu saya gugup, mungkin dia menertawakan saya. Mungkin kami membicarakan hal lain sama sekali. Kami masih berumur dua puluhan. Pada usia seperti itu, kita sering menganggap masih ada banyak sekali hari esok.
Ketika sampai, perempuan itu ternyata tidak ada, Ibunya yang menerima kue tersebut. Saya sempat bingung. Rasanya masuk akal untuk membawa kembali kue itu, pulang, dan berpura-pura bahwa perjalanan tersebut tidak pernah terjadi. Tetapi saya sudah sampai, jadi saya menyerahkannya. Besoknya sebuah pesan masuk melalui BlackBerry Messenger. "Terima kasih", sahut pesan itu.
Saya senang, sesederhana itu. Setelahnya, entah bagaimana, saya tidak melakukan apa-apa lagi. Hidup tiba-tiba menjadi sibuk. Satu hari lewat, kemudian hari berikutnya, beberapa hari menjadi minggu. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Selalu ada sesuatu yang terasa lebih mendesak.
Dan selalu ada besok. Sampai suatu hari, tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Beberapa hal rupanya tidak berakhir karena kita memutuskan untuk mengakhirinya. Kita hanya terlambat menyadari bahwa ia telah selesai.
Hari setelah sore di Coffee Bean itu, alarm saya tetap berbunyi. Saya bangun, tetap pergi bekerja. Besoknya saya melakukan hal yang sama. Tidak ada musik yang mengiringi, tidak ada seseorang yang datang menyelamatkan saya, dan tidak ada satu pagi ketika saya membuka mata dan mendadak memahami mengapa semuanya harus terjadi seperti itu.
Kehidupan rupanya mempunyai cara yang sangat tidak dramatis untuk melanjutkan dirinya. Kita mandi, pergi bekerja, makan siang, lalu pulang. Lalu suatu hari kita tertawa lagi tanpa merencanakannya. Dan beberapa waktu kemudian, kita bahkan lupa bahwa pernah ada masa ketika tertawa terasa tidak mungkin.
Tahun-tahun berlalu. Pekerjaan berubah, penghasilan berubah, teman-teman berubah. Kota berubah lebih riuh. Saya bertemu orang-orang yang pada sore di Coffee Bean itu belum saya kenal. Saya pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya bayangkan. Saya membaca buku-buku yang waktu itu belum pernah saya dengar. Ada orang yang datang sebentar, ada yang tinggal lebih lama, dan ada yang menghilang begitu saja.
Beberapa hal yang sangat saya inginkan tidak pernah terjadi. Anehnya, beberapa hal yang sama sekali tidak pernah saya inginkan justru menjadi bagian penting kehidupan saya. Dan perlahan-lahan, tanpa pernah ada pengumuman resmi, masa depan yang dahulu saya lihat kosong mulai terisi. Bukan oleh hal-hal yang saya bayangkan, tapi oleh hal-hal yang bahkan belum saya ketahui keberadaannya.
Barangkali kita memang mempunyai kelemahan aneh ketika memandang masa depan. Kita hanya dapat membayangkannya dengan benda-benda yang tersedia hari ini. Orang yang kita kenal hari ini, pekerjaan yang kita punya hari ini, ketakutan yang kita rasakan hari ini. Kita mengambil dunia yang sedang berada di depan mata, lalu memperpanjang garisnya. Karena itu ketika sesuatu yang sangat penting hilang, kita mudah merasa bahwa masa depan ikut hilang bersamanya.
Saya pernah melihat hal serupa pada banyak hal dalam kehidupan. Ada masa ketika sebuah perusahaan tampak tidak mungkin bangkit kembali. Ada kota yang pernah dianggap selesai, ada negara yang pernah merasa zaman terbaiknya telah lewat, ada keluarga yang kehilangan hampir semuanya dan beberapa tahun kemudian menemukan bentuk kehidupan yang berbeda.
Kita sangat pandai melihat apa yang hilang, tapi kita jauh lebih buruk dalam membayangkan apa yang belum lahir. Mungkin karena sesuatu yang belum ada memang tidak mempunyai bentuk untuk kita lihat.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa ketakutan lelaki berusia dua puluh enam tahun itu salah. Itu akan terlalu mudah. Ada bagian kehidupannya yang memang kosong cukup lama, ada malam-malam yang ia jalani sendiri, dan ada beberapa kehilangan yang tidak pernah digantikan oleh apa pun. Dan kehidupan yang datang kemudian tidak mengembalikan apa yang hilang. Ia hanya tumbuh di sekelilingnya.
Saya semakin menyukai cara memandang kehidupan seperti itu. Sebuah pohon tidak menghapus luka pada batangnya ketika ia tumbuh, lukanya tetap ada. Tetapi beberapa tahun kemudian kita harus melihat lebih dekat untuk menemukannya, karena di sekeliling luka tersebut telah tumbuh begitu banyak kayu baru.
Mungkin manusia juga begitu. Baik-baik saja ternyata bukan berarti tidak pernah terluka lagi. Bukan pula berarti semua ruang akhirnya terisi. Terkadang, baik-baik saja hanya berarti kehidupan kita telah menjadi cukup luas sehingga sebuah kekosongan tidak lagi merupakan seluruh kehidupan.
Beberapa waktu lalu saya kembali mengingat perjalanan mengantar kue itu. Bukan terutama karena kuenya, bukan pula karena perempuan yang hendak menerimanya. Saya mengingat orang yang duduk bersama saya di mobil sore itu. Sahabat itu ternyata telah lebih dahulu meninggalkan kami.
Sejak itu perjalanan tersebut terasa berbeda. Saya mencoba mengingat apa yang kami bicarakan di dalam mobil. Saya tidak bisa, saya mencoba mengingat apakah kami tertawa, mungkin.
Saya mencoba mengingat jalan mana yang kami lewati. Tidak ada yang tersisa dengan jelas. Dan saya menyesal karena dahulu tidak memperhatikannya lebih baik. Tetapi tentu saja kami tidak mungkin tahu. Kami tidak tahu bahwa suatu hari salah seorang dari kami akan mencoba mengingat sore itu sendirian.
Kami hanya sedang pergi mengantar kue, begitulah hidup menyimpan dirinya. Bukan selalu pada hari-hari yang kita anggap penting. Terkadang justru pada sebuah perjalanan biasa, sebuah mobil, sebuah kotak kue, percakapan yang sudah dilupakan, dan seorang sahabat yang waktu itu kita kira akan selalu ada.
Coffee Bean tempat saya duduk sore itu sekarang juga sudah tidak ada. Tempatnya telah berubah menjadi PAUL. Saya tidak ingat kapan persisnya ia menghilang. Mungkin suatu hari papan namanya dilepas, meja-mejanya dipindahkan, mesin kopinya dibawa pergi, lalu orang-orang datang bekerja dan membangun sesuatu yang baru di tempat yang sama.
Plaza Senayan tetap berdiri, orang-orang masih duduk di sana. Mereka memesan kopi, membuka telepon, bertemu dan menunggu seseorang. Tidak seorang pun tahu bahwa bertahun-tahun sebelumnya, di salah satu sudut tempat itu, seorang lelaki berusia dua puluh enam tahun pernah menatap sebuah layar dan merasa masa depannya telah selesai.
Kadang-kadang saya membayangkan bisa duduk kembali di hadapannya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sebab saya tahu dia akan bertanya balik, "baik-baik saja seperti apa?"
Dan saya tidak mempunyai jawaban yang sederhana. Beberapa orang yang ia cintai akan pergi, beberapa impiannya tidak akan terjadi. Ia akan mendapatkan hal-hal yang sekarang belum bisa ia bayangkan, dan kehilangan hal-hal yang sekarang ia kira akan selalu ada. Ia akan berubah, dunia juga akan berubah. Bahkan Coffee Bean tempat kami duduk pun sudah tidak ada lagi.
Jadi saya tidak akan memberinya ramalan. Saya rasa saya hanya akan duduk di sebelahnya, mungkin membiarkannya menatap layar BlackBerry itu sedikit lebih lama. Dan ketika ia akhirnya bertanya apakah setelah ini hidupnya akan kosong, saya akan mengatakan sesuatu yang pada usia dua puluh enam tahun mungkin tidak akan ia percaya, "Saya tidak tahu."
Karena sekarang saya mengerti bahwa kosong dan belum terjadi adalah dua hal yang sangat berbeda. Masa depan yang waktu itu saya lihat ternyata memang tidak pernah terjadi. Yang terjadi adalah masa depan yang lain, dan anehnya, saya baik-baik saja.
(miq/miq)