Mengenang Sosok Intelektual Organik: Airlangga Pribadi Kusman
Rest in Peace for Airlangga Pribadi Kusman
Kepergian sosok Mas Angga-saya memanggilnya, Airlangga Pribadi Kusman, pada 9 September 2026 meninggalkan kehilangan yang besar bagi dunia akademik dan ruang intelektual Indonesia, terutama bagi mereka yang mengenalnya sebagai akademisi ilmu politik, pemikir kritis, serta intelektual yang konsisten mempertautkan pengetahuan dengan persoalan demokrasi dan keadilan sosial.
Mas Angga bukan tipe intelektual yang menempatkan ilmu sebagai kegiatan akademik yang terpisah dari kehidupan masyarakat, sebab pemikirannya selalu bergerak menuju pertanyaan tentang kekuasaan, ketimpangan, dominasi, kebebasan, dan kemungkinan perubahan sosial.
Dalam pengertian tersebut, istilah intelektual organik menjadi penting untuk memahami posisi mendiang dalam kehidupan publik Indonesia. Intelektual organik bukan hanya seseorang yang menghasilkan pengetahuan melalui buku, artikel, penelitian, dan ruang kuliah, tetapi juga seseorang yang berusaha menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman konkret masyarakat serta menjadikan kerja intelektual sebagai bagian dari pergulatan sosial yang lebih luas.
Cara berpikir semacam itu menjelaskan mengapa perhatian Mas Angga terhadap politik Indonesia dapat berjalan beriringan dengan perhatiannya terhadap persoalan internasional, termasuk Palestina, Israel, Iran, Amerika Serikat, dan dinamika kekuasaan di Timur Tengah.
Baginya, persoalan internasional tidak berdiri jauh dari kehidupan politik Indonesia karena perubahan konfigurasi kekuatan dunia selalu mempunyai hubungan dengan posisi Indonesia, orientasi politik luar negeri, ekonomi, keamanan, serta cara masyarakat memahami keadilan dan kemanusiaan.
Mas Angga memang bukan akademisi yang menjadikan Timur Tengah sebagai spesialisasi utama sebagaimana para sarjana yang secara khusus menekuni politik kawasan tersebut. Namun Timur Tengah merupakan salah satu ruang penting tempat perangkat analisisnya mengenai kekuasaan, kolonialisme, kepentingan negara, produksi pengetahuan, demokrasi, dan keadilan sosial dapat digunakan untuk membaca realitas politik dunia.
Salah satu jejak penting terlihat dalam tulisannya pada tahun 2017 mengenai rezim pengetahuan Zionis di balik pendirian negara Israel. Tulisan tersebut menunjukkan bahwa perhatian Mas Angga terhadap Palestina dan Israel telah berlangsung jauh sebelum eskalasi konflik Iran dan Israel menjadi perhatian besar dalam politik global pada 2026, sekaligus memperlihatkan pendekatannya yang menempatkan sejarah, pengetahuan, ideologi, kolonialisme, dan relasi kuasa sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari persoalan Palestina.
Yang menarik dari pendekatan tersebut adalah keberaniannya membawa persoalan Palestina keluar dari pembacaan yang hanya berpusat pada konflik militer. Ia mengajak pembaca melihat bagaimana sejarah dapat diproduksi, bagaimana suatu narasi dapat memperoleh legitimasi, bagaimana pengetahuan dapat digunakan untuk menopang kekuasaan, serta bagaimana suatu struktur politik dapat mempertahankan dirinya melalui hubungan antara otoritas politik dan otoritas pengetahuan.
Di titik ini, karakter intelektual Mas Angga menjadi semakin terlihat karena ia tidak mudah menerima realitas politik sebagaimana ditampilkan oleh permukaan peristiwa. Ketika melihat sebuah konflik, ia cenderung bertanya mengenai struktur yang melatarbelakanginya, aktor yang memperoleh keuntungan, distribusi kekuasaan yang terbentuk, serta kelompok masyarakat yang harus menanggung akibat dari keputusan politik yang dibuat oleh mereka yang memiliki sumber daya lebih besar.
Kerangka tersebut memiliki hubungan dengan kajiannya mengenai hubungan antara intelektual dan kekuasaan di Indonesia. Dalam pembahasannya mengenai politik pascaotoritarian, Mas Angga memperlihatkan perhatian terhadap bagaimana elite politik, kelompok bisnis, masyarakat sipil, institusi negara, serta produksi pengetahuan dapat saling berhubungan dalam membentuk konfigurasi kekuasaan.
Jika kerangka tersebut digunakan untuk membaca Timur Tengah, maka perang tidak dapat dipahami hanya sebagai benturan antara dua negara atau dua kelompok yang memiliki kepentingan berbeda. Perang juga harus dilihat sebagai arena tempat kepentingan strategis, aliansi keamanan, industri pertahanan, sumber daya ekonomi, energi, perdagangan, dan pengaruh politik global saling bertemu.
Karena itu, pembacaan Mas Angga terhadap Timur Tengah mempunyai dimensi yang jauh lebih luas daripada persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam suatu konflik. Ia membuka ruang untuk melihat bagaimana struktur internasional bekerja dan bagaimana negara-negara besar maupun negara-negara regional menggunakan kekuatan politik, militer, ekonomi, dan diplomasi untuk mempertahankan posisi mereka.
Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa geopolitik tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya. Setiap perubahan keseimbangan kekuatan mempunyai konsekuensi terhadap manusia yang hidup di tengah perang, pendudukan, pengungsian, kehancuran infrastruktur, kehilangan pekerjaan, ketidakamanan, serta ketidakpastian mengenai masa depan.
Karena itu Palestina menjadi salah satu persoalan yang sangat penting dalam memahami jejak intelektual Airlangga. Palestina mempertemukan sejarah kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, kedaulatan, hak menentukan nasib sendiri, politik internasional, dan pertanyaan mengenai bagaimana keadilan dapat diwujudkan ketika distribusi kekuasaan antara pihak-pihak yang berhadapan berada dalam kondisi yang sangat tidak seimbang.
Dalam membaca Palestina, Mas Angga memperlihatkan bahwa seorang intelektual Indonesia dapat menggunakan pengalaman sejarah bangsanya untuk memahami konflik internasional tanpa kehilangan ketajaman analitis. Di sinilah nasionalisme Indonesia, internasionalisme, dan tradisi anti-kolonial dapat bertemu dalam sebuah cara pandang yang melihat persoalan kemanusiaan sebagai sesuatu yang melampaui batas negara.
Palestina, Sukarno, dan Marhaenisme
Perhatian Mas Angga terhadap Palestina akan sulit dipahami secara utuh tanpa melihat kedekatannya dengan pemikiran Sukarno. Dalam kajiannya tentang Sukarno, ia menjelaskan hubungan antara kebangsaan, internasionalisme, musyawarah, keadilan, dan ketuhanan, sehingga nasionalisme Indonesia tidak ditempatkan sebagai identitas tertutup yang hanya berorientasi ke dalam.
Pemikiran tersebut mempunyai arti penting ketika diterapkan pada persoalan Palestina. Sebuah bangsa dapat mempertahankan kepentingan nasionalnya sekaligus mempunyai solidaritas terhadap perjuangan bangsa lain, karena pengalaman kolonial Indonesia sendiri menunjukkan bahwa kemerdekaan memiliki dimensi universal yang berhubungan dengan hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Warisan Sukarno mengenai anti-kolonialisme karena itu tidak dapat dipisahkan dari cara Indonesia memandang Palestina. Konferensi Asia-Afrika 1955, politik anti-imperialisme, solidaritas terhadap bangsa-bangsa terjajah, serta gagasan mengenai tatanan dunia yang lebih adil membentuk tradisi politik yang menempatkan kemerdekaan Indonesia sebagai bagian dari pergulatan global melawan kolonialisme dan dominasi.
Dalam konteks tersebut, Palestina bukan hanya persoalan hubungan luar negeri Indonesia dengan suatu kawasan tertentu. Palestina merupakan cermin dari prinsip yang telah lama hidup dalam sejarah Republik, yaitu keyakinan bahwa kemerdekaan merupakan hak bangsa-bangsa dan bahwa kolonialisme dalam berbagai bentuk harus ditolak.
Mas Angga membawa prinsip tersebut ke dalam konteks politik kontemporer dengan cara yang lebih analitis. Ketika membahas polemik kehadiran Israel dalam Piala Dunia U-20 pada 2023, misalnya, ia menghubungkan persoalan tersebut dengan nilai kemanusiaan dan prinsip anti-penjajahan yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Cara tersebut memperlihatkan bahwa perhatian terhadap Palestina tidak harus dibangun berdasarkan identitas agama. Palestina dapat dibaca sebagai persoalan politik mengenai kolonialisme, kedaulatan, kemerdekaan, hak menentukan nasib sendiri, ketimpangan kekuasaan, serta hubungan antara hukum internasional dan kepentingan geopolitik.
Di sinilah Marhaenisme menjadi relevan dalam memahami cara berpikir Mas Angga. Marhaenisme, sebagaimana ia kaji dalam pemikiran Sukarno, tidak berhenti pada persoalan identitas nasional, tetapi berhubungan dengan pembebasan rakyat dari struktur sosial dan ekonomi yang menyebabkan manusia kehilangan kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Jika prinsip tersebut dibawa ke dalam persoalan Palestina, maka penderitaan rakyat Palestina dapat dipahami melalui pertanyaan mengenai struktur dominasi. Siapa yang mengendalikan wilayah, siapa yang memiliki kekuatan militer, siapa yang mempunyai akses terhadap sumber daya, siapa yang menentukan mobilitas, siapa yang memiliki pengaruh diplomatik, dan siapa yang mempunyai kapasitas untuk menentukan masa depan politik merupakan pertanyaan yang berada di jantung analisis mengenai kekuasaan.
Dengan demikian, Marhaenisme dapat dibaca sebagai salah satu sumber pemikiran pembebasan yang memungkinkan Mas Angga menghubungkan persoalan domestik Indonesia dengan persoalan internasional. Rakyat kecil Indonesia dan masyarakat Palestina memang hidup dalam konteks sejarah yang berbeda, tetapi keduanya dapat ditemui dalam satu pertanyaan besar mengenai hubungan antara kekuasaan, sumber daya, dominasi, dan kemampuan manusia menentukan masa depannya.
Pemikiran Mas Angga mengenai Sukarno juga memperlihatkan bahwa nasionalisme tidak harus berubah menjadi chauvinisme. Nasionalisme yang progresif justru dapat menjadi dasar bagi solidaritas internasional ketika pengalaman sejarah suatu bangsa digunakan untuk memahami pengalaman bangsa lain yang menghadapi kolonialisme dan ketidakadilan.
Pandangan tersebut menjadikan Palestina sebagai titik temu antara nasionalisme Indonesia dan internasionalisme. Indonesia mempunyai kepentingan nasional, tetapi kepentingan nasional tersebut tidak harus bertentangan dengan keberpihakan terhadap kemerdekaan bangsa lain karena konstitusi Indonesia sendiri menghubungkan kemerdekaan dengan penghapusan penjajahan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Pemikiran semacam ini semakin penting ketika konflik Palestina sering disederhanakan menjadi persoalan identitas yang saling berhadapan. Mas Angga justru menawarkan jalan analisis yang menempatkan manusia, sejarah, struktur kekuasaan, kolonialisme, dan ketidaksetaraan sebagai bagian dari satu persoalan politik yang saling berkaitan.
Di dalam kerangka tersebut, perjuangan Palestina tidak hanya menjadi persoalan masyarakat Palestina. Ia juga menjadi ujian bagi tatanan internasional mengenai apakah prinsip hukum, kedaulatan, hak menentukan nasib sendiri, dan kemanusiaan dapat diterapkan secara konsisten kepada semua bangsa.
Sukarno menjadi penting karena ia mengajarkan bahwa kemerdekaan Indonesia mempunyai konsekuensi internasional. Airlangga kemudian membawa gagasan tersebut ke dalam persoalan kontemporer dengan memperlihatkan bahwa seorang intelektual Indonesia dapat menggunakan warisan pemikiran Sukarno untuk membaca konflik dunia tanpa terjebak dalam romantisme sejarah.
Karena itu, Marhaenisme dalam pemikiran Mas Angga tidak layak dipahami sebagai peninggalan ideologis yang hanya relevan bagi masa lalu. Ia justru berusaha menghidupkan kembali pertanyaan tentang bagaimana politik dapat digunakan untuk membebaskan manusia dari struktur dominasi dalam situasi dunia yang terus berubah.
Perhatian Mas Angga terhadap Palestina dengan demikian merupakan bagian dari upaya mempertemukan teori politik, pengalaman Indonesia, dan realitas internasional. Ia memperlihatkan bahwa keadilan sosial dapat memiliki cakupan universal ketika persoalan manusia tidak dibatasi oleh garis geografis dan kepentingan nasional sempit.
Iran, Amerika Serikat, dan Geopolitik Kekuasaan
Jika Palestina memperlihatkan dimensi anti-kolonial dan kemanusiaan dari cara Mas Angga membaca Timur Tengah, maka Iran memperlihatkan dimensi geopolitik yang lebih kompleks. Ketika Amerika Serikat membunuh Qassem Soleimani pada Januari 2020, Airlangga melihat persoalan tersebut dalam konteks politik Amerika Serikat, kekuatan Iran, dinamika kawasan, serta kemungkinan dampaknya terhadap stabilitas internasional.
Iran dalam pembacaan semacam itu tidak dapat ditempatkan hanya sebagai negara dengan karakter politik tertentu. Iran harus dilihat sebagai kekuatan regional yang mempunyai kepentingan strategis, jaringan hubungan politik, kapasitas militer, hubungan dengan Rusia dan China, serta posisi penting dalam berbagai konflik yang membentuk Timur Tengah.
Pendekatan tersebut penting karena pemberitaan mengenai Iran sering kali terjebak dalam persoalan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat. Padahal hubungan Washington dan Teheran merupakan bagian dari konfigurasi yang jauh lebih luas, yang mencakup Israel, negara-negara Arab, Rusia, China, Irak, Suriah, jalur energi, perdagangan, dan keamanan kawasan.
Mas Angga memahami bahwa geopolitik bekerja melalui hubungan antarkekuatan yang terus berubah. Ketika satu negara meningkatkan kekuatan militernya, negara lain dapat merespons dengan membentuk aliansi baru, meningkatkan kapasitas pertahanan, mengubah orientasi diplomatik, atau mencari mitra ekonomi dan strategis baru.
Karena itu, konflik Amerika Serikat dan Iran tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai keseimbangan kekuatan global. Setiap eskalasi dapat memengaruhi harga energi, jalur perdagangan, keamanan kawasan, hubungan Amerika Serikat dengan sekutunya, kepentingan China, posisi Rusia, serta ruang gerak negara-negara seperti Indonesia.
Cara berpikir tersebut memperlihatkan kekuatan analisis Mas Angga sebagai ilmuwan politik. Ia tidak berhenti pada peristiwa, tetapi berusaha menemukan hubungan antara peristiwa, struktur, aktor, kepentingan, dan perubahan konfigurasi kekuasaan.
Pertanyaan mengenai kepentingan menjadi sangat penting dalam membaca konflik. Siapa yang memperoleh keuntungan dari perubahan keseimbangan kekuatan, siapa yang kehilangan pengaruh, siapa yang mempunyai kepentingan mempertahankan status quo, dan siapa yang berusaha mengubah tatanan merupakan pertanyaan yang dapat membuka lapisan geopolitik di balik suatu perang.
Dalam konteks Timur Tengah, pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit karena kawasan tersebut tidak hanya menjadi arena persaingan negara regional. Amerika Serikat, China, Rusia, Israel, Iran, negara-negara Arab, perusahaan energi, industri pertahanan, dan berbagai aktor nonnegara mempunyai kepentingan yang saling bertemu sekaligus bertentangan.
Di sinilah pendekatan ekonomi-politik kritis mempunyai arti penting. Konflik dapat menghasilkan konsekuensi ekonomi yang besar, perubahan harga energi, peningkatan kebutuhan pertahanan, pergeseran investasi, perubahan jalur perdagangan, serta terbentuknya peluang baru bagi negara atau perusahaan tertentu.
Namun membaca kepentingan ekonomi tidak berarti mengabaikan ideologi, identitas, sejarah, dan keamanan. Justru kekuatan analisis terletak pada kemampuan melihat bahwa faktor-faktor tersebut bekerja secara bersamaan dan menghasilkan keputusan politik yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu sebab tunggal.
Mas Angga menunjukkan bahwa kompleksitas geopolitik tidak boleh membawa kita kepada relativisme moral. Memahami kepentingan setiap aktor tidak berarti menganggap semua tindakan mempunyai bobot moral yang sama, karena tetap terdapat persoalan mengenai korban, hak asasi manusia, kedaulatan, kemerdekaan, dan keadilan yang harus menjadi bagian dari analisis politik.
Di sinilah warisan Sukarno kembali menemukan tempatnya. Anti-imperialisme membutuhkan analisis kekuasaan agar tidak berhenti sebagai slogan, sementara analisis kekuasaan membutuhkan keberpihakan kepada kemanusiaan agar tidak berubah menjadi kalkulasi geopolitik yang dingin.
Mas Angga memperlihatkan kemungkinan mempertemukan dua dimensi tersebut dalam kerja intelektual. Ia dapat membaca kekuatan Iran sebagai bagian dari struktur geopolitik sekaligus mempertahankan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan yang muncul dari konflik dan kebijakan negara-negara besar.
Bagi Indonesia, cara membaca semacam ini mempunyai arti strategis. Indonesia tidak mempunyai kepentingan untuk menjadi bagian dari blok kekuatan tertentu dalam persaingan Timur Tengah, tetapi Indonesia mempunyai kepentingan untuk mempertahankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, mendukung perdamaian, serta memperjuangkan tatanan internasional yang lebih adil.
Mas Angga mengajarkan bahwa posisi Indonesia perlu dibangun melalui kemampuan membaca dunia secara kritis. Indonesia tidak cukup hanya menyatakan keprihatinan ketika perang berlangsung, tetapi perlu memahami struktur yang menyebabkan konflik, perubahan kepentingan para aktor, serta kemungkinan dampaknya terhadap kepentingan nasional dan kemanusiaan.
Dalam konteks Palestina, Indonesia mempunyai warisan politik yang kuat mengenai anti-kolonialisme. Dalam konteks Iran dan persaingan kekuatan global, Indonesia membutuhkan kemampuan menjaga otonomi strategis agar tidak mudah terseret ke dalam pertarungan kekuatan yang bukan kepentingan langsung Indonesia.
Di sinilah intelektual organik memperoleh relevansinya. Intelektual tidak hanya bertugas menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga membantu masyarakat memahami mengapa suatu peristiwa terjadi, siapa yang mempunyai kekuasaan, bagaimana kepentingan bekerja, serta nilai apa yang seharusnya menjadi dasar dalam menentukan sikap politik.
Warisan Mas Angga karena itu tidak hanya terletak pada karya akademiknya, tetapi juga pada keberaniannya membawa ilmu politik ke ruang publik. Ia menunjukkan bahwa akademisi dapat berbicara mengenai politik internasional dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat luas tanpa kehilangan kedalaman analisis.
Mengenang Mas Angga melalui Timur Tengah berarti mengenang seorang intelektual yang berusaha membaca dunia melalui hubungan antara kekuasaan dan kemanusiaan. Palestina memperlihatkan kepadanya persoalan kolonialisme dan kemerdekaan, Iran memperlihatkan kompleksitas kekuatan regional, sementara Amerika Serikat dan kekuatan global lainnya memperlihatkan bahwa Timur Tengah merupakan salah satu arena penting dalam pembentukan tatanan dunia.
Dalam pembacaan tersebut, Sukarno dan Marhaenisme bukan tambahan yang ditempelkan dari luar. Keduanya merupakan bagian dari horizon intelektual yang membantu menjelaskan mengapa Mas Angga melihat nasionalisme Indonesia mempunyai hubungan dengan internasionalisme, mengapa kemerdekaan mempunyai dimensi universal, dan mengapa politik harus selalu berhubungan dengan persoalan pembebasan manusia.
Itulah sebabnya sosok Airlangga Pribadi layak dikenang sebagai intelektual organik yang tidak memisahkan ruang akademik dari pergulatan masyarakat. Ia memperlihatkan bahwa ilmu politik dapat menjadi cara untuk memahami kekuasaan sekaligus menjadi sarana mempertanyakan kekuasaan ketika kekuasaan menghasilkan ketidakadilan.
Timur Tengah menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan keseluruhan watak intelektual tersebut. Dari Palestina hingga Iran, dari Israel hingga Amerika Serikat, dari kolonialisme hingga geopolitik, Mas Angga mengajarkan pentingnya melihat hubungan antara sejarah, struktur, kepentingan, kekuasaan, dan manusia.
Bagi generasi yang meneruskan kerja intelektualnya, tantangan terbesar bukan menghafalkan kesimpulan yang pernah ia sampaikan. Tantangannya adalah meneruskan cara berpikir yang berani mempertanyakan struktur kekuasaan, membaca politik secara historis, menghubungkan persoalan nasional dengan persoalan internasional, serta mempertahankan keberpihakan kepada demokrasi dan keadilan sosial.
Mengenang Mas Angga berarti juga mengingat bahwa intelektual mempunyai tanggung jawab terhadap zamannya. Ia tidak harus selalu berada di ruang yang nyaman, karena pengetahuan justru memperoleh maknanya ketika digunakan untuk memahami persoalan nyata dan membantu masyarakat melihat hubungan antara kehidupan sehari-hari dengan struktur politik yang lebih luas.
Dalam konteks Timur Tengah, warisan tersebut terasa sangat relevan. Dunia sedang menyaksikan bagaimana perang, kepentingan strategis, nasionalisme, kolonialisme, teknologi militer, energi, dan persaingan kekuatan global terus membentuk kehidupan jutaan manusia, sehingga kebutuhan terhadap pembacaan politik yang kritis semakin besar.
Mas Angga meninggalkan kita ketika masih banyak pertanyaan yang belum selesai. Pertanyaan mengenai Palestina, mengenai masa depan Timur Tengah, mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran, mengenai posisi China dan Rusia, mengenai politik luar negeri Indonesia, serta mengenai bagaimana gagasan Sukarno dan Marhaenisme dapat terus menjawab persoalan zaman akan tetap terbuka bagi generasi berikutnya.
Di sanalah penghormatan terbaik kepada seorang intelektual tidak berhenti pada kenangan personal. Penghormatan itu dapat diwujudkan dengan melanjutkan pertanyaan yang pernah ia ajukan, memperluas penelitian yang pernah ia kerjakan, menguji kembali gagasan yang pernah ia kembangkan, dan membawa keberanian intelektualnya ke dalam persoalan-persoalan baru yang dihadapi masyarakat.
Rest in Peace, Mas Airlangga Pribadi Kusman !!!
(miq/miq)