Durian Balai Karangan dan Sejuta Potensi di Sungai Sekayam
Desa Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, merupakan salah satu wilayah yang tidak jauh dari kawasan perbatasan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Entikong. Sebagai pusat aktivitas Kecamatan Sekayam, Desa Balai Karangan memiliki geliat ekonomi dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi. Di tengah aktivitas itu, tersimpan potensi lokal yang telah lama hidup, bahkan sanggup menembus podium kontes durian tingkat Sanggau, yakni durian.
"Durian di sini kualitasnya sangat bagus, beberapa kali juga menang kontes di Sanggau dan Pontianak. Tapi belum bisa kita pasarkan luas," ujar Kepala Desa Balai Karangan, Erzan Umar, kepada Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Setelah mengulik panjang, pohon-pohon durian yang tumbuh di sepanjang Sungai Sekayam hingga ke bagian dalam wilayah desa ternyata telah diwariskan dari generasi ke generasi, dan menghasilkan buah dengan karakter yang khas. Namun, di balik kualitas dan kelimpahannya, tersimpan pertanyaan yang lebih besar, mengapa potensi sebesar ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat setempat?
Kisah Pak Tam, Petani yang Juga Pengepul
Namanya Pak Tam (Gunawan). Ia bukan sekadar petani durian, melainkan juga pengepul yang menghubungkan buah-buahan dari kebun warga ke pasar. Sosoknya cukup penting ketika berbicara mengenai durian Balai Karangan, terutama setelah membawa pulang juara kedua dalam kontes durian se-Sanggau yang digelar di Pontianak.
Kebun durian miliknya berisi 15 pokok pohon yang harus diseberangi sungai untuk mencapainya. Uniknya, pohon-pohon itu nyaris tidak pernah disentuh untuk perawatan khusus, hanya dibiarkan tumbuh secara alami dan baru "diperhatikan" ketika musim durian tiba. Bagi Pak Tam, kebun ini bukan semata-mata aset ekonomi, tetapi warisan leluhur yang telah berpindah tangan selama empat generasi, dengan sejarah yang disebut-sebut berumur ratusan tahun.
Menariknya, dari situlah keistimewaan durian Balai Karangan bermula: usia pohon yang sudah sangat tua diyakini menjadi salah satu alasan mengapa buahnya dianggap istimewa dibandingkan durian budidaya yang lebih muda.
"Kebun ini bukan milik saya pribadi. Ini warisan dari nenek moyang, sudah generasi keempat," kata Pak Tam saat ditemui Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia di kediamannya, sambil menceritakan sejarah pohon-pohon durian yang disebutnya sudah berumur ratusan tahun.
Varietas Lokal, Kualitas Premium
Balai Karangan mengenal beragam jenis durian lokal, mulai dari sembut, balening, karung, udang, notu, hingga dua nama yang paling harum di telinga warga: raja udang dan serumput. Di antara semuanya, serumput adalah rajanya.
"Dia ini yang paling premium-lah, dagingnya kuning pekat, teksturnya lembut creamy, dan manisnya bisa melampaui angka 40 persen," ujarnya, yang menurut Pak Tam menjadi penentu utama kemenangan dalam kontes durian. Karena reputasinya juga, serumput dijual dengan harga yang jauh di atas durian biasa, bisa mencapai 1 juta rupiah per buah di Pontianak.
Produksi dan Omzet: Menjanjikan tapi Belum Optimal
Dalam satu musim panen, Pak Tam bisa mengumpulkan sekitar 200-300 kilogram durian dari 15 pohon, dengan omzet yang bisa menyentuh 10 juta rupiah per hari. Tahun 2026 ini bahkan disebut membawa berkah tambahan karena musim panen berlangsung dua kali. Puncak musim biasanya jatuh pada minggu kedua hingga ketiga sejak durian mulai berbuah, dengan masa panen secara keseluruhan berlangsung sekitar 40 hari.
Ironisnya, melimpahnya hasil panen tidak selalu berarti berkah bagi para petani. Pada tahun 2024, harga durian di Balai Karangan sempat anjlok akibat pasokan yang membludak. Hal ini diperparah oleh masuknya stok durian dari Malaysia yang turut membanjiri pasar.
Selama ini, jalur pemasaran durian Pak Tam nyaris seluruhnya bermuara pada satu kota, yakni Pontianak. Sistemnya pun sederhana. Pemasar dari Pontianak justru datang langsung ke Balai Karangan untuk mengambil pasokan, bukan Pak Tam yang mengirimkannya. Pola distribusi satu arah dan satu tujuan ini membuat durian Balai Karangan, sekualitas apa pun, sulit menjangkau pasar yang lebih luas.
"Ya, mungkin ada yang sampai luar Pontianak, tapi biasanya tetap ke Pontianak dulu. Mereka yang kemaslah mungkin, soalnya kalau masih dalam buah kan terbatas waktunya, kalau sudah terbuka, daya tahan buahnya juga menurun. Sulitlah." Ujar Pak Tam.
Distribusi Luar Pulau: Peluang yang Masih Buntu
Menurut penuturan Pak Tam, permintaan dari luar pulau sebenarnya sudah ada sejak lama. "Sebenarnya dari tahun 2000-an saya sudah tahu cara ngemas durian biar bisa dikirim jauh, tapi yang susah itu waktu, tenaga, sama cara melakukannya," jelasnya, sehingga akses pemasaran tidak pernah benar-benar terbuka lebar.
Menurut penuturan Pak Tam, Desa Balai Karangan memiliki sekitar 30 pengepul dan ratusan petani durian yang tersebar di sepanjang Sungai Sekayam. Jika seluruh potensi ini dikonsolidasikan, hasil panen satu desa pada puncak musim diperkirakan bisa mencapai sekitar 10 ton dalam sehari, angka yang jauh melampaui kapasitas satu pengepul seperti Pak Tam yang hanya sanggup menampung 200 biji per hari.
Sayangnya, potensi sebesar ini belum diimbangi oleh dukungan kelembagaan. Belum ada dukungan dari dinas terkait, dan bahkan di antara sesama petani pun belum terjalin kerja sama yang solid. Mayoritas petani lain memilih menjual langsung ke pengepul karena keterbatasan tenaga kerja dan tantangan iklim yang membuat mereka kesulitan memanen sendiri.
Ketika ditanya apakah pembentukan komunitas petani sekaligus pembukaan akses pasar yang lebih luas memungkinkan, jawaban Pak Tam singkat namun penuh keyakinan: "Bisa." Ia bahkan telah mulai mengumpulkan petani lain untuk mencari cara bersama mempertahankan eksistensi durian Balai Karangan, meski masih melalui pertemuan di warung kopi.
Belum Jadi Ikon, Belum Dapat Dukungan
Meski durian sudah menjadi identitas tidak resmi Desa Balai Karangan selama bergenerasi, belum ada arahan resmi dari pemerintah desa untuk menetapkannya sebagai komoditas unggulan. "Sejauh ini belum ada kontribusi dari desa maupun dinas," demikian pengakuan Pak Tam saat isu ini dibahas.
Pengakuan ini pun sejalan dengan yang disampaikan langsung oleh pemerintah desa. "Kayaknya bantuan belum ada dari dinas, terutama terkait durian ini ya," ujar Kepala Desa Balai Karangan, Erzan Umar, kepada Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia, Selasa, 11 Agustus 2026.
Padahal, ancaman terhadap keberlangsungan durian ini nyata: alih fungsi lahan dari kebun durian ke perkebunan sawit sudah mencapai ribuan hektare di kawasan tersebut. Bagi Pak Tam, ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan menjaga warisan leluhur agar tidak hilang begitu saja. Hal ini menjadi komitmen yang membuatnya terus bertahan meski belum ada satu pun media yang pernah mengangkat kisahnya sebelumnya.
Sorotan dari Tim Ekspedisi Patriot UI
Kisah Pak Tam dan durian Balai Karangan ini terangkat ke permukaan melalui penelusuran tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia bersama Universitas Tanjungpura, yang turun langsung ke lapangan untuk mendokumentasikan potensi sekaligus persoalan yang selama ini luput dari perhatian. Satu hal yang menjadi sorotan penting sekaligus pengingat adalah bahwa branding dan popularitas komoditas lokal masih menjadi tantangan bagi desa yang jauh dari sorotan media.
Balai Karangan sebenarnya sudah memiliki sesuatu yang tidak mudah dibangun dari awal, yakni varietas lokal yang berdaya saing, petani dengan pengetahuan turun-temurun, serta konsumen yang bersedia membayar mahal demi kualitas tertentu. Namun, kualitas dan potensi saja ternyata belum cukup.
Pasar yang masih terpaku pada satu kota, ketiadaan sistem distribusi ke luar pulau, harga yang rapuh setiap kali pasokan membludak, absennya dukungan kelembagaan dari desa maupun dinas, serta ancaman alih fungsi lahan masih menyisakan satu tugas besar bagi Desa Balai Karangan.
Tentu tugas ini bukan lagi menemukan apa yang menjadi unggulannya, melainkan memastikan agar durian itu tetap tumbuh, dikenal, dan akhirnya mampu berbuah menjadi kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
(miq/miq)