Di Balik Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Rupiah sepanjang tahun 2026 per 31 Juli telah melemah sekitar 8% terhadap dolar AS (USD). Kenaikan suku bunga kebijakan BI Rate 100bps ke 5,75% di Mei-Juni 2026 ternyata hanya mampu menstabilkan kurs Rupiah di sekitar Rp18.000-an per USD.
Meski sudah tembus Rp18.000 per USD - terendah sejak krisis 1998 -Rupiah belum dalam kondisi krisis. Krisis mata uang ditandai depresiasi sangat tajam, minimal 10% dalam sebulan atau 25-30% dalam setahun (Frankel & Rose (1996) dan Gower & Krause (2002)).
Pemerintah sering menjelaskan pelemahan Rupiah disebabkan faktor eksternal seperti gejolak geopolitik, kenaikan harga minyak, penguatan USD, kenaikan yield US Treasury, dan faktor musiman.
Jika faktor eksternal menjadi penyebab utama depresiasi Rupiah, seharusnya mata uang negara lain di kawasan ASEAN juga mengalami tekanan serupa. Faktanya, sepanjang tahun berjalan Dollar Index hanya menguat sekitar 1,7%, jauh lebih kecil daripada pelemahan Rupiah yang mencapai 8%.
Pada saat yang sama, Ringgit Malaysia (MYR) hanya melemah sekitar 1%. Sedangkan Dong Vietnam (VND) relatif stabil. Ini membuktikan pelemahan Rupiah tidak bisa dijelaskan semata-mata oleh faktor eksternal global.
Pergerakan harga aset finansial seperti kurs Rupiah dalam jangka pendek bersifat acak (random) sehingga tidak mudah menentukan faktor penyebabnya. Untuk menentukan apakah faktor eksternal atau internal yang menyebabkan pelemahan Rupiah maka harus dilihat perbandingannya dengan pergerakan kurs mata uang negara lain dalam jangka panjang, misal 10 dan 20 tahun.
Dalam 10 tahun terakhir, Rupiah melemah sekitar 37%. Peso Filipina (PHP) dan VND masing-masing terdepresiasi 30% dan 18%. Depresiasi MYR terbatas di 2% dan Baht Thailand (THB) justru menguat 5%.
Dalam horizon 20 tahun, Rupiah terdepresiasi sekitar 98%, terlemah di antara mata uang ASEAN pembanding. Kurs VND melemah sekitar 64%, PHP sekitar 19%, MYR sekitar 12%. Lagi-lagi THB terapresiasi 11%.
Baik untuk periode 10 tahun dan 20 tahun satu hal konsisten: Rupiah jauh melemah dibandingkan mata uang ASEAN pembanding lain. Meski mata uang PHP dan VND juga melemah tapi tidak separah Indonesia.
Jelas faktor eksternal dan musiman tidak cukup untuk menjelaskan tren depresiasi jangka panjang Rupiah. Bahkan Rupiah tetap melemah meski faktor eksternal mendukung berupa arus modal asing masuk dalam skala besar dan suku bunga global turun di periode 2010-2019.
Akar persoalan depresiasi Rupiah yang berkelanjutan adalah masalah struktural ekonomi: daya saing ekonomi Indonesia sangat lemah, khususnya di sektor manufaktur. Indonesia memang unggul sebagai eksportir komoditas, namun tertinggal dalam produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Defisit transaksi berjalan yang berulang menunjukkan bahwa kebutuhan devisa Indonesia sering lebih besar daripada kemampuan ekonomi menghasilkan devisa.
Salah satu proksi daya saing adalah produktivitas per pekerja. Produktivitas per pekerja Indonesia di 2023 sekitar US$30 (PDB Konstan PPP 2021, sumber: APO Productivity Databook 2025). Produktivitas pekerja Malaysia dan Thailand di atas Indonesia masing-masing di US$76 dan US$39. Sedangkan produktivitas pekerja Filipina dan Vietnam lebih rendah dari Indonesia masing-masing di US$26 dan US$25.
Meski produktivitas pekerja Vietnam lebih rendah tapi dengan cepat mengejar Indonesia. Pada tahun 2000 produktivitas pekerja Vietnam sekitar US$7,6, kurang dari setengah produktivitas pekerja Indonesia. Selama 2000-2023 produktivitas pekerja Vietnam tumbuh 5,3% per tahun vs 2,9% per tahun untuk Indonesia, sehingga produktivitas Vietnam di 2023 sudah mencapai 83% produktivitas pekerja Indonesia.
Peningkatan produktivitas pekerja Vietnam terlihat dari daya saing produk dan pertumbuhan nilai ekspornya. Di tahun 2000 nilai ekspor Indonesia USD68 miliar, empat kali lipat nilai ekspor Vietnam yang kurang dari USD17 miliar.
Di tahun 2025 nilai ekspor Vietnam sudah mencapai USD475 miliar, hampir 1,7 kali lipat ekspor Indonesia di USD283 miliar. Vietnam berhasil memperkuat basis manufaktur dan masuk lebih dalam ke rantai pasok global, sementara ekspor Indonesia terus tergantung produk komoditas.
Perbandingan dengan Vietnam menunjukkan: pelemahan mata uang Vietnam VND memacu daya saing ekspor kontras dengan pelemahan Rupiah yang disebabkan kalah bersaing di pasar ekspor global.
Meski secara struktural ekonomi Indonesia kalah dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam, tetapi sektor finansial Indonesia sangat menarik investor global. Sepanjang 2010-2019, arus modal portofolio ke saham dan surat berharga negara mencapai lebih dari USD82 miliar.
Namun, Rupiah tetap melemah dari sekitar Rp9.400 per USD pada akhir 2009 menjadi sekitar Rp14.100 pada akhir 2019, depresiasi sebesar 50%. Ini menunjukkan bahwa arus modal finansial besar pun tidak cukup membuat Rupiah menguat bila fondasi struktural ekonominya lemah.
Karena tidak mampu mengatasi masalah struktural, kebijakan ekonomi sering bertumpu pada stimulus fiskal dan moneter untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka pendek, stimulus makro memang dapat mendorong aktivitas ekonomi, seperti terlihat pada peningkatan pertumbuhan PDB di akhir 2025 dan awal 2026.
Namun, dalam jangka panjang, stimulus makro yang tidak diimbangi peningkatan produktivitas pekerja hanya akan mendorong inflasi, defisit neraca pembayaran, dan pelemahan nilai tukar.
Stimulus makro tersebut misalnya terlihat dari pertumbuhan uang Indonesia (M2) 2011-2024 rata-rata mencapai 10% per tahun, di atas pertumbuhan uang Malaysia dan Thailand di periode yang sama masing-masing sekitar 6% per tahun.
Sedangkan pertumbuhan uang beredar di Filipina dan Vietnam masing-masing 11% dan 14% per tahun. Sama seperti Indonesia, keduanya juga mengalami depresiasi mata uang yang lebih besar dibandingkan Malaysia dan Thailand. Negara dengan disiplin moneter dan transformasi struktural yang lebih baik, seperti Malaysia dan Thailand, cenderung memiliki mata uang yang lebih stabil.
Singkatnya, pelemahan Rupiah bukan sekadar akibat gejolak eksternal, arus modal keluar, atau faktor musiman. Penyebab utama depresiasi Rupiah adalah kegagalan transformasi struktural ekonomi Indonesia: produktivitas rendah, sektor manufaktur lemah, ekspor bernilai tambah terbatas, dan ketergantungan pada stimulus makro. Jika pola kebijakan makro yang sama terus berlanjut, Rupiah akan terus melemah dari tahun ke tahun.
(miq/miq)