Quesnay, Turgot, dan Napoleon
Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.
Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.
Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman. Adapun episode Ke-19 ini kami beri judul: "Quesnay, Turgot dan Napoleon (Bagian 2)".
Baca:Quesnay dan Turgot |
Dan bangsa yang terluka jarang tertarik pada pengorbanan. Mereka mencari sesuatu yang lain, mereka mencari kemenangan. Mereka mencari seseorang yang dapat berkata: Kalian benar, masalahnya bukan pada kalian, masalahnya ada pada dunia yang mengelilingi kalian.
Dan beberapa tahun kemudian, di tengah revolusi, perang, dan kekacauan, seorang perwira muda dari Korsika akan muncul menawarkan jawaban itu. Ia tidak berbicara tentang produksi seperti Quesnay dan ia tidak berbicara tentang reformasi seperti Turgot. Ia berbicara tentang kejayaan, tentang kemenangan, tentang Prancis yang tidak lagi meminta tempat di Eropa, tetapi mengambilnya. Namanya Napoleon Bonaparte.
Napoleon dan Jalan Ketiga
Pada tahun 1799, Prancis telah mencoba hampir segalanya. Ia telah mencoba kebijaksanaan, telah mencoba reformasi, dan telah mencoba revolusi. Namun tidak satu pun berhasil menjawab pertanyaan yang paling penting: Siapa yang akan menanggung biaya penyelamatan Prancis?
Quesnay menjawab: Perbesar produksi. Turgot menjawab: Bagikan beban lebih adil. Revolusi menjawab: Hancurkan hak istimewa. Namun setelah bertahun-tahun kekacauan, utang masih ada, Perang masih ada, Krisis masih ada, Dan rakyat mulai lelah.
Sejarah sering kali menciptakan ruang bagi tokoh-tokoh tertentu. Bukan karena mereka paling bijak, bukan karena mereka paling benar. Tetapi karena masyarakat mulai kehilangan kesabaran terhadap jawaban-jawaban yang membutuhkan waktu.
Napoleon Bonaparte memahami hal itu, lebih baik daripada siapa pun. Ia bukan filsuf, Ia bukan ekonom, Ia tidak menulis teori tentang produksi seperti Quesnay dan tidak menulis memorandum fiskal seperti Turgot.
Namun ia memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki keduanya. Ia memahami psikologi bangsa yang terluka. Napoleon melihat sesuatu yang sederhana, Prancis sedang marah. Tetapi kemarahan itu tidak memiliki arah.
Ia melihat rakyat yang merasa telah berkorban. Ia melihat tentara yang merasa tidak dihargai, dan Ia melihat negara yang merasa kekuatannya tidak tercermin dalam kekayaannya. Dan ia menawarkan sesuatu yang tidak pernah ditawarkan Quesnay maupun Turgot. Bukan pengorbanan, melainkan kemenangan. Bukan reformasi, melainkan kejayaan.
Dan yang paling penting, ia menawarkan jalan keluar yang tidak mengharuskan bangsa Prancis saling berperang dengan dirinya sendiri. Karena itulah sesungguhnya kelemahan solusi Turgot. Jika aristokrasi harus membayar, Mereka akan melawan. Jika petani harus membayar, Mereka akan memberontak. Jika kreditur harus membayar, Mereka akan menghentikan pembiayaan. Setiap solusi internal menciptakan musuh di dalam negeri.
Napoleon menemukan solusi eksternal. Ia memindahkan pertanyaan itu keluar perbatasan, sesuai dengan kecurigaan kenapa Prancis berhutang kepada kota-kota dagang. Tahun 1796, Ketika memimpin Tentara ke Italia, ia menemukan sesuatu yang luar biasa, Kota-kota Italia kaya.
Negara-negara kecil Italia memiliki kas, memiliki emas, memiliki aset, Memiliki koleksi seni yang bernilai luar biasa. Dan yang lebih penting, mereka tidak memiliki kemampuan militer untuk menolak Napoleon.
Dalam beberapa tahun berikutnya, Uang, Emas, upeti dan karya seni mengalir ke Paris. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Prancis merasa menang.
Dan kemenangan memiliki efek yang tidak bisa diberikan oleh reformasi, ia menyatukan. Tiba-tiba pertanyaan yang membelah bangsa menghilang.
Tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang harus membayar. Karena ada pihak lain yang membayar. Italia, Austria, Belanda, Jerman yang membayar. Dalam bahasa modern, Napoleon menemukan apa yang hari ini mungkin kita sebut sebagai: absorber eksternal dalam bentuk yang paling sinis.
Sebuah cara untuk memperbaiki neraca nasional tanpa harus melakukan distribusi ulang beban secara menyakitkan di dalam negeri. Dan karena berhasil, Masyarakat mulai percaya bahwa inilah jawaban yang benar. Seorang bangsawan kecil menjadi Jendral, lalu Kaisar, ini tidak akan pernah terjadi di era Bourbon.
Tetapi seperti semua solusi yang terlalu berhasil, jawaban itu menyimpan masalahnya sendiri. Semakin banyak kemenangan yang diraih, semakin besar pula sistem yang harus dipertahankan. Semakin besar wilayah yang dikuasai, semakin besar biaya yang harus dibiayai.
Prancis perlahan berubah. Awalnya perang digunakan untuk menyelesaikan krisis, Kemudian perang menjadi bagian dari sistem itu sendiri. Dan tanpa disadari, Bangsa yang awalnya mencari jalan keluar dari utang mulai bergantung pada kemenangan berikutnya untuk mempertahankan keseimbangannya.
Napoleon mungkin tidak pernah membaca Quesnay. Ia mungkin tidak pernah duduk bersama Turgot. Namun secara tidak langsung ia menjawab keduanya.
Quesnay berkata: Produksi adalah sumber kekayaan, Napoleon menjawab: Kemenangan lebih cepat. Turgot berkata: Beban harus dibagi secara adil, Napoleon menjawab: Lebih mudah jika orang lain yang menanggungnya.
Dan sejarah memilih Napoleon. Bukan karena ia memenangkan perdebatan, tetapi karena ia memenangkan perang. Namun jauh di balik kemenangan itu, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Bukan hanya perubahan pemerintahan, Bukan hanya perubahan ekonomi, Melainkan perubahan peradaban.
Dunia kota-kota dagang yang telah mendominasi Eropa selama berabad-abad mulai surut. Dan sebuah kekuatan baru mulai muncul menggantikannya. Bukan pedagang, Bukan bankir, melainkan negara. Negara yang memiliki tentara, Negara yang memiliki birokrasi, Negara yang mengklaim berbicara atas nama seluruh bangsa.
Dan tanpa banyak yang menyadarinya, perang Napoleon bukan hanya mengubah peta Eropa. Ia membantu mengakhiri sebuah zaman, akhir dari kota dagang. Ketika Napoleon memasuki Italia, banyak orang mengira yang sedang mereka saksikan hanyalah sebuah kampanye militer. Mereka salah!
Yang sedang berakhir bukan sekadar perang. Yang sedang berakhir adalah sebuah cara lama memahami dunia. Selama berabad-abad, Eropa tidak diperintah oleh negara-negara besar seperti yang kita kenal hari ini. Sebagian besar kekuatan ekonomi justru lahir dari kota-kota. Kota yang memiliki pelabuhan, Kota yang memiliki bankir, Kota yang memiliki pedagang. Genoa, Venice, Amsterdam, Hamburg.
Mereka tidak memiliki wilayah luas, Mereka tidak memiliki populasi besar. Namun mereka mengendalikan sesuatu yang lebih penting. Arus barang, arus uang, arus informasi.
Dalam banyak hal, mereka adalah internet pada zamannya. Mereka menghubungkan dunia. Mereka membiayai raja-raja, Mereka mengasuransikan kapal-kapal, Mereka menerbitkan surat kredit, Mereka mencatat transaksi yang menghubungkan benua. Dan selama berabad-abad, sistem itu bekerja.
Tetapi sistem itu memiliki satu kelemahan, ia bergantung pada dunia yang terpecah. Dunia di mana kerajaan kecil saling bersaing. Dunia di mana tidak ada satu kekuatan yang cukup besar untuk mendominasi semuanya. Dalam dunia seperti itu, kota dagang menjadi penengah, menjadi penghubung, menjadi pusat gravitasi.
Namun Napoleon membawa sesuatu yang berbeda. Ia membawa negara, bukan negara dalam arti lama, melainkan sesuatu yang baru. Negara yang mampu memobilisasi seluruh rakyatnya. Negara yang mampu mengumpulkan pajak secara sistematis, negara yang mampu memanggil ratusan ribu tentara atas nama bangsa.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, muncul kekuatan terorganisir yang lebih besar daripada kota. Dan kota-kota dagang tidak siap menghadapinya.
Venezia adalah contoh yang paling tragis. Selama hampir seribu tahun, Republik Venesia bertahan. Ia selamat dari perang, Ia selamat dari wabah, Ia selamat dari perubahan dinasti. Namun ia tidak selamat dari Napoleon.
Pada tahun 1797, republik yang telah hidup selama hampir satu milenium dibubarkan. Bukan karena miskin, bukan karena tidak mampu berdagang, tetapi karena dunia yang melahirkannya telah menghilang.
Genoa mengalami nasib yang serupa. Republik tua yang pernah membiayai kekaisaran Spanyol perlahan kehilangan kemerdekaannya. Bukan karena bankir-bankirnya kehilangan kemampuan, tetapi karena negara-bangsa menjadi lebih kuat daripada jaringan kredit yang mereka bangun.
Di seluruh Eropa, pola yang sama mulai muncul. Kota tidak lagi menentukan negara, Negara mulai menentukan kota. Ini adalah perubahan yang jauh lebih besar daripada kemenangan militer. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, pusat gravitasi ekonomi dan politik mulai menyatu.
Prancis tidak lagi ingin menjadi pelanggan dari jaringan Eropa, Prancis ingin menjadi pusat sistem itu sendiri. Dan secara ironis, banyak hal yang dulu dikeluhkan oleh Quesnay dan Turgot mulai diwujudkan oleh Napoleon. Bukan melalui reformasi, tetapi melalui konsolidasi kekuasaan.
Banque de France dibentuk (Bank Sentral), administrasi fiskal diperkuat, hukum diseragamkan lewat kode napoleon dan birokrasi dibangun. Prancis menjadi lebih mampu mengendalikan nasib ekonominya sendiri. Tetapi ada harga yang harus dibayar. Karena ketika negara menjadi lebih kuat, ruang bagi kota menjadi lebih kecil.
Ketika bangsa menjadi identitas utama. Jaringan perdagangan lintas batas kehilangan sebagian legitimasi politiknya. Dan ketika kekuasaan terpusat pada negara, dunia lama para pedagang mulai surut.
Sejarah kemudian mengingat Napoleon sebagai jenderal, penakluk, kaisar. Tetapi mungkin warisannya yang paling besar bukanlah kemenangan militernya. Melainkan fakta bahwa ia membantu mengubur dunia lama. Dunia di mana kota-kota dagang menjadi pusat peradaban, dan menggantinya dengan dunia baru, dunia negara-bangsa, yang mana perlahan-lahan mulai membayangkan dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kota tempat mereka lahir.
Quesnay tidak pernah membayangkan dunia itu, Turgot mungkin akan merasa cemas melihatnya, tetapi Napoleon membangunnya. Dan seperti sering terjadi dalam sejarah, orang yang memenangkan zaman bukanlah orang yang paling memahami masalah, melainkan orang yang paling mampu menawarkan jawaban yang sesuai dengan arah arus sejarah.
Namun ada satu pertanyaan yang tetap tertinggal. Satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab oleh Quesnay, Turgot, maupun Napoleon. Jika sebuah bangsa tidak dapat terus menerus memindahkan beban kepada pihak luar, dan jika kemenangan tidak bisa berlangsung selamanya, maka siapa yang akhirnya harus menanggung biaya keseimbangan sebuah negara? Dan pertanyaan itulah yang akan menghantui Eropa sepanjang abad berikutnya.
Kemenangan yang Mengandung Kekalahan
Napoleon menyelesaikan banyak masalah Prancis, dan justru karena itulah ia menjadi begitu berbahaya. Ada jenis kegagalan yang mudah dikenali, kas kosong, Tentara kalah, Rakyat memberontak.
Tetapi ada jenis keberhasilan yang jauh lebih sulit dikenali. Keberhasilan yang membuat orang berhenti mengajukan pertanyaan yang benar. Napoleon memberikan Prancis sesuatu yang sudah lama hilang, Kebanggaan! Selama puluhan tahun, bangsa itu hidup dengan kegelisahan.
Mereka melihat utang, mereka melihat kekacauan politik dan mereka melihat revolusi memakan anak-anaknya sendiri. Kemudian tiba-tiba muncul seorang jenderal muda yang membawa kemenangan. Italia jatuh, Austria mundur, Prusia terguncang dan Eropa berlutut.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, rakyat Prancis tidak lagi bertanya: Siapa yang harus menanggung biaya negara? Mereka terlalu sibuk merayakan kemenangan.
Namun sejarah memiliki kebiasaan yang aneh. Ia sering menyembunyikan masalah di dalam keberhasilan. Karena semakin sukses Napoleon, semakin sedikit alasan untuk melakukan reformasi yang sebenarnya.
Quesnay tidak lagi dibutuhkan. Mengapa berbicara tentang produktivitas jika kemenangan membawa emas? Turgot tidak lagi dibutuhkan. Mengapa membagi beban jika beban dapat dipindahkan? Napoleon tidak menghapus pertanyaan mereka, Ia menundanya.
Dan terkadang penundaan adalah bentuk hutang yang paling berbahaya. Karena setiap kemenangan menciptakan kebutuhan akan kemenangan berikutnya. Prancis yang baru tidak lagi hidup dari reformasi, Ia mulai hidup dari momentum. Tentara harus terus bergerak, wilayah harus terus bertambah, prestise harus terus dipelihara.
Dan tanpa disadari, negara yang dulu mengeluh tentang ketergantungan mulai menciptakan ketergantungan baru. Bukan pada bankir, bukan pada kota dagang, tetapi pada kemenangan itu sendiri, seperti seorang pedagang yang membayar utang lama dengan utang baru.
Napoleon membayar ketegangan lama dengan kemenangan baru. Selama kemenangan datang, sistem bekerja. Ketika kemenangan berhenti, tagihannya kembali muncul, lebih besar daripada sebelumnya.
Maka sesungguhnya tragedi Napoleon bukanlah Waterloo. Ia hanyalah akhir, tragedinya dimulai jauh sebelumnya. Ketika Prancis mulai percaya bahwa masalah struktural dapat diselesaikan oleh keberhasilan eksternal. Karena tidak ada bangsa yang dapat hidup selamanya dari kemenangan.
Cepat atau lambat, semua bangsa harus kembali menjawab pertanyaan yang sama. Siapa yang menghasilkan? Siapa yang membayar? Siapa yang memperoleh manfaat? dan siapa yang menanggung risiko?
Quesnay mencoba menjawabnya melalui produksi, Turgot mencoba menjawabnya melalui reformasi, Napoleon mencoba menjawabnya melalui ekspansi. Dari ketiganya, Napoleonlah yang memenangkan sejarah.
Tetapi kemenangan sejarah tidak selalu berarti kemenangan ekonomi. Karena ketika Napoleon jatuh, Eropa menemukan sesuatu yang mengejutkan. Meskipun kekaisaran telah runtuh, meskipun tentara telah kalah dan perbatasan berubah, satu hal tidak kembali.
Kota dagang tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali dunia lamanya. Venice tidak kembali menjadi Venice, Genoa tidak kembali menjadi Genoa dan Ragusa juga tiada. Dunia telah berubah terlalu jauh.
Yang lahir dari abad Napoleon bukan sekadar Prancis baru, melainkan Eropa baru. Eropa yang semakin percaya bahwa rakyat dan negara adalah satu kesatuan. Eropa yang semakin percaya bahwa ekonomi harus melayani kepentingan nasional. Eropa yang semakin percaya bahwa kekuatan politik dan kekuatan ekonomi tidak boleh dipisahkan terlalu jauh.
Dengan kata lain, Napoleon mungkin akhirnya kalah di Waterloo. Tetapi gagasan yang membawanya berkuasa justru memenangkan abad ke-19. Dan di situlah ironi terbesar cerita ini. Quesnay ingin menyelamatkan Prancis dengan memperkuat sumber kekayaannya, Turgot ingin menyelamatkan Prancis dengan membagi beban secara adil. Napoleon ingin menyelamatkan Prancis dengan membuat bangsa lain menanggung sebagian beban tersebut.
Dua abad kemudian, dunia masih memperdebatkan tiga jawaban yang sama. Karena di balik semua teori ekonomi, semua pasar keuangan, semua mata uang dan obligasi, pertanyaan yang paling tua ternyata tetap tidak berubah:
Ketika sebuah bangsa menghadapi batasnya, apakah ia akan memperbesar produksinya, membagi ulang bebannya, atau mencari orang lain yang menanggungnya? Dan mungkin sejarah modern tidak lebih dari upaya manusia yang terus berulang untuk menjawab pertanyaan itu dengan cara yang berbeda.
Mereka yang Kalah, dan Mereka yang Benar
Pada tahun 1774, ketika Louis XVI naik takhta, Prancis masih memiliki kesempatan. Itulah bagian sejarah yang paling menyedihkan. Bukan karena Prancis tidak memiliki orang-orang cerdas. Bukan karena Prancis tidak memahami masalahnya.
Justru sebaliknya, Prancis memiliki François Quesnay yang memahami bahwa kekayaan tidak lahir dari emas, kekayaan lahir dari produksi. Prancis memiliki Turgot yang memahami bahwa negara tidak akan pernah sehat selama beban hanya ditanggung oleh mereka yang paling lemah.
Mereka melihat penyakitnya, mereka bahkan mengetahui obatnya. Namun sejarah tidak selalu bergerak mengikuti mereka yang memahami penyakit. Sejarah sering bergerak mengikuti mereka yang memahami distribusi kekuasaan. Quesnay meminta para elite mengubah cara berpikir, Turgot meminta para elite ikut membayar namun Napoleon tidak meminta keduanya. Dan justru karena itu Napoleon menang.
Ketika kita membaca sejarah dari kejauhan, sering kali kita tertipu oleh hasil akhirnya. Kita melihat kemenangan dan kejatuhan Napoleon, kita melihat tentara memasuki Italia, kita melihat para raja Eropa bertekuk lutut. Lalu kita mengira itulah jawaban yang benar.
Padahal sering kali sejarah hanya menunjukkan jawaban yang berhasil, bukan jawaban yang benar. Quesnay gagal, Turgot gagal. Tetapi kegagalan mereka mengandung sebuah pelajaran yang jauh lebih panjang umurnya daripada kemenangan Napoleon.
Karena setiap bangsa pada akhirnya akan kembali menghadapi pertanyaan yang sama. Bukan: Bagaimana menjadi kaya? Tetapi: Bagaimana membagi biaya untuk menjadi kaya? Bukan:Bagaimana memperoleh pertumbuhan? Tetapi: Siapa yang harus menanggung penyesuaian ketika pertumbuhan tidak lagi cukup?
Napoleon berhasil menunda pertanyaan itu, ia tidak menjawabnya, ia memindahkannya. Dan selama dua abad berikutnya, banyak negara melakukan hal yang sama. Mereka mencari koloni, mencari pasar baru, mencari sumber daya baru dan kredit baru. Mereka mencari pihak lain yang dapat menyerap ketidakseimbangan yang tidak mampu mereka selesaikan sendiri.
Tetapi sejarah memiliki satu hukum yang kejam. Tidak ada absorber eksternal yang bertahan selamanya. Cepat atau lambat, Semua tagihan pulang ke rumah. Dan ketika itu terjadi, bangsa-bangsa kembali bertemu dengan Quesnay, mereka kembali bertemu dengan Turgot. Mereka kembali bertemu dengan pertanyaan yang dulu ingin mereka hindari.
Karena pada akhirnya, Keseimbangan sebuah negara tidak ditentukan oleh berapa banyak wilayah, tidak ditentukan oleh berapa banyak emas yang dimiliki dan tidak ditentukan oleh berapa banyak kemenangan yang dirayakannya. Tetapi oleh kemampuannya menjawab satu pertanyaan yang sederhana dan sangat tidak nyaman: Siapa yang harus menanggung biaya keberlangsungan bangsa itu?
Mungkin itulah sebabnya nama Napoleon jauh lebih terkenal daripada Quesnay dan Turgot. Napoleon memberikan kemenangan, Quesnay dan Turgot memberikan cermin. Dan seperti kebanyakan manusia, bangsa-bangsa sering lebih menyukai kemenangan daripada cermin.
Namun sejarah yang panjang memiliki kebiasaannya sendiri. Ia selalu kembali kepada mereka yang dulu diabaikan. Karena setelah parade berakhir, setelah tentara pulang, Setelah bendera diturunkan dan Setelah peta berubah. Pertanyaan yang ditinggalkan Quesnay dan Turgot tetap menunggu, Diam tidak berubah menunggu generasi, bangsa dan krisis berikutnya.
Dan setiap kali sebuah bangsa berdiri di tepi ketidakseimbangan, mereka akan kembali mendengar tiga suara dari Prancis abad ke-18. Quesnay berkata: Perkuat sumber kekayaanmu. Turgot berkata: Bagilah bebannya secara adil. Napoleon berkata: Cari orang lain yang menanggungnya.
Tiga suara, tiga jawaban. Dan bangsa-bangsa, hampir tanpa kecuali, selalu mendengar Napoleon lebih keras dari yang lain. Bukan karena mereka bodoh, bukan karena mereka tidak tahu. Tetapi karena Quesnay menawarkan kebenaran, Turgot menawarkan keadilan, dan Napoleon menawarkan sesuatu yang jauh lebih sulit ditolak oleh bangsa yang lelah dan marah, Ia menawarkan harapan.
Dan ketika harapan itu akhirnya habis, ketika kemenangan berhenti datang, ketika absorber eksternal mulai menolak, ketika tagihan yang ditunda selama bertahun-tahun akhirnya pulang ke rumah, barulah bangsa-bangsa kembali mencari Quesnay dan Turgot.
Selalu terlambat, selalu lebih mahal, selalu dengan harga yang seharusnya tidak perlu dibayar. Pertanyaan yang ditinggalkan mereka berdua dua ratus tahun yang lalu masih berdiri di sana, diam, tidak berubah, tidak pernah pergi. Siapa yang harus menanggung biaya keberlangsungan bangsa ini? Ia tidak menunggu jawaban dari Prancis lagi. Ia menunggu jawaban dari kita.
Tamat...
(miq/miq) Add
source on Google