Uncanny Valley: Fenomena Manusia Menolak Artificial Intelligence (AI)?
Di antara dua kelompok yang berseberangan menyikapi intensifnya pengembangan artificial intelligence (AI), kelompok yang memandang AI makin mirip manusia, tampak yang paling masuk akal menolaknya. Dua kelompok itu pertama: yang menganggap AI sebagai hasil perkembangan, yang lintasannya sejajar dengan evolusi manusia.
Realitas teknologi hari ini, dapat dilacak melalui lintasan pengembangan teknologi-teknologi sebelumnya, yang terkait dengan kebutuhan manusia. Mesin cetak, mesin uap, sistem pabrikasi, komputasi, teknologi informasi hingga AI, tersedia sesuai dengan kepentingan evolusi manusia.
Kontinuitas antara evolusi manusia dengan teknologi yang mengiringinya, diungkap Tom Chatfield, 2019, lewat "Technology in Deep Time: How it Evolves Alongside Us". Dikemukakannya, nenek moyang manusia tak berbeda dari hewan-hewan lainnya, dalam pembuatan dan pengembangan awal alat-alat. Beberapa di antaranya, bahkan dapat mengembangkan dan mewariskan praktik khas tertentu.
Seperti burung gagak Kaledonia Baru yang biasa menggunakan alat maupun menciptakan kait sederhana dari tumbuhan. Ini membantunya memperoleh makanan. Bedanya, manusia mampu mengubah keahlian itu dengan eksperimen yang menggabungkan daya-daya alam.
Seperti api untuk memasak makanan, yang akhirnya dikembangkan untuk melebur logam; gravitasi menjadi sistem tuas, bidang miring, katrol, roda, dan penyeimbang; juga kekuatan mental, menjadi seni simbolik, kemampuan berhitung, membaca dan menulis.
Hal senada diungkapkan Ekonom W. Brian Arthur, 2009, yang dikutip Chatfield dari bukunya: "The Nature of Technology". Disebutkannya: semua teknologi baru, pada dasarnya merupakan kombinasi dari teknologi-teknologi sebelumnya. Seluruhnya mengikuti proses evolusi yang menyerupai kehidupan itu sendiri.
Mesin cetak yang dikembangkan Johannes Gutenberg di tahun 1440, didasari teknologi yang sudah ada. Seluruh asal-usulnya, dapat dilacak ulang ke urutan teknologi yang pertama. Dalam pandangan kelompok ini, keberadaan teknologi sebagai pengiring evolusi manusia, selalu selaras dengan kepentingan manusia.
Sedangkan yang kedua, menganggap perkembangan teknologi tak selalu sejajar dengan lintasan evolusi manusia. Keberadaannya tak selalu menopang kepentingan manusia. Ini termasuk lintasan perkembangan yang semula sejajar, namun di titik tertentu melampaui proses yang dialami manusia.
Teori yang menjelaskan keadaan ini, dikemukakan Tim Mucci, 2024, dalam "What is The Technological Singularity?" Disebutkan adanya keadaan yang disebut sebagai singularitas teknologi. Sebuah skenario teoretis yang menggambarkan terjadinya pertumbuhan teknologi yang tak terkendali, juga tak dapat dikembalikan ke keadaan semula. Memicu terjadinya perubahan tak terduga pada peradaban manusia.
Singularitas teknologi didorong oleh AI, yang melampaui kemampuan kognitif manusia. Pada titik itu, AI dapat meningkatkan kemampuannya secara mandiri. Istilah singularitas, merupakan konsep matematika, dimana mesin tak hanya menyamai namun melampaui kecerdasan manusia.
Dalam kerangka evolusi, siklusnya terus berlanjut dengan kecepatan yang pesat. Mnusia tak mampu meramalkan, mengurangi, atau menghentikan prosesnya. Evolusi teknologi yang memunculkan AI, tak hanya otonom tetapi juga mampu melakukan inovasi yang melampaui pemahaman dan kendali manusia.
Teknologi menghasilkan mesin yang menciptakan versinya yang lebih canggih, seraya menggeser manusia sebagai entitas yang paling unggul. Titik ini, bisa jadi kabar baik atau justru bencana bagi manusia.
Dan ketika kelompok kedua mempersepsinya sebagai bencana, keberadaan AI dianggap sebagai ancaman. Ini disertai perubahan intensitasnya. Semula terancam oleh hasil AI yang salah; menjadi ancaman AI disalahgunakan; diikuti ancaman digantikannya manusia pekerja oleh AI; hingga ancaman total AI, bagi eksistensi manusia.
Peningkatan intensitas yang memosisikan manusia di tempat tak menyenangkan. Masih ada di dalam peradaban, namun tak berperan. Karenanya, pemilik pandangan kedua bertendensi menolak AI sejak awal kemunculannnya.
Salah satu bentuk penolakannya, terungkap sebagai gejala psikologis yang disebut uncanny valley. Fenomena ini pertama kalinya dicetuskan Masahiro Mori, ilmuwan robotika Jepang, di tahun 1970. Penjelasannya, uncanny valley -- dalam terminologi aslinya bukimi no tani-- adalah penurunan bertahap kenyamanan perasaan, yang dialami seseorang.
Valley terbentuk seiring hilangnya rasa nyaman, saat menyaksikan entitas buatan yang berwujud dan bertingkah serupa manusia namun tak terlalu alamiah. Robot yang menari mengikuti lagu, namun gerakannya patah-patah.
Chatbot yang merespon percakapan, namun suaranya mirip mesin. Atau replika interaktif yang memerankan sebagai sahabat manusia, namun secara berkala mengalami pembaruan sistem. Seluruhnya memunculkan sensasi mengerikan, terutama saat kognisi manusia mondar-mandir: antara mesin sebagai manusia dengan manusia sebagai mesin.
Reaksi ketaknyamanan itu dalam bentuk jijik, cemas, terintimidasi. Seluruhnya memuncak ketika entitas buatannya makin mirip manusia. Dan saat rasionalitas berhasil mengendalikan ketaknyamanan, penurunannya berbalik arah. Ini menghasilkan gambar lembah: lengkungan turun, berbalik naik.
Luis Echavarri, 2025, dalam "The "Uncanny Valley": Why Non-Human Characters Dominate AI Narratives", menguraikan prosesnya. Menurutnya, pikiran manusia mampu mengenali isyarat sosial maupun emosional ketika sesuatu yang dibuat "hampir" manusiawi, tetapi belum mencapainya. Timbul keterbelahan sikap: suka pada kemiripan dengan manusia, namun juga muncul ketidaknyamanan akibat tak mirip benar.
Penjelasan yang lain, dikemukakan Astrid M Rosenthal-von der Pütten, Nicole C Krämer, Stefan Maderwald, Matthias Brand, Fabian Grabenhorst, 2019, lewat penelitiannya yang diterbitkan National Library of Medicine, berjudul "Neural Mechanisms for Accepting and Rejecting Artificial Social Partners in the Uncanny Valley".
Penelitian itu dilakukan untuk menjawab pertanyaan, "Apakah Anda akan mempercayai robot membuat keputusan untuk Anda?" Diuraikan oleh para peneliti itu: hari ini entitas buatan makin memasuki kehidupan manusia. Tetapi cara otak manusia merespons mitra sosial buatannya ini, masih belum jelas.
Dengan menggunakan hipotesa uncanny valley/UV sebagai kerangka pengungkapan kerja-kerja psikologis, teramati: respons manusia terhadap entitas buatan, bersifat nonlinier. Manusia menyukai entitas buatan yang bentuknya semakin menyerupai dirinya, antropomorfik. Namun di saat yang bersamaan, merasa tak nyaman jika entitas itu menjadi terlalu mirip dengannya. Terjadi disonansi kognitif.
Temuan di atas dihasilkan dari penyelidikan aktivitas saraf manusia, yang dipindai menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional --functional magnetic resonance image (fMRI). Aktivitas yang diamati saat manusia mengevaluasi entitas buatan itu, yang sedang membuat keputusan bagi dirinya.
Realitas konseptual neurobiologis reaksinya terhadap entitas buatan, ditunjukkan sebagai uncanny valley. Berupa ketidaksukaan selektif, terhadap entitas yang sangat mirip dengan dirinya, berdasar kode nilai nonlinier di korteks prefrontal ventromedial. Bagian ini merupakan komponen kunci, dari sistem otak yang bekerja memberikan penghargaan.
Dari seluruhnya itu: ketika kehadiran AI ditolak lantaran tampilannya yang makin mirip manusia --namun masih dirasakan tampilan tak alamiahnya-berarti bukan utilitasnya yang ditolak. Realitas manusia yang memanfaatkan perangkat-perangkat berkemampuan tinggi, tercatat dalam sejarah pengembangan teknologi.
Ini seperti sistem keamanan yang memadukan sensor dan mekanisme peringatan, dimanfaatkan sejak sebelum AI generatif intensif digunakan. Juga sistem pemeriksaan kesehatan yang melekatkan elektroda-elektroda di permukaan tubuh manusia untuk menangkap sinyal abnormal di dalam tubuh.
Diagnosa yang semula dilakukan dokter maupun pemeriksaan laboratorium dapat dialihkan kepada perangkat, tanpa penolakan. Mungkin lantaran semuanya berwujud perangkat, tanpa sebagian atau seluruhnya dirupakan sebagai manusia.
Namun ketika berbicara robot guru di kelas, perawat android di rumah sakit, polisi robocop penegak hukum, maupun replika teman berelasi berbentuk chatbot, reaksi manusia terbelah. Menerimanya sebagai pencapaian wajar perkembangan teknologi, yang berhadapan dengan yang menolaknya.
Penolakan dalam fenomena uncanny valley maupun yang didasari argumentasi yang masuk akal: kemiripan entitas buatan yang makin dekat dengan dirinya, memperjelas ancaman digantikan dirinya oleh mesin. Ketika itu makin nyata, berarti ancamannya tak dapat dihindari.
Karenanya, kelompok dengan reaksi kedua mengupayakan berbagai pembatasan. Seluruhnya merupakan bentuk awal penolakan. Diwujudkan sebagai pernyataan: AI boleh digunakan, namun harus disertai deklarasi; AI boleh dipakai namun dengan pengawasan yang ketat; dan yang paling keras: AI boleh dilibatkan selama tidak mengancam eksistensi manusia.
Tampaknya, persepsi manusia sebagai pemegang supremasi peradaban jadi kunci mengatasi penolakan itu. Dalam skenario pengembangan AI yang intensif -- bahkan sebagiannya telah melampaui manusia-- posisi sebagai pemegang supremasi itu, harus dipertahankan. Setidaknya dibiarkan menjadi persepsi yang dominan.
Dengan cara itu manusia merasa aman, dirinya tetap relevan dan tak tersingkir. Sehingga AI dipandang sekadar sebagai perangkat, dengan utilitas yang dikendalikan manusia. Mungkin ini cara membuka keberterimaan AI oleh manusia. Tapi apakah tak menjebak, ketika realitasnya tak seperti itu?
(miq/miq) Add
source on Google