Evaluasi Ulang Prioritas Mitra Multi-Alignment RI dari Moskow ke Tokyo
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Laporan akhir-akhir ini mengenai dugaan kapal-kapal asing yang dicurigai beroperasi hampir setiap hari di Laut Natuna Utara mencerminkan tantangan nyata yang semakin mendesak bagi keamanan Indonesia. Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai kebangsaan kapal-kapal tersebut, provokasi China di perairan berdaulat Indonesia, khususnya di Natuna Utara, terus menunjukkan keberanian yang semakin meningkat.
Kebijakan luar negeri "multi-alignment" Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto merupakan respons yang tepat terhadap lingkungan geopolitik yang semakin bergejolak, di mana tekanan China yang terus meningkat hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang perlu diperhatikan. Namun agar strategi ini lebih efektif, Indonesia perlu memperkuat hubungan bilateral dengan mitra-mitra yang memiliki visi serupa.
Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penjamin keamanan utama di kawasan, kini sedang tersita perhatiannya oleh situasi di Iran dan Venezuela. Krisis di Selat Hormuz yang menghancurkan perekonomian negara-negara Teluk pun tidak melewatkan ASEAN dan Indonesia begitu saja.
Dampaknya terasa melalui kelangkaan bahan bakar dan tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar Rupiah. Di tengah ketidakstabilan lingkungan internasional seperti ini, ambisi Prabowo untuk mendiversifikasi kemitraan keamanan Indonesia patut diapresiasi.
Namun demikian, kebijakan luar negeri bebas dan aktif Indonesia yang tidak mengikat Jakarta pada blok atau kekuatan besar manapun tetap mengandung risiko tersendiri, terutama ketika Prabowo terus memperdalam hubungan dengan Moskow. Latihan militer gabungan di perairan Jakarta pada bulan Maret yang melibatkan kapal selam Rusia menjadi sinyal terbaru bahwa hubungan kedua negara terus mengalami penghangatan sejak Indonesia bergabung dengan BRICS pada Januari 2025.
Risikonya adalah bahwa kedekatan Jakarta dengan Moskow dapat mengikis kepercayaan mitra-mitra Barat dan negara-negara yang tidak beraliansi dengan Rusia, padahal justru kerja sama dengan negara-negara itulah yang selama ini menjadi tumpuan Indonesia.
Multi-alignment hanya dapat berjalan efektif apabila tidak bersifat mengasingkan. Agar strategi ini berhasil, Indonesia perlu memperdalam kerja sama dengan mitra-mitra yang berbagi visi serupa untuk kawasan, terutama visi yang berakar pada ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Pada konteks ini, Jepang tampil sebagai mitra alami Indonesia dengan sejumlah alasan yang kuat. Visi Free and Open Indo-Pacific (FOIP) Tokyo, yang merupakan padanan dari AOIP, memandang Samudra Hindia dan Pasifik sebagai satu kawasan yang saling terhubung.
Visi ini bertujuan mempertahankan tatanan internasional yang didasarkan pada kebebasan navigasi, perdagangan bebas, dan supremasi hukum. FOIP juga tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun secara khusus. Untuk mewujudkan visi tersebut, Tokyo berkomitmen pada tiga pilar utama: kepercayaan, transparansi, dan dialog, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Pertahanan Jepang Shinjirou Koizumi dalam pidatonya pada Shangri-La Dialogue tahun ini.
Hubungan Indonesia-Jepang pun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tokyo dan Jakarta menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan pada awal Mei yang menjadi kerangka bagi penguatan kerja sama lebih lanjut. Indonesia juga telah memiliki Equipment and Technology Transfer Agreement (ETTA) dengan Jepang, yang menempatkan Jakarta pada posisi strategis untuk memperoleh manfaat dari reformasi terbaru Tokyo terkait aturan ekspor pertahanan.
Setelah pertemuan awal Juni antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan mitranya dari Jepang, Shinjirou Koizumi, Jakarta dan Tokyo menyepakati untuk memulai pembahasan mengenai pengalihan kapal perusak kelas Asagiri milik Jepang kepada Indonesia, sebuah langkah yang berpotensi mempercepat modernisasi angkatan laut Jakarta.
Kedua negara kini sedang berada dalam pembicaraan yang mendalam, sebagaimana disampaikan Koizumi kepada BBC. Tokyo juga telah menawarkan kapal selam kelas Oyashio kepada Indonesia. Gabungan kemampuan-kemampuan ini akan secara signifikan memperkuat postur pencegahan maritim Indonesia.
Indonesia bukan satu-satunya negara Indo-Pasifik yang tengah memperdalam kerja sama dengan Jepang. Koizumi baru-baru ini menyampaikan kepada BBC bahwa "Australia telah memilih kapal perang Jepang. Pembahasan sedang berlangsung dengan Filipina untuk kapal perusak bekas dari Pasukan Bela Diri Maritim Jepang, dan Selandia Baru pun telah menunjukkan minatnya untuk memperoleh kapal perusak Jepang."
Beriringan dengan perubahan bersejarah dalam industri pertahanannya, termasuk pengadopsian sistem tanpa awak yang mutakhir, Jepang akan memperbarui "Tiga Dokumen Strategis" pada tahun ini. Dokumen tersebut akan mencakup fokus yang lebih besar pada pertahanan jalur laut, sebuah poin yang tentu sangat relevan bagi Indonesia mengingat posisinya yang strategis di Selat Malaka.
Tokyo juga telah memperluas latihan bersama yang bersifat praktis melalui Reciprocal Access Agreement dengan Filipina, Australia, dan Inggris. Indonesia memang bijaksana dalam mengejar beragam hubungan dalam kerangka kebijakan luar negeri bebas dan aktif-nya.
Namun agar multi-alignment benar-benar melayani kepentingan Indonesia, Jakarta perlu cermat dalam menentukan kemitraan mana yang hendak diperkuat. Argumen untuk mempererat hubungan dengan Tokyo sudah cukup jelas, dan kedua negara memiliki visi yang serasi tentang bagaimana kawasan Indo-Pasifik seharusnya berkembang.
Kebijakan luar negeri Jepang didorong oleh visi FOIP. Menghadapi tindakan agresif sepihak China, sebagaimana yang juga dihadapi Indonesia dan negara-negara Indo-Pasifik lainnya, Tokyo tetap menjaga pintu dialog dengan Beijing tetap terbuka.
Rusia tidak menawarkan fondasi yang sama. Invasi ke Ukraina, ditambah penolakan Presiden Putin untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy guna membahas penghentian konflik, merupakan gambaran nyata tentang cara Rusia menjalankan diplomasi.
Semakin Jakarta condong ke Moskow, semakin besar pula komplikasi yang akan muncul dalam kemitraan-kemitraan yang sejatinya jauh lebih penting bagi keamanan jangka panjang Indonesia. Mitra seperti Jepang adalah kunci dari multi-alignment dan keberhasilan Indonesia.
(miq/miq) Add
source on Google