Refleksi 68 Tahun ISKA: Garam yang Melebur atau Menara Gading?

Yogen Sogen,  CNBC Indonesia
22 May 2026 15:02
Yogen Sogen
Yogen Sogen
Yogen Sogen merupakan mahasiswa program Pascasarjana Ilmu Pemerintahan STIPAN. Ia juga merupakan penulis buku "Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh" dan "Nyanyian Savana".. Selengkapnya
Foto: Logo Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. (Dokumentasi ISKA)
Foto: Logo Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. (Dokumentasi ISKA)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Bagi komunitas intelektual yang sadar akan sejarah, merayakan usia ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) hari ini semestinya menjadi sebuah momentum yang menggelisahkan. Kita tidak sedang berkumpul untuk saling bersalaman, melantunkan doa, memamerkan rentetan gelar, atau mengagumi warisan masa lalu.

Di tengah lanskap zaman yang ringkih oleh pragmatisme politik dan banalitas berpikir, usia hampir tujuh dekade ini adalah sebuah tuntutan etis untuk melakukan eksamen kesadaran yang radikal: Apakah kaum cendekiawan Katolik masih menjadi garam yang melebur, atau kita telah lama mengasingkan diri dalam kenyamanan menara gading?

Semboyan utama kita, Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico (Untuk Gereja dan Tanah Air, Demi Kesejahteraan Umum) bukanlah sekadar kredo usang, tapi sebuah beban dialektis yang berat. Di sini, komitmen iman dan nasionalisme tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan mengerucut pada satu muara: kesejahteraan umum.

Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa rahmat tidak menghancurkan kodrat, melainkan menyempurnakannya. Iman Kristiani tidak pernah meminta seorang sarjana menumpulkan nalarnya. Sebaliknya, ia menjadi suluh yang memaksa rasio bergerak melampaui sekat-sekat utilitarianisme yang sempit demi membela kemaslahatan publik.

Tanggung jawab etis ini dipertegas oleh warisan historis Mgr. Albertus Soegijapranata, bahwasannya, menjadi warga Katolik Indonesia berarti menjadi "100% Katolik dan 100% Indonesia." Di usia ke-68 ISKA, wejangan ini harus dibaca ulang dengan pisau analisis yang lebih segar dan tajam, bukan sekadar dijadikan jargon pemanis pidato.

68 Tahun ISKAFoto: Logo 68 Tahun ISKA. (Dokumentasi ISKA)

Menjadi 100% Indonesia berarti terlibat penuh, tanpa jarak, dalam setiap denyut nadi keterpurukan bangsa. Menjadi 100% Katolik berarti membawa prinsip ketegasan bahwa di atas segala sistem hukum, ekonomi, dan politik, martabat manusia adalah prinsip tertinggi yang tak boleh dikorbankan. Ketika hukum diakali dan keadilan sosial dikomodifikasi, sarjana Katolik yang diam sejatinya sedang mengkhianati dua identitas tersebut sekaligus.

Secara kolektif, kita perlu mendaraskan refleksi ideologis, menatap cermin realitas hari ini tanpa apologi. Mengapa suara kaum intelektual Katolik kerap kali terdengar sayup, ragu-ragu, atau bahkan absen saat struktur kekuasaan kian abai pada etika publik?

Ancaman terbesar bagi ISKA saat ini bukanlah tekanan dari luar, melainkan kepuasan elitis di dalam tubuh sendiri. Ketika para anggotanya lebih menikmati posisi aman sebagai teknokrat yang patuh, ketimbang menjadi suara-suara kenabian yang mempertegas altar kemanusiaan.

Bersanding dengan segala situasi problematis kebangsaan, baik di internal gereja Katolik maupun eksternal, moto keilmuan kita, Intelligentia Ad Felicitatem Omnium (Kecerdasan untuk Kebahagiaan Semua Orang), menemukan urgensinya untuk menggugat sikap dan tanggung jawab kita sebagai cendikiawan Katolik, juga sebagai warga negara yang memiliki hak untuk bersuara atas realitas pelik kontekstual.

Ilmu pengetahuan dan gelar kesarjanaan yang kita miliki menjadi tidak bernilai secara eksistensial jika ia hanya berputar di ruang-ruang seminar yang ber-AC, atau sekadar menjadi alat mobilitas vertikal demi kesejahteraan pribadi.

Kecerdasan seorang sarjana Katolik diuji pada sejauh mana ia mampu mengurai carut-marut kemiskinan struktural, kerusakan ekologis, dan pengikisan sendi-sendi demokrasi di akar rumput. Jika ilmu yang kita miliki gagal melahirkan kebahagiaan bagi mereka yang terpinggirkan, maka kecerdasan itu telah runtuh menjadi kebebalan intelektual.

Di titik ini, merayakan 68 tahun ISKA adalah menguji kembali kesetiaan kita pada salib, ilmu, dan kemanusiaan. Di hadapan altar Gereja dan di bawah panji Ibu Pertiwi, mari kita sudahi retorika-retorika yang gersang.

Saatnya mengembalikan muruah sarjana Katolik sebagai benteng moral dan penggerak perubahan yang konkret. Kebahagiaan bersama adalah kompas kita, dan perjuangan kebangsaan adalah medan tempur bagi seorang sarjana Katolik.

Selamat Dies Natalis ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Tetaplah gelisah, tetaplah kritis, dan teruslah mengabdi.

Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico! Vivat ISKA!


(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Petite Bourgeoisie: Bayangan Masa Depan