Struktur Ekonomi dan Kontestasi Geoekonomi

Dr. Batara Maju Simatupang CNBC Indonesia
Rabu, 06/05/2026 16:38 WIB
Dr. Batara Maju Simatupang
Dr. Batara Maju Simatupang
Dr. Batara Maju Simatupang merupakan Direktur Program Magister Manajemen di Indonesia Banking School dan Associate Professor yang memiliki k... Selengkapnya
Foto: Sejumlah pekerja konstruksi menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis, (19/9/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/5/2026) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% (yoy) pada triwulan I-2026. Sebuah angka yang, di atas kertas, memberi pesan yang meyakinkan, di mana ekonomi tetap tangguh di tengah tekanan global.


Namun dalam waktu yang sama, ekonomi justru mengalami kontraksi -0,77 persen (q-to-q), sebuah dinamika yang sering dianggap normal, tetapi jarang dibaca secara struktural. Di sinilah ekonomi menjadi menarik. Karena angka bukanlah jawaban, melainkan titik awal dari pertanyaan yang lebih penting.

Jika dilihat lebih dalam, struktur pertumbuhan 5,61% itu tidak sesederhana headline-nya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama (2,94%), investasi (PMTB/Pembentukan Modal Tetap Bruto) dan belanja pemerintah, serta momentum musiman seperti Hari Besar Keagamaan dan mobilitas Masyarakat.

Sektor-sektor yang tumbuh tinggi, seperti akomodasi, transportasi, dan jasa, lebih banyak bergerak karena konsumsi jangka pendek. Artinya, pertumbuhan ini nyata, tetapi belum tentu mencerminkan kedalaman struktural. Dalam kerangka Henrik Zeberg (2026), kondisi seperti ini justru sering muncul pada fase late-cycle expansion, ketika ekonomi masih terlihat kuat, tetapi fondasi mulai melemah.

"Momen Titanic": Ekonomi Terlihat Normal
Zeberg menggambarkan fase ini sebagai "Momen Titanic", kapal sudah menabrak gunung es, tetapi penumpang masih menikmati perjalanan. Analogi ini relevan, di mana dipermukaan konsumsi tetap kuat, mobilitas meningkat, dan sektor jasa berkembang. Namun di bawah permukaan, terjadi pertumbuhan triwulanan mulai melemah, ketergantungan pada konsumsi meningkat, dan transformasi struktural belum terjadi.

Di sinilah paradoksnya: ekonomi terlihat baik, tepat terjadi sebelum tekanan meningkat. Jika kita perhatikan, struktur ekonomi Indonesia belum banyak berubah. Lima sektor utama tetap mendominasi, antara lain: industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Ini adalah struktur lama yang tetap bekerja efektif, bukan struktur baru yang sedang terbentuk.

Sebagaimana telah saya tunjukkan sejak lama (Simatupang, 2007), stabilitas seperti ini sering menciptakan disconnect antara indikator dan kapasitas riil. Dalam bahasa yang lebih sederhana, yaitu kita stabil, tetapi belum bertransformasi.

BPS mencatat bahwa lonjakan konsumsi didorong oleh: THR dan belanja pemerintah, aktivitas musiman dan pariwisata, serta peningkatan mobilitas Masyarakat. Dari teropong helicopter view, masalahnya bukan pada konsumsi. Masalahnya adalah ketika konsumsi dibaca sebagai kekuatan struktural.

Dalam kerangka siklus Zeberg, kita bisa melihat dari fase akhir ekspansi sering ditandai konsumsi yang tetap kuat, tetapi investasi produktif tidak cukup dalam. Ini akan menciptakan apa yang saya sebut sebagai fiscal comfort illusion (Simatupang, 2026). Kondisi ini menjadikan stabilitas menciptakan rasa aman, yang justru menunda transformasi.

Kontestasi Geoekonomi
Masalah menjadi lebih kompleks ketika kita menempatkan kondisi ini dalam konteks global. Kita harus sadari bahwa dunia saat ini berada dalam fase: fragmentasi perdagangan, perebutan rantai pasok strategis, dan tekanan terhadap komoditas.

Dalam perspektif Zeberg, ini bukan hanya perlambatan, tetapi fase transisi menuju potensi pembalikan siklus global. Dalam situasi seperti ini, pertumbuhan 5,61% tidak cukup, jadi yang menentukan adalah posisi dalam sistem global. Dan posisi ini, ditentukan oleh kedalaman industri, kapasitas produktif, dan integrasi kebijakan.

Indonesia memang tumbuh. namun belum sepenuhnya naik kelas. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar, tetapi masih didorong oleh permintaan domestik dan ekspor berbasis komoditas. Artinya kita bergerak, tetapi belum berpindah posisi. Dalam geoeconomic contestation, kita menjadi penting, tetapi belum menentukan.

Risiko Kebijakan dan Orkestrator
Di sinilah risiko terbesar muncul. Ketika pertumbuhan terlihat kuat, kebijakan cenderung merasa cukup. Padahal dalam kerangka Zeberg: fase paling berbahaya adalah saat ekonomi masih terlihat stabil. Jika salah membaca, mengakibatkan fiskal hanya menopang konsumsi, hilirisasi berjalan parsial, dan investasi tidak meningkatkan kapasitas Hasilnya, pertumbuhan bertahan, tetapi struktur tidak berubah.

Dalam tulisan saya di Bisnis Indonesia (Simatupang, 2026), saya menegaskan negara harus berperan sebagai orkestrator ekonomi. Namun dalam konteks saat ini, peran itu menjadi lebih krusial, karena Negara harus sebagai penggerak dalam membaca siklus global, mengantisipasi pembalikan, mengarahkan windfall menjadi investasi produktif, dan menghubungkan fiskal dengan transformasi industri. Bukan sekadar menjaga pertumbuhan. Tetapi mengubah struktur, sebelum siklus berubah.

Penutup
Pertumbuhan ekonomi 5,61% adalah kabar baik. Tetapi, dalam kerangka siklus ekonomi global, kabar baik sering muncul di fase yang paling menyesatkan. Karena ekonomi tidak runtuh ketika lemah.ekonomi tergelincir ketika merasa cukup kuat.

Hari ini, Indonesia berada di persimpangan dengan posisi stabil secara makro, tetapi belum dalam secara struktur; tumbuh secara angka, tetapi belum sepenuhnya bertransformasi. Dan pertanyaan yang paling krusial bukan lagi: apakah kita tumbuh? Melainkan: apakah kita sedang membaca siklus dengan benar atau sedang terjebak di dalamnya?


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google