Korea Selatan dan Indonesia: Hubungan Mitra Lama yang Bersemi Kembali?

Darynaufal Mulyaman,  CNBC Indonesia
02 April 2026 11:23
Darynaufal Mulyaman
Darynaufal Mulyaman
Darynaufal Mulyaman adalah seorang akademisi yang sekarang menjadi pengajar di Universitas Kristen Indonesia pada bidang Hubungan Internasional dengan fokus ekonomi politik global, kajian Asia Timur, budaya populer, dan studi pembangunan... Selengkapnya
Presiden Prabowo Subianto menerima penghargaan kehormatan tertinggi dari Pemerintah Republik Korea, The Grand Order of Mugunghwa, yang dianugerahkan langsung oleh Presiden Republik Korea Lee Jae Myung, dalam sebuah Friendship Event yang berlangsung di Garden of Sangchungjae, Istana Kepresidenan Republik Korea, pada Rabu, (1/4/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden)
Foto: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (kiri) bersama Presiden Republik Korea Selatan Lee Jae Myung di Blue House, Seoul, Rabu (1/4/2026). (BPMI Sekretariat Presiden)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Seoul pada 1 April 2026 bukan sekadar agenda rutin diplomasi kepala negara.

Penandatanganan antara lain sebanyak 16 Memorandum of Understanding (MOU) antara Korea Selatan dan Indonesia, sekaligus peningkatan status hubungan bilateral menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership, merupakan sinyal kuat dua negara ini sedang memosisikan ulang diri mereka satu sama lain di tengah guncangan tatanan global yang semakin tak terduga.

Pertanyaannya adalah mengapa justru sekarang? Dan apa yang sesungguhnya mendorong kedua negara untuk saling merangkul lebih erat dari sebelumnya?



Guncangan global mungkin adalah katalisnya. Dunia pada tahun 2026 bukanlah dunia yang sama dengan satu dekade lalu. Persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China terus membara, rantai pasok global direpolitisasi secara agresif, dan tatanan liberal multilateral yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kerja sama internasional kini terkoyak dari berbagai sisi.

Dalam konteks inilah, World Economic Forum (2025) mencatat bahwa kawasan ASEAN kini tidak lagi sekadar merespons persaingan kekuatan besar, melainkan secara proaktif membangun apa yang disebut sebagai strategic multi-alignment, yaitu mengelola kemitraan ganda secara kalkulatif untuk memaksimalkan leverage geopolitik dan ekonominya.

Korea Selatan pun merasakan tekanan yang sama. Laporan dari Mineral Economics yang diterbitkan oleh Springer pada November 2025 mencatat bahwa Seoul bergantung hingga 95,5 persen pada impor untuk mineral kritis yang menjadi fondasi industri semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan pertahanannya.

Ketika China memperluas kontrol ekspornya pada Oktober 2025 dan secara langsung menekan perusahaan seperti Samsung Electronics dan LG Energy Solution, Korea Selatan menyadari diversifikasi rantai pasok bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. Indonesia, yang menurut IEA Global Critical Minerals Outlook 2025 menguasai sekitar sepertiga cadangan nikel dunia, menjadi mitra yang tidak bisa diabaikan.

Sebanyak 16 MOU yang ditandatangani mencakup spektrum yang luar biasa luas, mulai dari energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga nuklir, hidrogen, Energy Storage System (ESS), hingga penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS). Ada pula kesepakatan di bidang mineral, distribusi baterai, offshore plant, dan data center.

Tidak berhenti di situ, kedua negara juga menyepakati kerja sama di bidang perlindungan kekayaan intelektual, manajemen kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebijakan digital dan kecerdasan buatan (AI), teknologi AI untuk kesehatan dan peningkatan SDM, serta kerja sama finansial antara Bank Korea dan Danantara.

Ditambah pula dengan pembentukan Korea-Indonesia Joint Committee of ICT Cooperation yang membuka pintu masuk bagi perusahaan ICT Korea ke pasar Indonesia secara lebih terstruktur, serta kerja sama antara Kementerian Kehutanan kedua negara dalam isu perubahan iklim, air bersih, dan biodiversitas.

Deretan kesepakatan ini bukan sekadar laundry list diplomasi. Setiap butirnya mencerminkan kebutuhan nyata yang saling melengkapi. Korea Selatan membutuhkan jaminan pasokan mineral kritis, pasar ekspansi teknologi yang besar, dan mitra dalam transisi energi bersih. Indonesia membutuhkan teknologi, modal, dan akses ke ekosistem industri canggih untuk mewujudkan ambisi hilirisasinya.

Seperti yang ditulis dalam jurnal ScienceDirect (2023) tentang integrasi ekonomi ASEAN-Korea, salah satu kelemahan struktural Korea di ASEAN selama ini adalah ketergantungan yang terlalu dalam pada Vietnam sebagai mitra tunggal. Indonesia, dengan populasi 280 juta jiwa dan ekonomi digital yang terus berkembang, adalah kandidat paling logis untuk menyeimbangkan portofolio strategis tersebut.

Di era ketidakpastian seperti saat ini, kunjungan Prabowo ke Seoul adalah bagian dari pola yang lebih besar. Sebelumnya, Presiden Lee Jae-myung juga mengunjungi Singapura pada Maret 2026, di mana kedua negara meluncurkan Korea-Singapore AI Alliance.

The Diplomat (Maret 2026) mencatat bahwa Lee memandang era turbulensi global bukan sebagai krisis, melainkan sebagai peluang bagi Korea Selatan untuk memainkan peran lebih aktif sebagai middle power yang strategis.

Dalam kerangka ASEAN-ROK Comprehensive Strategic Partnership yang diluncurkan pada 2025 dengan Plan of Action 2026-2030, Seoul kini sedang membangun fondasi kemitraan ASEAN yang lebih merata dan dalam, tidak lagi bertumpu hanya pada satu atau dua negara tertentu.

Bagi Indonesia sendiri, kemitraan ini juga memiliki dimensi kepentingan yang tidak kalah strategis. Dengan Danantara sebagai kendaraan investasi negara yang mengelola aset ratusan miliar dolar, MOU kerja sama finansial dengan Bank Korea membuka potensi saluran pembiayaan yang baru dan signifikan.

Sementara MOU tentang pengembangan digital, AI, dan infrastruktur generasi berikutnya merespons urgensi Indonesia untuk tidak tertinggal dalam perlombaan transformasi teknologi global.

Namun, optimisme perlu diimbangi dengan pikiran yang jernih. Pada sebuah studi mengenai negosiasi IK-CEPA (Ismail & Mulyaman, 2018) pernah mencatat bahwa hambatan implementasi dalam hubungan Indonesia-Korea kerap muncul jauh setelah sorotan politik berakhir, yaitu di tingkat teknis dan birokrasi yang lebih senyap. Pola ini belum tentu otomatis berubah hanya karena status kemitraan dinaikkan satu tingkat.

ODI (Overseas Development Institute, Januari 2026) juga mengingatkan bahwa negara-negara produsen mineral kini semakin asertif dalam menuntut value-added processing dan transfer teknologi nyata sebagai prasyarat, bukan sekadar komitmen kerja sama konvensional.

Apakah MOU di sektor mineral kali ini hadir dengan klausul hilirisasi yang konkret, ataukah masih dalam kerangka eksplorasi yang abu-abu? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab pada tataran implementasi, bukan pada panggung seremonial penandatanganan.

Akhirnya, Korea Selatan dan Indonesia bukan mitra baru. Hubungan diplomatik keduanya telah melewati lebih dari setengah abad perjalanan, dengan fondasi yang dibangun bertahap dari era-era yang jauh berbeda. Yang berubah adalah konteks globalnya yang jauh lebih bergejolak dan penuh kalkulasi.

Sebanyak 16 MOU di Seoul pada April 2026 perlu dibaca sebagai respons dua negara yang sama-sama mencari stabilitas di tengah ketidakpastian, yaitu Korea Selatan yang butuh jangkar sumber daya dan pasar, serta Indonesia yang butuh teknologi dan modal untuk lompatan industrialisasinya.

Apakah hubungan ini benar-benar bersemi kembali, atau hanya tampil lebih segar dalam bingkai yang sama? Jawabannya akan sangat bergantung pada seberapa jauh kedua pihak mampu mendorong implementasi melampaui dokumen, membangun kepercayaan di tingkat teknis, dan memastikan bahwa kemitraan ini menghasilkan manfaat nyata bagi ekosistem ekonomi yang lebih luas di kedua negara.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google