Kelanjutan Perang Iran dan Menakar Opsi-Risiko Donald Trump

Mahendra Siregar CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 10:52 WIB
Foto: Mahendra Siregar. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Perang Iran akan masuk ke akhir minggu ke-5 pada akhir minggu ini, yang semula pada awal perang direncanakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai batas akhir berlangsungnya perang itu. Apakah suatu kebetulan atau tidak, pada hari Jumat ini yang merupakan Jumat Agung adalah hari libur nasional di banyak negara termasuk AS.

Pada hari itu tidak ada perdagangan saham, migas, obligasi maupun transaksi pasar keuangan lainnya, kecuali di pasar kripto. Belajar dari pengalaman selama sebulan ini, maupun pengambilan keputusan Trump di waktu lalu yang selalu memperhatikan gejolak pasar keuangan, nampaknya akan ada keputusan besar dan strategik pada saat itu. Trump memiliki waktu tiga hari penuh untuk melakukan keputusan besar itu, tanpa harus khawatir dampaknya kepada pasar keuangan.


Sejak awal minggu ini, Trump seperti biasa menyampaikan berbagai pernyataan dan indikasi yang saling-bertolak belakang. Dimulai dengan pernyataannya bahwa perang akan segera berakhir karena perundingan dengan Iran berlangsung dengan baik.

Di lain sisi, dia mengancam bahwa apabila Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz maka AS akan menghancurkan infrastruktur listrik, energi bahkan desilinasi air Iran. Dan, perkembangan paling terakhir Trump mengindikasikan siap mengakhiri perang Iran, bahkan dengan membiarkan Selat Hormuz tetap dikuasai Iran, dan menyerahkan kepada negara-negara lain yang pasokan minyaknya tergantung alur laut itu untuk menyelesaikan hal itu.

Pernyataan-pernyataan Trump yang semakin mengarah kepada kemungkinan pengakhiran segera perang telah memunculkan sentimen positip di pasar keuangan yang mendorong naiknya indeks saham Wall Street secara terbatas.

Kemudian turunnya harga futures minyak bumi 2-3 bulan ke sekitar atau di bawah US$100 dan turun tipisnya yield obligasi Pemerintah AS di pasar. Pada gilirannya, sekalipun terbatas membaiknya berbagai indikator pasar keuangan ini memberikan ruang tambahan bagi Trump mengambil keputusan besar pada akhir minggu ini.

Tiga Opsi dan Risikonya
Banyak pihak dan analis berpandangan bahwa pernyataan Trump yang sangat sering berubah dan senantiasa saling-bertolak-belakang itu sebagai sikapnya yang tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa berbagai pernyataan itu menggambarkan opsi-opsi yang sedang dipertimbangkannya untuk mencapai tujuan dalam menghadapi suatu permasalahan yang sangat kompleks.

Pada gilirannya, keputusan final yang diambilnya tidak akan terlalu jauh berbeda dengan opsi-opsi itu. Satu faktor sangat penting yang tidak berada dalam kendali Trump adalah keterbatasan waktu yang dihadapinya. Dalam hal Perang Iran ini adalah tidak populernya perang di mata publik AS, dan Pemilu Legislatif AS bulan November yang akan segera masuk ke masa kampanyenya.

Berhadapan dengan kondisi dan realita itu, maka tiga opsi di atas menjadi pilihannya: mendorong jalur perundingan, menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran atau menghentikan perang dengan membiarkan Selat Hormuz dikuasai Iran. Pertanyaan besarnya adalah putusan mana yang akan diambilnya pada akhir minggu ini, dan apa risiko masing-masing putusan itu?

Opsi Satu Trump yang mendorong jalur perundingan nampaknya menemui jalan buntu, karena Iran sama sekali tidak ingin melakukan hal itu. Setidaknya ada dua alasan Iran tidak ingin berunding langsung, bahkan mungkin juga tidak melalui mediator dengan AS.

Pertama, Iran tidak dapat mempercayai Trump lagi karena sudah dua kali dikelabui, yaitu dibom justru saat sedang melangsungkan perundingan dengan AS. Kedua, Iran saat ini merasa sedang di atas angin dan yakin dapat "memenangkan" perang ini.

Tentu ukuran kemenangan itu bukan secara militer, yang dalam perang asimetrik ini Iran terlihat sangat terpukul korban besar dan hancurnya sebagian besar instalasi dan fasilitas militer, bahkan mesin untuk memproduksi senjata mereka.

Ukuran kemenangan Iran dilihat dalam wujud Pemerintah Teokratik Syiah yang didukung oleh Tentara Revolusi (IRGC) tetap bertahan efektif. Selain itu, Iran juga dapat menguasai Selat Hormuz, yang sebelum perang berlangsung merupakan alur pelayaran internasional terbuka. Dalam kondisi demikian, sekalipun mengalami korban jiwa dan material yang luar biasa, Iran tidak akan ingin berunding dengan AS dan kehilangan kesempatan "menang" dalam perang ini.

Opsi Dua Trump adalah menghancurkan berbagai infrastruktur vital Iran secara masif dan cepat pada akhir minggu ini. Sasaran utama serangan itu nampaknya fasilitas migas Iran di Pulau Kharg, yang merupakan depot penyimpanan dan pengapalan 90 persen ekspor minyak Iran.

Kemungkinan sasaran lainnya adalah salah-satu pulau dekat Selat Hormuz untuk membebaskan pelayaran di selat itu dari Iran. Untuk melaksanakan opsi ini, AS harus menerjunkan pasukannya yang memang sudah disiapkan untuk itu, tidak bisa hanya dengan serangan udara.

Saat ini setidaknya sudah ada sekitar 5.000 anggota pasukan marinir dan 1.000 infantri AS di kawasan itu. Seluruh pasukan marinir dan infantri itu berada di pangkalan laut maupun udara AS di negara-negara GCC dan Yordania.

Jika opsi ini yang diambil, maka risiko yang dihadapi oleh Trump sangat besar. Iran sudah menyampaikan ancamannya bahwa jika AS menerjunkan pasukannya ke daratan Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang termasuk menerjunkan pasukannya ke pesisir negara-negara GCC.

Sedangkan untuk membalas serangan yang menghancurkan infrastruktur listrik dan energinya, Iran juga akan membalas dengan serangan serupa ke negara-negara GCC, ditambah serangan pasukan Houthis ke pelayaran di Selat Bab al-Mandab di Laut Merah, maupun para sekutu Iran di Lebanon, Irak, Suriah maupun negara-negara lainnya.

Selain itu, AS juga harus menanggung dua risiko besar lainnya, yaitu jatuhnya korban pasukannya dalam perang terbuka di darat yang sangat sensitif bagi politik dalam negeri Trump dan Partai Republik, terutama menjelang Pemilu Legislatif. Serta kemungkinan perang menjadi sangat berkepanjangan dan meluas horizontal ke seluruh kawasan Timteng, yang sama sekali tidak diinginkan oleh Trump maupun basis MAGA/America First pendukungnya.

Opsi Tiga Trump adalah menghentikan perang dan mengumumkan AS telah "memenangkan" perang dengan Iran karena sudah menewaskan mayoritas pimpinan Pemerintah dan Militer Iran, menghancurkan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Iran; hampir seluruh missiles dan drone serta pusat-pusat produksi dan peluncurannya; serta sebagian besar fasilitas pengayaan uranium yang dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir oleh Iran.

Dan karena sudah mencapai tujuannya, AS dapat menghentikan perang dengan Iran, terlepas bahwa tidak terjadi pergantian rejim pemerintahan di Tehran maupun penguasaan Selat Hormuz oleh Iran. Dari sisi risiko politik dalam negeri AS, opsi ini yang akan paling kecil dampaknya karena harga minyak dipastikan akan turun walaupun tidak ke tingkat sebelum perang berlangsung.

Pasar keuangan akan rebound, dan Partai Republik akan masuk ke kampanye Pemilu Legislatif dengan perang Iran yang sudah usai. Namun dari segi geopolitik risiko ini sangat besar bagi Amerika Serikat, Timur Tengah maupun dunia.

AS akan kehilangan muka di dunia internasional karena dianggap kalah perang dari Iran. Konsekuensinya, AS akan semakin jauh menarik diri dari kawasan-kawasan global dan fokus kepada kawasan Amerika Utara dan Selatan dengan menjalankan kebijakan isolasionismenya yang memang menjadi tema kampanye presidensi Trump tahun 2024.

Di dalam negeri AS, kondisi ini dapat memberikan peluang bagi Wapres JD Vance yang pro-isolasionisme dan anti-perang menjadi kandidat kuat Pilpres 2028, mengalahkan potensi saingannya seperti Menlu Marco Rubio yang terlihat lebih interventionist.

Untuk kawasan Timur-Tengah akan terbentuk peta politik baru. Iran akan menjadi superpower kawasan yang makin disegani. Negara-negara GCC akan membatasi keberadaan basis militer AS, bahkan mungkin menutupnya karena menghadapi tantangan di dalam negeri masing-masing.

Di Israel yang juga akan menjalani Pemilu pada tahun ini, nampaknya tidak akan mengalami perubahan mendasar di dalam negeri. Namun secara internasional posisi Israel akan sangat terdampak.

Penarikan diri AS sekutu utama Israel dari kawasan Timteng akan memengaruhi balance of power di kawasan itu yang merugikan posisi Israel. Selain itu dapat dipastikan hampir tidak akan ada lagi negara lain yang ingin terlihat berhubungan erat dengan Israel, baik di kawasan maupun secara global.

Probabilitas
Sebagian besar orang menduga atau mengharapkan bahwa Trump akan memilih Opsi Tiga, yaitu menyatakan AS telah menang perang dan menghentikannya dengan segera. Namun ditinjau dari sisi pribadi Trump, hal ini memiliki risiko yang sangat besar. Dia akan kehilangan statusnya sebagai pusat perhatian dunia yang nampaknya bukan saja sangat dinikmatinya, tapi merupakan bagian tidak terpisahkan dari karakternya.

Selain itu, jika opsi ini yang dipilih Trump, maka reputasi AS akan tergerus dari persaingan geopolitik yang sangat diperlukan Trump dalam memenangkan persaingan geoekonomi keunggulan teknologi AI, penguasaan tambang mineral kritis dan akses enerji, penempatan pusat-pusat logistik dan persaingan strategik lainnya melawan RRT.

Hal ini tentu sulit dilakukan Trump yang mempertaruhkan supremasi geoekonomi di atas segalanya, terutama menjelang kunjungan resminya ke Beijing pada pertengahan bulan depan.

Menilai risiko-risiko Opsi tiga ini dari sisi Trump, maka dapat dipahami alasannya untuk lebih memilih pengakhiran perang lewat perundingan. Dengan perundingan, AS tidak akan kehilangan reputasi sebesar pada opsi tiga. Bahkan masih tetap dapat sesumbar mengatakan memenangkan perang itu. Namun pertanyaannya adalah apakah Iran bersedia menerima opsi ini? Apa justifikasi Iran menerimanya setelah begitu gigihnya menyatakan tidak akan bisa mempercayai AS lagi?

Kemungkinannya adalah sebagian dari lima prasyarat perundingan yang diajukan Iran dapat diterima AS sebagai butir-butir yang akan dirundingkan, yakni 1) jaminan tidak akan ada serangan lagi di masa depan; 2) kompensasi terhadap kerugian yang terjadi selama perang dan pencabutan sanksi; 3) penerapan sistem baru pengawasan Selat Hormuz.

Dan jika ditambah pemenuhan isyarat permintaan Iran bahwa Tim Negosiasi AS akan dipimpin langsung oleh Wapres JD Vance, maka probabilitas dimulainya perundingan atau Opsi Satu akan lebih mengemuka.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google