Perkuat Infrastruktur Migas, Kunci Ketahanan Energi di Tengah Gejolak

Dr. Anggawira,  CNBC Indonesia
26 March 2026 14:08
Dr. Anggawira
Dr. Anggawira
Dr. Anggawira merupakan pemimpin di dunia bisnis dan berbagai organisasi. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal HIPMI 2022-2025 dan Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi Mineral & Batubara (ASPEBINDO). Saat ini, Anggawira menjabat sebagai Komisaris PT. Bum.. Selengkapnya
Ketersediaan pasokan gas bumi dipastikan oleh PGN.
Foto: Ilustrasi pemeriksaan pipa gas. (Dokumentasi Pertamina)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Dinamika geopolitik global kembali menguji ketahanan energi banyak negara. Konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, hingga potensi gangguan jalur distribusi energi dunia menjadi pengingat bahwa energi bukan sekadar komoditas-melainkan fondasi stabilitas ekonomi dan kedaulatan nasional.



Dalam konteks ini, Indonesia patut bersyukur. Jika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun lalu, khususnya sekitar tahun 2019, posisi kita hari ini relatif lebih siap. Hal tersebut tidak lepas dari percepatan pembangunan infrastruktur energi, khususnya di sektor minyak dan gas bumi (migas), dari hulu hingga hilir.

Hulu Migas: Produksi dan Infrastruktur Mulai Terkonsolidasi
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah proyek strategis hulu migas telah berhasil diselesaikan dan mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan energi nasional. Berikut beberapa proyek di antaranya:

• Lapangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB)
• Proyek Husky
• Peningkatan produksi oleh ExxonMobil Cepu
• Lapangan gas ENI (Jangkrik dan Merakes)
• Proyek besar Tangguh Train-3
• Infrastruktur pipa strategis seperti Cisem dan Dusem (Dumai-Sei Mangkei)

Capaian ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat produksi energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Ke depan, penguatan konektivitas energi juga terus didorong melalui:

• Pengembangan pipeline crude oil Wilayah Kerja Rokan
• Pembangunan pipeline gas Senipah-Balikpapan
• Serta percepatan jaringan gas rumah tangga hingga target 1 juta sambungan rumah (SR) dalam tiga tahun

Kilang dan Gasifikasi: Meningkatkan Nilai Tambah dan Efisiensi
Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh kemampuan mengolah energi tersebut. Saat ini, indikator global menunjukkan lonjakan crack spread dari kisaran normal US$8-12 per barel menjadi sekitar US$45-55 per barel. Ini menegaskan bahwa negara dengan kapasitas kilang kuat akan memiliki posisi yang jauh lebih strategis.

Indonesia telah menyelesaikan sejumlah proyek penting, yaitu:

• RDMP Balongan, Balikpapan, dan Cilacap
• Crude Oil Terminal Lawe-lawe
• Platformer Dumai
• integrasi pipa gas ke kilang-kilang yang meningkatkan produksi LPG

Selain itu, pengembangan pembangkit listrik berbasis gasifikasi yang telah berjalan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi impor.

Proyek strategis ke depan seperti WNTS-Pemping (West Natuna Transportation System) juga menjadi krusial untuk memperkuat jaringan distribusi gas nasional dan membuka potensi pasar baru.

Jargas: Energi untuk Rakyat
Di sisi hilir, program jaringan gas (jargas) terus menunjukkan progres. Hingga Juli, telah terpasang sekitar 119.000 sambungan rumah (SR) dan ditargetkan mencapai 1 juta SR dalam tiga tahun ke depan.

Program ini menjadi bagian penting dari strategi:

• Pengurangan subsidi energi
• Peningkatan efisiensi rumah tangga
• Serta pemanfaatan gas domestik secara optimal

Kunci Utama: Sinergi dan Kolaborasi
Meski capaian infrastruktur energi cukup signifikan, tantangan ke depan masih besar. Pembangunan energi tidak bisa lagi berjalan secara sektoral. Diperlukan konsolidasi dan orkestrasi antara pemerintah, BUMN, swasta serta lembaga pembiayaan

Dalam konteks ini, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia menjadi sangat strategis. Danantara diharapkan dapat memberikan perhatian lebih pada sektor energi, khususnya:

• Pembiayaan proyek infrastruktur migas
• Percepatan hilirisasi
• Investasi jangka panjang berbasis ketahanan energi

Karena energi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kedaulatan dan masa depan bangsa.

Penutup
Ketahanan energi adalah hasil dari konsistensi pembangunan jangka panjang, bukan kebijakan sesaat. Apa yang telah dibangun hari ini-dari hulu hingga hilir-merupakan fondasi penting. Namun di tengah dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia harus terus memperkuat integrasi sistem energi nasional.

Kuncinya ada pada satu hal: kolaborasi yang solid dan keberanian untuk menempatkan energi sebagai prioritas strategis nasional. Karena pada akhirnya, negara yang kuat adalah negara yang mampu memastikan energinya: cukup, terjangkau, dan berdaulat.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google