Revolusi Kesadaran Basis Kemandirian Energi
Fenomena ketegangan di kawasan Timur Tengah belakangan bisa memberi pelajaran yang sangat baik. Ketegangan yang berakar pada perebutan kuasa dan pengaruh akan eksistensi kekuatan negara dan bangsa. Perseteruan yang seolah me-recall ingatan sejarah pada peristiwa pecahnya revolusi Iran 1979 dengan berbagai dinamikanya. Perbedaan isu, perbedaan alas dan kepentingan seringkali menyempurnakan terjadinya ketegangan yang berujung pada peperangan.
Peperangan yang terjadi di Kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel dengan Republik Islam Iran bisa saja terjadi secara simetris maupun asimetris tergantung seberapa dalam para analis membedah dengan anasirnya. Tentu banyak yang menyesalkan terjadi peperangan yang hanya meningkatkan eskalasi ketegangan secara global yang berdampak kepada ketidakpastian dan guncangan potensi resetting ekonomi global.
Tentu dalam narasi yang akan dielaborasi bukan tentang peperangan dengan segala dinamika, intrik, strategi dan taktiknya untuk memperolah kemenangan bagi para pihak yang berperang. Narasi yang disuguhkan memusatkan isu kesadaran dan kemandirian dari salah satu pihak yang menjadi seteru perang antara Amerika dengan sekutunya Israel, yaitu Republik Islam Iran (Iran).
Melalui kanal Wikipedia kita bisa mendapatkan informasi Iran telah diembargo AS sejak tahun 1979 sampai dengan saat ini. Konsekuensi dari embargo adalah tertutupnya kebebasan dalam melakukan kegiatan diplomasi, dan perdagangan yang berskala internasional. Tak hanya itu saja, akibat dari embargo bisa menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, kelangkaan barang pokok, inflasi, dan peningkatan pengangguran akibat terputusnya rantai pasok pada negara yang mengalami embargo.
Dengan kata lain, akibat embargo berpotensi menjadikan sebuah negara bangsa terpuruk dalam jurang kehancuran. Anomali yang terjadi pada bangsa dan negara yang bernama Republik Islam Iran (Iran). Iran mampu berdiri membangun kemandirian dengan segala sumber daya yang dimiliki.
Bentang alam dengan sumber daya alam yang dimiliki dan sumber daya manusia yang tangguh mampu menjawab dengan bukti nyata serangan dilakukan oleh Amerika-israel terhadap Iran tidak sesuai perkiraan awal. Bahkan banyak media maintrean internasional menganggap bahwa peperangan AS-Israel dengan iran kali ini berpotensi menghasilkan kegagalan yang katrostopik.
Konteks Ke-Indonesia-an
Belajar dari bangsa yang sukses membangun kemandirian tentu sah-sah saja jika itu baik. Korea Selatan, setelah Perang Korea (1950-an), negara ini sempat menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Mereka bangkit melalui disiplin tinggi, pendidikan, dan fokus pada ekspor. Jepang, Bangkit dari kehancuran total selepas Perang Dunia II, Jepang fokus pada teknologi dan robotika, menjadikannya negara maju.
Jerman, mengalami kebangkitan ekonomi pasca Perang Dunia II yang dikenal sebagai Wirtschaftswunder, didorong oleh kebijakan ekonomi yang kuat dan kualitas Pendidikan. Bahkan China, kini menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia baru penantang hegemoni AS dimulai dengan reformasi ekonomi yang dijalankan sejak 1978.
Membangun kemandirian dalam konteks ke-Indonesia-an memang dibutuhkan komitmen bersama dan kepemimpinan yang tangguh. Tak hanya itu saja dukungan semua elemen menjadi kunci dalam membersamai terjadinya kemandirian sebuah bangsa dan negara.
Contoh negara tersebut di atas menjadi contoh tersendiri bagi Indonesia yang mempunyai bentang alam yang sangat luas dan sumber daya alam yang berlimpah. Total luas (darat + laut) sekitar 5.180.053 hingga 8,3, juta km persegi, luas daratan sekitar 1.919.440 - hingga 2,01 juta kilometer persegi, luas perairan (laut) mencakup perairan laut teritorial, zona tambahan, dan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif), jumlah pulau sekitar 17.499 hingga 17.508 merupakan potensi yang patut disyukuri.
Tak hanya itu saja, luasan bentang alam yang kaya dengan sumber daya alamnya baik di dalam perut bumi (minyak, gas bumi, tambang dan mineral lainnya), tanah subur, laut yang kaya akan habitat lautnya serta bentangan udara yang kaya dengan panas dan angin sesungguhnya menjadi potensi yang mesti dikelola secara heterogen, diversitas, dan spesifik serta sesuai dengan kondisi lingkungan.
Permodelan pengelolaan bentang alam beserta sumber daya yang ada tentu dilakukan dengan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan para penghuni secara adil. Artinya tidak mesti menggunakan permodelan secara hogomogen atas kondisi alam yang mempunyai luasan dan karakteristik berbeda-beda seperti makanan pokok tidak harus nasi (karena ada gandum, sagu, singkong dan hasil bumi lainnya), energi tidak harus dengan minyak bumi (karena ada energi panas bumi, PLTA, PLTU dan energi baru terbarukan lainnya).
Kondisi bentang alam Indonesia dengan segala kekayaan yang terkandung menjadi kekuatan bagi daerahnya untuk menjadi mandiri dengan segala karakteristiknya. Disinilah kesadaran mengetahui potensi bentang alam dengan segala kekayaannya menjadi penting. Baik kesadaran individu maupun kesadaran sosial merupakan bagian yang terintegrasi. Dalam konteks itu yang diperlukan adalah kesadaran yang baik untuk mengelola keberagaman lingkungan menjadi kemaslahatan bagi alam.
Membangun Revolusi Kesadaran
Kekayaan alam dengan segala karakteristik milik Indonesia merupakan karunia tuhan yang akan dipertanggungjawabkan kelak oleh anak cucu kita. Menjaga keberlanjutan seluruh alam dan isinya merupakan tanggungjawab setiap manusia yang lahir di bumi Indonesia.
Kekayaan yang begitu berlimpah sepertinya sudah cukup untuk menjadikan Indonesia menjadi negara dan bangsa yang mandiri. Diversifikasi pangan, energi, teknologi dan keragaman budaya meniscayakan dibangun dari kesadaran individual dan sosial dengan bimbingan kepemimpinan yang kuat.
Kepemimpinan yang berkesadaran perlu dilahirkan dari semua lini birokrasi yang saat ini menemui jalan buntu. Kondisi rantai informasi yang panjang dan berliku-liku dari pusat sampai level kelurahan berpotensi mengalami disinformasi jika segera diperbaiki secara cepat dan holistik.
Tentu kita tidak sedang fokus pada perdebatan sistem (birokrasi pemerintah dan negara) dulu atau pembenahan para pelaksana yang ada dalam sistem. Fokus narasi ini adalah bagaimana membangun kesadaran secara cepat untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin cepat.
Karena kita perlu memahami bahwa sistem tanpa kesadaran dari para subyek di dalamnya cenderung mengarah kepada formalistik tanpa substansi. Jika kesadaran para subyek tidak segera dibangun maka efisiensi dan efektivitas pengelolaan birokrasi dan sistem organisasi bangsa dan negara akan jauh dari kata mewujud.
Muhammad Baqir Ash-Shadr (1991) dalam falsafatuna memandang kesadaran sebagai hasil interaksi antara subjek (manusia) dan objek (realitas), yang melampaui sekadar sensasi fisik materialisme. Ia menekankan bahwa kesadaran manusia didasarkan pada pengetahuan bawaan (fitrah) dan potensi rasional, yang memungkinkan manusia memahami kebenaran objektif, prinsip kausalitas, dan eksistensi Tuhan.
Oleh karenanya tumbuhnya kesadaran baik secara individu maupun sosial dengan sendirinya akan mampu melihat input, process, output, outcome, dan impact dari setiap sistem yang dibangun oleh bangsa dan negara dengan efektif dan efisien.
Sehingga gangguan terhadap subyek yang tidak mengarah kepada kemaslahatan umat akan terkikis dengan sendirinya atau meminjam istilah Yasraf Amir Piliang(2003) dengan parasite demokrasi, dimana individu dan kelompok yang menghisap energi demokrasi untuk kepentingan pribadi/kelompok, bukan untuk kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu perubahan secara cepat kesadaran (revolusi kesadaran) dari para pemimpin berkesadaran menjadi niscaya sekarang juga.
Menuju Kemandirian Energi
Revolusi kesadaran menjadi narasi yang patut menjadi diskursus yang mendalam dan aplikatif agar mampu diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui kualitas pendidikan yang berkesadaran pada semua jenjang pendidikan baik dari sejak lahir sampai pendidikan tinggi.
Selain pendidikan, agent of change menjadi basis komunitas yang dibangun pada ranah non-ormal seperti para orang tua sebagai gerbang pertama lahirnya generasi baru terbarukan dan terdepan. Lingkungan keluarga menjadi faktor yang terpenting dalam membangun revolusi kesadaran baik secara individu maupun sosial.
Ikhtiar tersebut tentu perlu didukung oleh para pemimpin formal maupun non-formal yang berkesadaran. Para pemimpin berkesadaran yang sudah tercerahkan menjadi penuntun dan pembimbing serta menjadi contoh bagi khalayak ramai.
Gerakan revolusi kesadaran ini menjadi salah satu alat untuk para subyek bangsa dan negara untuk memandang bentang alam dan sumber daya alam serta manusia yang terkandung di dalamnya semata-mata kepentingan bersama tanpa terkecuali. Dengan cara pandang yang benar tentang bentang alam diharapkan akan membawa energi baik bagi keindahan bentang alam yang ada di Indonesia.
Kebaikan mengelola sumber daya alam dan manusia akan membebaskan para subyek bangsa dan negara dari kepentingan yang bersifat sementara, bersifat pribadi dan kelompok. Kebaikan revolusi kesadaran juga diharapkan mampu menghadirkan diversifikasi pangan, energi, teknologi dan sumber manusia manusia yang unggul.
Kebergantungan yang sangat timpang dengan bangsa dan negara lain pada akhirnya akan semakin menipis untuk tidak mengatakan hilang pada bangsa dan negara lain. Karena kemandirian lahir dari kesadaran yang memerdekakan dan membebaskan setiap subyek bangsa dan negara.
Para subyek bangsa dan negara pada akhirnya mampu memposisikan diri dan berkhidmat untuk bergerak dan berproses untuk mencari solusi terbaik bagi kemaslahatan umat. Dengan demikian kemandirian energi menjadi niscaya yang lahir dari revolusi kesadaran dari para subyek bangsa dan negara.
Pada akhirnya Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang mempunyai kekuatan diplomasi yang handal karena kesadaran dan kemandiriannya menjadi modal yang sangat baik. Semoga!
(miq/miq) Add
source on Google