Play Therapy: Obat Revolusioner untuk Jiwa Anak RI yang Tersendat

Jessica Herlina Laihad CNBC Indonesia
Senin, 16/03/2026 14:22 WIB
Jessica Herlina Laihad
Jessica Herlina Laihad
Jessica Herlina Laihad adalah seorang advokat sustainability dan mental health. Ia merupakan CEO dan Co-Founder Triftin, sebuah online secon... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi play therapy. (Dok. Freepik)

Saat tumbuh besar, banyak masa kecil saya yang hilang dari ingatan. Belakangan saya baru tahu hal itu terjadi karena disosiasi berat.

Disosiasi, secara sederhana, adalah cara otak "memutus" koneksi dengan sebagian kenangan atau perasaan yang terlalu menyakitkan agar kita bisa bertahan, meski sebenarnya trauma tetap tersimpan di tubuh.

Dalam perjalanan hidup, saya mengalami bullying, penelantaran, dan kekerasan emosional. Dari luar, semua tampak baik-baik saja. Di dalam, tubuh saya sibuk menyimpan luka.


Di masa remaja dan awal dewasa, kecemasan saya memuncak. Saya sering mengalami sakit perut parah, sulit makan, dan sulit tidur. Tanpa saya sadari, sistem saraf saya terus berada dalam mode waspada. Tubuh saya mengingat sesuatu yang pikiran saya coba lupakan.

Seiring waktu, saya mulai mencari bantuan dari terapis dan bertanya, "Kenapa seseorang bisa menjadi seperti dirinya hari ini?"

Saat menggali lebih dalam dunia psikologi dan diri sendiri, saya bertemu dengan Lisa Mandira. Ia seorang penulis Sebatang Kara, pecinta alam, pendiri restoran organik Mandira's Garden, sekaligus konselor yang fokus pada kecemasan, depresi, pra-nikah, dan keluarga. Dengan pengalaman lebih dari 12 tahun dan puluhan pelatihan, ia memperkenalkan saya pada bentuk terapi non-verbal, terutama play therapy, story play, dan drawing therapy.

Secara sederhana, play therapy adalah pendekatan terapi yang menggunakan bermain sebagai bahasa utama anak. Di ruang terapi, bermain bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan untuk memahami emosi, pengalaman, dan konflik batin anak.

Anak diajak bermain dengan berbagai media, seperti boneka, pasir, gambar, cerita, musik, gerak, hingga tanah liat. Dari cara anak memilih dan memainkan objek, terapis dapat membaca apa yang sulit diucapkan.

Story play adalah salah satu bentuk psikoterapi yang menggunakan cerita dan play therapy. Di sini, klien diajak masuk ke dalam cerita dan metafora. Melalui tokoh dan alur cerita, emosi yang berat muncul secara tidak langsung dan lebih aman. Pendekatan ini umum dipakai untuk anak, tetapi dalam praktiknya bisa efektif juga untuk remaja dan dewasa, terutama bagi mereka yang sulit bercerita secara terbuka.

Selain itu, Lisa menggunakan drawing therapy dan media seperti clay. Dalam sesi, saya diminta menggambar atau membentuk sesuatu sesuai perasaan hari itu. Menariknya, bentuk, warna, dan simbol yang muncul sering kali menggambarkan hal-hal yang bahkan tidak saya sadari. Karya itu seolah menjadi cermin dari pikiran bawah sadar saya. Dari sana, percakapan baru bisa dimulai.

Saat terapi berlanjut, memori masa kecil yang selama ini menghilang mulai kembali sedikit demi sedikit. Tanpa paksaan, tanpa harus menceritakan kronologi kejadian secara detail, tubuh dan imajinasi saya pelan-pelan membuka pintu.

Dibanding terapi yang sepenuhnya berbasis bicara, pengalaman saya menunjukkan bahwa story play dan play creative art therapy dapat menyentuh lapisan yang sangat dalam, terutama bagi orang yang sudah lama "terlatih" untuk diam.

Tentu, semua jenis terapi sama pentingnya. Ada yang cocok dengan terapi kognitif, ada yang nyaman dengan konseling tatap muka penuh dialog. Namun bagi saya, dan banyak orang dengan pola coping non-verbal, pendekatan tidak langsung seperti play therapy terasa lebih aman dan efektif.

Untuk anak, play and creative art therapy terbukti membantu berbagai masalah emosi, mental, sosial, dan perilaku. Di ruang terapi, anak diterima menjadi diri mereka apa adanya, diberi kesempatan menjadi diri sendiri, tanpa label "nakal" atau "terlalu sensitif".

Mereka bisa mengekspresikan perasaan mereka tanpa dihakimi, sepertii rasa marah, sedih, takut, dan bingung melalui permainan. Peran play therapist sebagai "container aman' yang ada bersama anak dalam proses mereka , memaknai, dan membantu anak menemukan cara baru untuk memahami diri dan lingkungannya. Media yang digunakan bisa berupa visualisasi kreatif, cerita terapeutik, seni rupa, musik, boneka, drama, gerak dan tari, pasir, serta tanah liat.

Seperti yang disampaikan Pak Yudi, salah satu praktisi di bidang ini, konseling berbasis bicara hanya menjangkau komunikasi verbal. Pada kenyataannya, anak jauh lebih mudah berkomunikasi melalui bahasa "bermain" dan non-verbal: melalui ekspresi wajah, gestur, kontak mata, dan sentuhan, terutama sebelum kemampuan bahasa mereka matang.

Tentu saja konseling bicara bisa membantu, tetapi seringkali anak-anak tidak memiliki bahasa verbal untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam diri mereka, isu yang lebih dalam yang hanya bisa dipahami melalui bermain dan creative art. Plato mengatakan "You can discover more about a person in an hour of play than in a year of conversation". Di sinilah play and creative art therapy punya peran penting, termasuk untuk isu seperti ADHD dan rendahnya rasa percaya diri.

Di Indonesia, jumlah praktisi play therapy saat ini sudah ada di 21 provinsi dan 51 kota, perlahan bertambah setiap tahunnya melalui pelatihan bersertifikasi internasional, tetapi masih jauh dari kebutuhan.

Minimnya layanan dalam membantu anak dan remaja di aspek emosi, mental, sosial dan perilaku, mendorong Cipta Aliansi Edukasi Indonesia melalui Alice Arianto, bekerja sama dengan Monika Jephcott dan Jeff Thomas dari Academy of Play and Child Psychotherapy (APAC) di Inggris yang terakreditasi Play Therapy United Kingdom (PTUK) dan Play Therapy International (PTI).

Pada tahun 2014 dimulai program Post Graduate Certificate in Therapeutic Play Skills di Indonesia di bawah CAE Indonesia dan bendera Play Therapy Indonesia ( PTIndo). Di kemudian hari juga dibentuk Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia untuk mewadahi terapis bermain di Indonesia.

PTIndo juga bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui kampanye bermain bersama untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bermain bagi tumbuh kembang anak.

Sayangnya, kesadaran ini belum merata. Banyak keluarga dan sekolah masih menganggap bermain sebagai "hadiah" setelah belajar, bukan bagian dari proses belajar itu sendiri. Padahal, ruang bermain yang aman dapat menjadi tempat anak mengembangkan kemampuan sosial, motorik, kognitif, emosional dan perilaku.

Gerakan Indonesia Bermain (GIB) menjadi satu gerakan sporadic yang dilakukan oleh terapis bermain di daerah-daerah untuk menggaungkan pentingnya bermain. Permainan tradisional yang mulai jarang ditemui sebenarnya kaya akan stimulasi. Hubungan orang tua dan anak pun dapat diperdalam melalui waktu bermain bersama yang konsisten membangun koneksi yang sehat dan dekat, bukan hanya lewat perintah dan larangan.

Di sisi lain, akses pada terapi masih menjadi persoalan besar. Tidak semua keluarga mampu membayar sesi terapi rutin. Di tengah tantangan ekonomi, kesehatan mental sering kali ditempatkan di urutan terakhir prioritas. Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting.

Play therapy idealnya dapat diberikan sebagai layanan publik bagi masyarakat yang kurang mampu. Pemerintah dapat bekerja sama dengan yayasan sosial dan organisasi yang bergerak di bidang kesehatan mental anak di tingkat kelurahan atau kecamatan.

Yang perlu disiapkan tidak hanya ruangan dan fasilitas yang ramah anak, tetapi juga terapis bermain yang tersertifikasi, material yang aman, serta protokol layanan yang jelas. Orang tua juga perlu mendapatkan edukasi parenting agar mampu mendukung proses penyembuhan di rumah.

Pendekatan ini dapat diperkuat dengan program psikososial yang mengintegrasikan play & creative art therapy, story play, group therapy, dan penguatan resiliensi komunitas. Investasi ini mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk angka ekonomi pada tahun pertama, tetapi efeknya jangka panjang. Anak yang memiliki ruang aman untuk memproses trauma/isu lainnnya akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa yang lebih stabil, produktif, dan mampu membangun hubungan yang sehat.

Trauma yang tidak tertangani dapat memicu kondisi seperti hyperarousal, flashback, dan penutupan emosi yang berujung pada penurunan fokus dan kinerja. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa pekerja dengan trauma masa kecil memiliki tingkat ketidakhadiran dan hadir-tapi-tidak-produktif (presenteeism) yang jauh lebih tinggi. Secara global, kerugian ekonomi akibat hal ini mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun.

Kesehatan mental, termasuk bagi anak, tidak boleh lagi dipandang sebagai isu "kecil", "lembek" atau urusan pribadi semata. Ini adalah isu pembangunan bangsa. Dengan menyediakan akses terapi yang layak, termasuk play therapy, pemerintah sesungguhnya sedang berinvestasi pada kualitas generasi berikutnya. Anak yang jiwanya tertolong hari ini akan menjadi warga negara yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, generasi emas yang sehat, cerdas dan berkarakter.

Mental wellness bukan tanda kelemahan, tetapi bisa disikapi menjadi kekuatan "Kesehatan mental" yang bisa dilakukan secara promotive dan preventive, bukan hanya curative dan rehabilitative. Justru sebaliknya, keberanian mengakui luka dan mencari bantuan adalah fondasi bagi bangsa yang kuat. Jika Indonesia sungguh ingin menuju generasi emas, maka investasi pada kesehatan jiwa anak hari ini adalah salah satu syarat utamanya.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google