Hiperrealitas Perang: Saat Deepfake Lebih Nyata Ketimbang Realita

Firman Kurniawan S CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 19:32 WIB
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S
Firman Kurniawan S merupakan pendiri literos.org. Beliau juga dikenal sebagai pemerhati budaya dan komunikasi digital.... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi deepfake. (Dokumentasi CNBC International).

Di tengah perang, kebenaran akan jatuh jadi korbannya yang pertama. Ungkapan itu tersirat, dari ucapan Winston Churchill. Perdana Menteri Inggris yang menggagas Operasi Bodyguard pada Perang Dunia II.

Dikutip dari Tanya Goudsouzian, 2025 --dalam tulisannya "In the AI-fuelled Fog of Iran-Israel War, Truth is Collateral Damage"-- Churchill menyebut, "Dalam perang, kebenaran sangat berharga. Sehingga harus dilindungi oleh pengawal kebohongan".


Di saat fakta tumbang, di situlah kedudukannya diganti oleh propaganda. Konteks ucapan Churchill, pada penerapan strategi operasi yang bertujuan menyesatkan NAZI. Baginya, upaya memenangkan pertempuran harus didahului dikuasainya informasi. Musuh akan kalah, ketika terkecoh oleh sesatnya informasi.

Seluruhnya, tampak akan jadi ungkapan yang tak lekang oleh waktu. Ungkapan yang juga berlaku, pada berbagai perang yang berkobar hingga hari ini. Perang yang melibatkan banyak negara, bahkan ada yang sudah berlangsung selama empat tahun. Ukraina lawan Rusia. Sedangkan yang terbaru, dimulai Sabtu akhir pekan lalu. Amerika-Israel menyerang Iran, setelah upaya diplomasi soal pelucutan nuklir, gagal disepakati.

Perang resmi terjadi, saat ada serangan balasan. Tanpanya, yang terjadi hanya pendudukan diikuti penguasaan. Iran melakukan serangan balasan ke berbagai sasaran yang merepsentasikan Amerika maupun Israel. Tak selalu ke wilayah negara seterunya, justru terarah ke berbagai negara lain-- terutama yang ada di Timur Tengah.

Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, Irak, Arab Saudi, maupun Uni Emirat Arab. Di negara-negara itu, terdapat pangkalan militer maupun instalasi strategis Amerika.
Kobaran kemarahan Iran kian memuncak, saat pada serangan pertama Amerika-Israel itu, pemimpin tertinggi Iran --Ali Khamenei beserta beberapa jajaran petingginya-- dipastikan gugur. Terdapat jeda keraguan, dengan nasib pemimpin tertinggi itu.

Aljazeera.com, 28 Februari 2026, dalam "Iran Confirms Supreme Leader Ali Khamenei Dead After US-Israeli Attacks" menyebut: gugurnya Ali Khamenei telah terkonfirmasi lewat pernyataan TV Pemerintah Iran. Dengan gugurnya Khamenei, pemerintah menetapkan masa berkabung selama 40 hari. Munculnya konfirmasi di hari Minggu itu, setelah kantor berita Iran --Tasnim dan Mehr-yang sebelumnya melaporkan: Khamenei tetap "teguh dan mantap dalam memimpin medan perang".

Jeda keraguan itu nyata, bahkan saat "Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebelumnya juga menyatakan: ada 'tanda-tanda yang semakin kuat' Khamenei telah terbunuh". Tak langsung berani memastikan, nasib seterunya.

Situasi kesejarahan serangan AS-Israel ke Iran hari ini, berlangsung di tengah intensifnya penggunaan deepfake. Produk kecerdasan hasil formulasi artificial intelligence (AI) ini mampu menirukan realitas alamiah, bahkan tanpa acuan.

Tujuannya mengecoh lawan. Gambar, audio, video yang diproduksi dalam narasi tertentu, jadi taktik jitu menciptakan hiperrealitas. Hasilnya: kebingungan pihak-pihak yang terlibat perang. Bahkan menyeret komunitas internasional yang tak terlibat perang, turut menelan ketidakpastian realitasnya.
Selaras dengan taktik Churchill di atas, menyamarkan realitas hingga penciptaannya lazim dalam perang. Taktik ini biasa disebut kamuflase. Keberadaannya juga jadi pembelajaran, sebelum seseorang layak ke medan perang.

Dengan deepfake, kamuflase terwadahi luas keperluannya. Bahkan hingga keperluan disinformasi. Ministère des Armées, 2025, dalam "Disinformation, a Weapon of War", menyebut: disinformasi merupakan senjata destabilisasi yang ampuh. Tujuan penggunaannya, untuk mengganggu keseimbangan kekuatan antarnegara.

Contohnya, pada 18 November 2021, di kota kecil Kaya yang terletak sebelah Utara Burkina Faso, demonstran menghalangi jalanan dengan tumpukan ban dan ranting pohon. Konvoi pasokan untuk Operasi Barkhane terhalang. Kendaraan militer Perancis yang menuju pangkalan Gao, dipaksa memutar balik setelah dilempari batu. Demonstran meyakini: tentara yang dikirim, mengangkut senjata untuk diserahkan kepada para jihadis. Pengetahuan yang disebar lewat media sosial.

Tapi informasi yang tersebar di media sosial itu palsu. Tujuannya, mengeksploitasi kemarahan penduduk terhadap angkatan bersenjata Prancis. Dari ilustrasi ini: pada perang, bukan demonstrasi kekerasan saja yang terjadi.

Pertempuran persepsi dengan memanfaatkan konteks sensitif --sebagai bahan disinformasi-mewarnai peristiwanya. Ketersesatan maupun kerugian yang menggoyahkan musuh, menyebabkan isolasi dan kelemahan untuk bertindak. Itu yang terjadi di tengah perang.

Sedangkan di tengah revolusi digital, terjadi perubahan pada praktiknya. Akses internet yang luas, memungkinkan penggunanya mengatasi batas waktu maupun geografis. Informasi dapat disebarkan real time, terutama lewat media sosial yang terus-menerus digunakan di seluruh dunia.

Konteks sensitif serbuan Amerika-Israel ke Iran adalah kepastian gugurnya Ali Khamenei beserta beberapa tokoh penting negara itu. Moral perlawanan pasukan maupun warga yang membela negara, bisa kendor ketika informasi nasib pemimpinnya tak segera dipastikan. Untungnya, otoritas segera mengkonfirmasi statusnya, berikut tekad tak mundur dari serangan. Bahkan dengan balasan, yang disebut bakal tak terbayangkan.

Konteks sensitif lainnya, adalah reaksi di dalam negeri. Warga Iran dalam relasi sebelum serangan, diinformasikan tak harmonis dengan pemerintahnya. Pemerintah represif terhadap unjuk rasa warga yang tak puas dengan kebijakannya.

Informasi soal reaksi jadi perhatian seluruh dunia. Di baliknya tersimbol dukungan atau ditolaknya upaya militer Amerika-Israel, terhadap Iran. Deepfake yang mengilustrasikan realitas kegembiraan atau kesedihan warga akan silih berganti beredar, mewarnai media sosial.

Komunitas internasional akan kesulitan memastikan suasana batin Warga Iran. Sementara di media konvensional, penggambaran dengan sudut pandang berhadapan nyata adanya. Misalnya New York Times, 28 Februari 2026, menurunkan berita dengan judul "Iranians Take to the Streets to Celebrate Khamenei's Death".

Sedangkan CNBC di tanggal yang sama menurunkan berita berjudul "Photos: Thousands of Iranians turn out to mourn Ayatollah Ali Khamenei in Tehran". Berikut gambar ribuan orang memenuhi Lapangan Enghelab, setelah media pemerintah mengkonfirmasi gugurnya Khamenei.

Lantaran upaya disinformasi yang memanfaatkan realitas untuk dikaburkan atau diciptakan, deepfake dimanfaatkan dengan cara itu. Selain formulasinya untuk menunjukkan kegembiraan atau kesedihan warga Iran --yang dapat menyimbolkan dukungan atau tolakan terhadap serangan AS-Israel itu- aplikasinya yang lain, berupa perilaku pemimpin yang terlibat perang.

Ini terjadi saat Vladimir Putin ditampilkan mengumumkan perdamaian dengan Ukraina. Juga video yang gagal menampilkan resolusi 'real' Volodymyr Zelenskyy memerintahkan tentaranya meletakkan senjata dan menyerah kepada Rusia. Kedua video itu, dengan segera teridentifikasi sebagai deepfake.

Bentuk manipulasi lain yang dikemukakan Tanya Goudsouzian, sebagai praktik membangun kredibilitas melalui dicapainya keberhasilan operasi militer. Misalnya yang terjadi pada Mei 2024: The Islamic State Khorasan Province (ISKP) -bagian organisasi ISIS yang beroperasi di Afghanistan dan Pakistan- menyebarkan video deepfake yang mempropaganda keadaan pascaserangan.

Ditampilkan adanya pembawa berita yang fasih berbicara bahasa Pashto dan memiliki fisik, mirip penduduk provinsi Bamiyan. Pembawa berita hasil kloning digital itu, membacakan informasi pemboman yang menewaskan empat orang.

Tujuan penyiarannya adalah menanamkan rasa takut, menyebarkan keberhasilan operasi dan ditampilkannya kecanggihan teknologi. Seluruhnya dapat meningkatkan kredibilitas. Respons pihak yang berhadapan dengan ISKP: juga menggunakan taktik serupa. Karenanya mengorbakan kebenaran, jadi kelaziman dalam perang.

Menunjang realitas palsu yang beredar, penegasannya dilakukan lewat lontaran-lontaran yang meyakinkan. Ini dilakukan para pemimpin operasi, senada dengan keadaan yang direpresentasikan deepfake. Praktik ini pada perseteruan AS-Israel dengan Iran dilakukan lewat pidato-pidato --Donald Trump maupun Ali Khamenei sebelum gugur-- di media sosial.

Dalam konteks ini, pelontaran pesan merupakan bagian dari operasi psikologis yang lebih luas. Tujuannya memanipulasi persepsi publik, sekaligus membelah khalayak di luarnya. Dalam upaya Amerika terhadap Iran, pidato Trump menjaga niat Amerika agar tetap ambigu. Implikasinya, sekutu maupun para ahli sama-sama memperdebatkan: AS sedang mempertimbangkan invasi, mengejar perubahan rezim, atau benar-benar mencari solusi dari konflik yang terjadi?

Sedangkan seterunya, Iran, melakukan manipulasi yang tak kalah hebatnya. Gambar uji coba rudal, dimanipulasi secara digital. Tujuannnya menyiratkan kemampuan negara itu, lebih besar dari yang sesungguhnya. Sebelum deepfake intensif digunakan, di tahun 2008 Iran memanipulasi peluncuran Rudal Shahab-3 secara digital. Tujuannya, menunjukkan lebih banyak rudal daripada yang sebenarnya ditembakkan.

Tampak, tak ada panggung manipulasi dengan memanfaatkan deepfake yang lebih meriah dan gegap gempita dibanding dalam perang. Perangnya sendiri berlangsung nyata, korban yang berjatuhan berlimpah, namun kesengitan yang berkobar tampak lebih nyata dibanding kenyataannya. Inilah yang disebut hiperrealitas perang. Yang terpenting, waspada dengan permainan realitasnya. Sebab di hari-hari mendatang, akan hadir dengan berlimpah!


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google