Benarkah Emas adalah Investasi Terbaik saat ini?

Murniati Mukhlisin CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 15:40 WIB
Murniati Mukhlisin
Murniati Mukhlisin
Murniati Mukhlisin merupakan seorang pakar akuntansi syariah dan pendidik yang berperan penting di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Ia m... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi emas. (Arie Pratama/CNBC Indonesia)

Kenaikan harga emas yang sangat agresif dalam dua tahun terakhir menjadikan masyarakat berbondong-bondong mengalihkan perhatiannya ke investasi emas. Data harga emas batangan Antam menunjukkan lonjakan yang sulit diabaikan.


Per 1 Februari 2024, harga emas Antam tercatat sekitar Rp1.143.000 per gram (harga jual) dan Rp1.039.000 per gram (harga buyback). Setahun kemudian, pada 1 Februari 2025, harganya melonjak menjadi sekitar Rp1.624.000 per gram (jual) dan Rp1.475.000 per gram (buyback).

Kenaikan tersebut berlanjut pada 1 Februari 2026, ketika harga emas Antam kembali mencetak rekor di kisaran Rp2.860.000 per gram (jual) dan Rp2.650.000 per gram (buyback), dengan ketentuan pajak transaksi 0,5 persen. Dalam kurun dua tahun, harga emas lebih dari dua kali lipat, sebuah performa yang jarang terjadi dalam sejarah pasar logam mulia.

Lonjakan ini membuat emas tampak sangat menarik, terutama jika dibandingkan dengan instrumen keuangan lain. Tingkat bagi hasil deposito di bank syariah misalnya yang sangat dipengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia pada 2026 berada di kisaran 3-4 persen per tahun, dengan pajak final 20 persen. Perbedaan tenor deposito antara satu bulan hingga 12 bulan pun tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap hasil bersih yang diterima nasabah.

Sedikit lebih baik, Sukuk Negara Ritel dan Sukuk Tabungan menawarkan imbal hasil sewa sekitar 6,3-6,6 persen per tahun, dengan pajak final 10 persen, sehingga hasil bersih yang diterima investor berada di kisaran 5,7-5,9 persen per tahun. Instrumen ini relatif stabil dan menarik bagi investor dengan profil risiko rendah.

Sementara itu, investasi saham syariah baik secara langsung maupun melalui reksa dana menawarkan potensi imbal hasil jangka menengah hingga panjang di kisaran 12-18 persen per tahun, bahkan dalam periode tertentu dapat melampaui angka tersebut. Namun, potensi ini datang bersama volatilitas dan risiko yang lebih tinggi, sehingga tidak selalu cocok untuk semua investor. Misalnya goncangan pasar modal yang baru-baru ini terjadi tentu saja mempengaruhi naik turunnya harga saham.

Lantas, bagaimana seharusnya kita memandang investasi emas?
Pertama, tetapkan tujuan keuangan secara jelas.Investasi seharusnya tidak sekadar mengikuti tren, melainkan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, pada Juli 2027 telah ditetapkan rencana perjalanan umrah sekeluarga, dengan biaya sekitar Rp30 juta per orang atau Rp150 juta untuk lima orang. Dengan tambahan kebutuhan oleh-oleh dan biaya lain, total dana yang perlu disiapkan mencapai Rp200 juta.

Tujuan keuangan berikutnya adalah membangun rumah kos-kosan pada 2030 sebagai sumber pendapatan pasif di masa pensiun yang dimulai pada 2035. Dana pembangunan yang diperlukan mencapai Rp1 miliar, di atas sebidang tanah strategis yang telah disiapkan. Kedua tujuan ini memiliki horizon waktu dan karakter risiko yang sangat berbeda dan karena itu, tidak selalu tepat dibiayai dengan instrumen investasi yang sama.

Kedua, pahami profil risiko investor. Selain tujuan keuangan, keputusan memilih instrumen investasi sangat ditentukan oleh kemampuan dan kesiapan investor dalam menanggung risiko. Secara umum, terdapat tiga profil risiko: rendah, sedang, dan tinggi. Sikap seseorang terhadap risiko dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman investasi, usia, serta lingkungan. Emas sering dipersepsikan sebagai aset "aman", tetapi tetap memiliki risiko fluktuasi harga, terutama dalam jangka pendek.

Ketiga, padukan tujuan dan risiko untuk menentukan instrumen yang tepat. Kombinasi antara tujuan investasi dan profil risiko inilah yang akan menghasilkan pilihan instrumen yang lebih rasional termasuk keputusan apakah emas perlu menjadi instrumen utama atau sekadar pelengkap dalam portofolio untuk tujuan diversifikasi.

Perlu dicatat, harga emas tidak bergerak dalam ruang hampa. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor global, antara lain ketegangan geopolitik, arah kebijakan bank sentral dunia, nilai tukar dolar AS, serta pergerakan harga minyak. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung meninggalkan aset keuangan berisiko dan beralih ke emas sebagai safe haven. Di sisi lain, keterbatasan pasokan emas membuat lonjakan permintaan dengan cepat diterjemahkan menjadi kenaikan harga.

Pilihan kita apa?
Pada akhirnya, investasi bukan semata-mata soal mengejar imbal hasil tertinggi, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga dan mengelola harta sebagai amanah. Dalam Islam, harta dipandang sebagai titipan yang harus dikelola secara bertanggung jawab, adil, dan produktif bukan untuk spekulasi berlebihan, apalagi sekadar ikut-ikutan tren.

Dalam konteks ini, meskipun emas menunjukkan kinerja harga yang sangat impresif dalam dua tahun terakhir, emas bukanlah jawaban tunggal untuk semua kebutuhan dan semua orang. Untuk tujuan perlindungan nilai jangka panjang, emas dapat memainkan peran penting untuk lindung nilai yang dapat melawan tingkat inflasi, pajak, juga zakat, tapi emas tidak memberikan imbalan rutin setiap bulan.

Maka dari itu, untuk tujuan produktif seperti membangun sumber pendapatan di masa pensiun, pendidikan anak, atau pengembangan usaha, instrumen syariah lain seperti sukuk atau investasi sektor riil atau berbisnis syariah dengan strategi jitu justru dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan. Justru berbisnis adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW yang menghabiskan waktunya untuk berdagang lebih lama (25 tahun) dibandingkan untuk berdakwah (23 tahun).

Dengan demikian, emas bukan investasi terbaik secara absolut, melainkan salah satu instrumen yang perlu ditempatkan secara proporsional sesuai tujuan keuangan dan profil risiko. Investasi yang ideal adalah investasi yang menyeimbangkan antara keamanan dan pertumbuhan, antara kepentingan dunia dan orientasi akhirat, serta antara keuntungan finansial dan keberkahan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a'lam bis-shawaab. Salam Sakinah!


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google

Related Articles