Bioenergi & Kemandirian: Menjaga Stabilitas di Tengah Transisi Energi

Feiral Rizky Batubara,  CNBC Indonesia
16 February 2026 06:55
Feiral Rizky Batubara
Feiral Rizky Batubara
Feiral Rizky Batubara merupakan pemerhati kebijakan publik dan praktisi ketahanan energi. Feiral telah lama berkiprah dalam perumusan kebijakan energi nasional, mengawal transisi menuju ketahanan energi yang berkelanjutan. Ia juga merupakan Ketua Dewan Pem.. Selengkapnya
Tes bahan bakar B40 ke mobil saat uji coba dan uji jalan atau road test kendaraan dengan bahan bakar biodiesel campuran minyak sawit 40% (B40) di Gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Rabu, (27/7/2022). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi B40. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Indonesia hari ini berdiri di situasi yang penuh tantangan. Dunia menekankan terciptanya percepatan transisi energi dan penurunan emisi, sementara di dalam negeri kita dituntut menjaga harga tetap terjangkau, industri tetap kompetitif, dan ketahanan energi tetap kokoh. Kita tidak bisa memilih antara lingkungan atau ekonomi. Kita membutuhkan jalan tengah yang realistis. Di titik inilah bioenergi menemukan relevansinya.

Bioenergi bukan sekadar alternatif teknis pengganti fosil, ini adalah strategi transisi yang menjembatani dua agenda besar sekaligus, yaitu swasembada energi dan dekarbonisasi. Melalui bioenergi, ruang bagi pertumbuhan ekonomi bisa tetap berjalan tanpa mengabaikan komitmen keberlanjutan. Tentu, dengan satu syarat, yaitu kebijakan yang konsisten dan tata kelola yang kredibel.

Indonesia memiliki modal nyata. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, kita telah membuktikan biodiesel dapat berjalan dalam skala nasional. Mandatori B35 bukan sekadar angka di atas kertas.

Ia telah mengurangi impor solar, memperbaiki neraca perdagangan, dan memberi bantalan terhadap volatilitas harga minyak global. Target menuju B40 bahkan B50 bukan hanya kebijakan energi, melainkan strategi geopolitik ekonomi. Setiap liter biodiesel yang menggantikan impor berarti memperkuat kemandirian nasional.

Di sinilah nilai strategis bioenergi terlihat jelas. Ketergantungan pada impor minyak masih menjadi titik lemah ketahanan energi kita. Ketika harga minyak dunia melonjak, subsidi membengkak, inflasi terdorong naik, dan daya beli tertekan. Bioenergi memberi bantalan domestik terhadap gejolak global dan menjadi alat perlindungan ekonomi nasional.

Keunggulan lain bioenergi adalah kompatibilitasnya dengan infrastruktur yang sudah ada. Berbeda dengan energi surya dan angin yang membutuhkan investasi besar pada jaringan dan sistem penyimpanan, biodiesel dan bioetanol dapat masuk ke rantai pasok BBM yang telah berjalan. Adaptasinya relatif lebih cepat dan lebih murah dibanding transformasi total sistem transportasi.

Artinya, bioenergi memberi Indonesia keuntungan waktu. Kita dapat menurunkan impor energi dalam jangka pendek, sambil membangun fondasi energi terbarukan berbasis listrik untuk jangka panjang. Dalam transisi energi, waktu adalah aset strategis. Negara yang memanfaatkannya secara cerdas akan unggul.

Lebih dari itu, bioenergi bukan hanya soal energi. Ia terhubung dengan pertanian, industri pengolahan, logistik, dan ekonomi pedesaan. Jika dirancang dengan tepat, bioenergi dapat menjadi mesin industrialisasi berbasis agro. Indonesia tidak lagi berhenti pada ekspor bahan mentah, tetapi memperkuat hilirisasi melalui biodiesel, green diesel, sustainable aviation fuel, dan produk turunan lainnya.

Bioenergi dapat memperbesar nilai tambah domestik, menciptakan green jobs, serta memperluas pasar ekspor. Transisi energi global bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi membangun industri masa depan. Negara maju mendorong energi bersih sekaligus mengamankan rantai pasok industrinya. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Bioenergi memberi peluang membangun industri berbasis sumber daya lokal.

Namun kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan. Isu deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan keberlanjutan sawit terus menjadi sorotan global. Tanpa standar sustainability yang kuat, bioenergi Indonesia bisa menghadapi hambatan pasar dan stigma internasional.

Karena itu, kebijakan bioenergi harus dijalankan dengan disiplin. Ekspansi tidak boleh merusak hutan atau memicu konflik lahan. Prioritas harus diberikan pada peningkatan produktivitas lahan eksisting dan pemanfaatan lahan terdegradasi. Intensifikasi dan efisiensi jauh lebih penting daripada perluasan.

Diversifikasi bahan baku juga krusial. Sawit memang dominan, tetapi bioenergi tidak boleh bergantung pada satu komoditas. Bioetanol dari tebu, singkong, sagu, jagung, dan sorgum perlu dikembangkan. Limbah pertanian dan residu industri dapat menjadi sumber energi berkelanjutan. Diversifikasi mencegah ketergantungan baru sekaligus menjaga keseimbangan pangan.

Integrasi kebijakan pangan dan energi menjadi kunci. Bioenergi harus memperkuat ketahanan pangan, bukan melemahkannya. Dengan desain yang tepat, pengembangan bioetanol justru dapat mendorong revitalisasi pertanian, meningkatkan produktivitas, dan menggerakkan ekonomi desa. Ia bisa menjadi jembatan antara desa dan industri modern.

Dalam perspektif geopolitik, bioenergi juga memberi Indonesia posisi tawar baru. Dunia masih membutuhkan bahan bakar transisi, terutama untuk sektor penerbangan dan pelayaran yang sulit dialihkan sepenuhnya ke listrik. Sustainable aviation fuel akan menjadi pasar strategis. Jika Indonesia bergerak cepat dengan standar keberlanjutan tinggi, kita bisa menjadi pemain utama.

Tentu, swasembada energi tidak bisa bertumpu pada satu sumber. Energi terbarukan berbasis listrik harus terus dikembangkan. Gas tetap penting sebagai energi transisi. Batubara perlu direposisi secara strategis. Namun bioenergi menawarkan jalur paling realistis untuk menekan impor dalam waktu dekat sekaligus memperkuat industri domestik.

Bioenergi adalah jalan tengah yang pragmatis namun dapat menjaga stabilitas ekonomi sembari mendorong transisi. Dengan menjalankan strategi bioenergi, industri dapat tetap diperkuat tanpa menciptakan guncangan sosial besar. Dalam konteks Indonesia, bioenergi bukan sekadar opsi teknis, bioenergi adalah strategi nasional.

Pemerintah kini memiliki momentum untuk menempatkan bioenergi sebagai pilar kebijakan energi nasional yang lebih terintegrasi. Dengan tata kelola yang kuat, standar keberlanjutan yang kredibel, diversifikasi bahan baku, dan sinergi dengan agenda hilirisasi, bioenergi dapat menjadi mesin kemandirian energi sekaligus akselerator menuju Indonesia Emas 2045.

Inilah saatnya kita tidak terjebak pada dikotomi lingkungan versus ekonomi. Indonesia bisa memimpin dengan realisme, keberanian kebijakan, dan disiplin tata kelola.


(miq/miq)