Petrus Purwana
Petrus Purwana

Petrus Purwana, pengamat lingkungan lulusan Deflt University of Technology, Belanda. Pernah menjadi konsultan manajemen di Ernst & Young (EY).

Profil Selengkapnya

Begini Dahsyatnya Dampak Pemanasan Global

Opini - Petrus Purwana, CNBC Indonesia
22 October 2021 11:37
Icebergs are seen at the Disko Bay close to Ilulisat, Greenland, September 14, 2021. REUTERS/Hannibal Hanschke

Belakangan kita sering merasa lebih panas dibandingkan dulu tanpa menyadari bahwa itu adalah akibat dari pemanasan global. Kenaikan suhu global sejak sekitar 1980 sampai 2021 meningkat 2X lebih cepat daripada periode sebelumnya.

Gambar 1: tren perubahan suhu 1850 – 2021. Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Konsensus_ilmiah_tentang_perubahan_iklim# (September 2021)Foto: tren perubahan suhu 1850 – 2021. Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Konsensus_ilmiah_tentang_perubahan_iklim# (September 2021)

Menurut kepala BMKG, Dwikorita pada 26 Agustus 2021, saat ini kenaikan suhu udara di Indonesia dinilai sudah membuat iklim di Indonesia tidak karuan dimana kenaikan suhu udara juga bisa mengakibatkan cuaca ekstrem dengan intensitas yang semakin meningkat, durasi yang semakin panjang dan frekuensinya semakin sering. Kalau tidak ada mitigasi yang tepat, menurutnya pada tahun 2100 kenaikan suhu udara di Indonesia akan mencapai 3 °C.


Belakangan kita sering merasa lebih panas dibandingkan dulu tanpa menyadari bahwa itu adalah akibat dari pemanasan global. Kenaikan suhu global sejak sekitar 1980 meningkat 2X lebih cepat daripada periode sebelumnya.

Gambar 2: tren suhu Jakarta 1850 – 2020. Sumber: aviandito.medium.comFoto: tren suhu Jakarta 1850 – 2020. Sumber: aviandito.medium.com



Meski secara umum rata-rata suhu udara permukaan Indonesia lebih rendah dari rata-rata global, tetapi jika dilihat secara spesifik per kota maka beberapa kota di Indonesia justru memiliki suhu lebih tinggi ketimbang rata-rata dunia.

Kenaikan konsentrasi CO2 dunia sejak tahun 2000 10X lebih tinggi dibandingkan kenaikan selama 800.000 tahun dimana kenaikan CO2 sebanding dengan kenaikan jumlah suhu sehingga pada 12 Desember 2015 ditandatangani Paris Agreement oleh 197 negara (hampir semua negara didunia) untuk menahan kenaikan suhu dunia dibawah 2 °C, jika memungkinkan 1,5 °C, dibandingkan angka sebelum masa Revolusi Industri.

Gambar 3: tren suhu Jakarta 1850 – 2020. Sumber: aviandito.medium.comFoto: tren suhu Jakarta 1850 – 2020. Sumber: aviandito.medium.com

Apa saja dampak kenaikan suhu 1,5 °C? Para ilmuwan memperingatkan bahwa akibat-akibatnya antara lain curah hujan atau kekeringan yang ekstrim dan hasil panen yang lebih rendah. Ini semua berdampak negatif terhadap ekonomi.

Laporan khusus 'global warming of 1,5 C' dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang dibuat oleh 91 peneliti dari 40 negara terbitan 8 Oktober 2018 melaporkan bahwa:

  1. Beberapa perubahan iklim ekstrim dengan intensitas dan frekuensi yang meningkat karena kenaikan suhu sebesar 0,5 °C sudah dilaporkan.
  2. Tanpa keterlibatan dari semua pihak, peningkatan suhu global maksimal 1,5 atau 2 °C mustahil tercapai.
  3. Akibat dan biaya dari peningkatan suhu 1,5 °C akan jauh lebih besar dari perkiraan semua pihak saat ini.
  4. IPCC melaporkan bahwa 1,5 °C dapat dicapai dalam 11 tahun dan hampir pasti sebelum 20 tahun tanpa pengurangan CO2 yang berarti. Bahkan jika pengurangan CO2 dimulai saat ini, hal itu hanya akan memperlambat, bukan meniadakan kenaikan suhu global.
  5. Laporan ini memperingatkan bahwa walaupun kenaikan 0,5 °C kelihatan tidak berarti, memanaskan bumi terus menerus akan berdampak besar terhadap kehidupan manusia, ekonomi dan ekosistem.
  6. Laporan khusus ini membahas berbagai kemungkinan untuk mematok pemanasan global pada 1,5 °C dan menghapus total penggunaan bahan bakar fosil dalam waktu 30 tahun. Artinya tidak ada lagi kendaraan yang berbahan bakar bensin atau solar, semua PLTU dan PLTG ditutup dan industri berat seperti industri baja menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan.
  7. Tergantung seberapa cepat pengurangan CO2 yang terjadi, antara 1 - 7 juta km persegi tanah harus dikonversikan menjadi ladang tanaman untuk bio bensin dan bio diesel serta sampai 2050 ada penambahan hutan seluas 10 juta kilometer persegi. Itupun sebenarnya tidak cukup karena setiap CO2 yang diemisikan selama 100 tahun terakhir akan terus menahan panas di atmosfir untuk beberapa ratus tahun kedepan. Bahkan di tahun 2045 atau 2050 atmosfir masih mengandung terlalu banyak CO2.
  8. Melindungi dan memperluas hutan sangat penting karena hutan menurunkan suhu global dan juga kunci untuk menciptakan hujan untuk membasahi kebun dan ladang.

Gambar 4: Jumlah banjir yang meningkat akibat pemanasan global . Sumber: www.grida.noFoto: Jumlah banjir yang meningkat akibat pemanasan global . Sumber: www.grida.no

Sejak 2009, petani di indonesia sudah kesulitan mengandalkan ramalan cuaca, lantaran rutinnya anomali masa tanam. Ujung-ujungnya gagal panen menjadi fenomena yang sering terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Merujuk laporan Tempo, kerugian akibat satu kali gagal panen padi di seluruh Jawa Timur saja mencapai Rp3 triliun pada 2011. Padahal kegagalan panen itu cuma satu dari sekian banyak dampak dari pemanasan global.

Selain itu, berdasarkan data 2017, Indonesia adalah penyumbang gas rumah kaca nomor 5 terbesar di dunia dan merupakan kontributor terbesar untuk emisi yang disebabkan penebangan hutan dan degradasi hutan.

Berdasarkan hasil survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) di April 2021 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi menemukan bahwa masyarakat banyak bicara misalnya soal korupsi bansos, Asabri, bom bunuh diri Makassar, hingga kontestasi parpol serta kandidat capres 2024.

Masalah pemanasan global sama sekali tidak termasuk topik yang dibicarakan. Tapi ini tidak mengherankan karena di sekolah dan di bangku kuliah masalah pemanasan global tidak pernah disinggung.

Krisis peningkatan suhu global sudah didepan mata dan akan kita alami sendiri. Bagaimana kondisi bumi 10 - 20 tahun lagi. Bagaimana nasib generasi penerus kita nanti? Sudah saatnya kita mengurangi pembakaran bahan bakar fosil antara lain dengan:

  1. Menggunakan kendaraan pribadi seperlunya saja.
  2. Mengurangi pembakaran bahan bakar fosil sebagai pembangkit energi listrik dengan mengganti lampu pijar dengan lampu LED. Memang harga lampu

LED lebih mahal tetapi untuk jangka menengah & panjang kita lebih untung karena sedikitnya biaya listrik yang harus dibayar.

(hps)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading