Serangan "Bom" Guncang Maskapai Eropa, Ini yang Sebenarnya Terjadi
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah maskapai penerbangan di Eropa diguncang rentetan ancaman bom palsu dalam beberapa hari terakhir, memicu pengalihan rute, pendaratan darurat, hingga pengawalan jet tempur.
Meski seluruh pesawat yang diperiksa sejauh ini dinyatakan aman, insiden tersebut mengganggu sedikitnya 27 penerbangan dan memicu penyelidikan di sejumlah negara.
Kepolisian Denmark pada Jumat menyelidiki ancaman terhadap lalu lintas udara di Bandara Kopenhagen. Namun, tidak ditemukan indikasi bahaya langsung bagi penumpang.
"Hari ini kami kembali berada di Bandara Kopenhagen sehubungan dengan ancaman yang ditujukan pada lalu lintas udara," demikian pernyataan kepolisian Denmark yang dikutip Reuters, Sabtu (7/11/2026).
Ancaman serupa juga dilaporkan di Praha, Ceko. Sehari sebelumnya, sedikitnya 27 penerbangan terdampak, beberapa di antaranya dialihkan atau terpaksa mendarat di lokasi lain, sementara sejumlah pesawat mendapat pengawalan jet tempur.
Maskapai Finnair, Wizz Air, Aer Lingus, dan LOT termasuk yang mengonfirmasi penerbangan mereka menjadi sasaran ancaman.
Finnair melaporkan dua penerbangannya dari Helsinki menuju Roma dan Wina menerima ancaman bom pada Kamis. Kedua pesawat masing-masing membawa 144 penumpang dan tujuh awak serta 177 penumpang dan enam awak.
Seluruhnya berhasil mendarat dengan selamat, sementara pemeriksaan otoritas di Roma dan Wina tidak menemukan benda mencurigakan. Finnair menyebut ancaman semacam ini hampir selalu tidak berdasar.
Wizz Air juga mengonfirmasi dua penerbangannya menjadi sasaran ancaman, yakni rute Milan-Bukares dan penerbangan menuju Warsawa. Pesawat menuju Bukares berhasil mendarat dengan selamat dan dinyatakan aman setelah pemeriksaan, sedangkan penerbangan menuju Warsawa dialihkan.
"Wizz Air bukan satu-satunya maskapai yang menjadi sasaran, maskapai lain juga mengalami ancaman serupa yang berujung pada pengalihan penerbangan dan pemeriksaan keamanan," kata pihak perusahaan kepada CNBC International.
Sementara itu, Aer Lingus mengalihkan penerbangan dari Dublin menuju Roma ke Normandia, Prancis, pada Kamis pagi. Insiden tersebut berlanjut menjadi persoalan hukum setelah pilot dilaporkan menolak mendarat di Evreux meski telah diarahkan otoritas Prancis.
Dua jet tempur kemudian dikerahkan untuk memaksa pesawat mengikuti instruksi, sementara jaksa Remi Coutin membuka penyelidikan atas dugaan pelanggaran pidana oleh pilot.
Rangkaian ancaman ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada Selasa, tujuh pesawat penumpang di Eropa, termasuk dua penerbangan yang berangkat dari Inggris, juga menerima dugaan ancaman bom. Pemerintah Inggris menyebutnya sebagai ancaman palsu yang dilakukan dengan niat jahat.
Menteri Transportasi AS Sean Duffy mengatakan insiden tersebut sejauh ini tampak sebagai ancaman palsu, tetapi otoritas tetap meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, Komisaris Uni Eropa untuk Transportasi Berkelanjutan dan Pariwisata Apostolos Tzitzikostas memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah seluruh insiden tersebut saling berkaitan. Uni Eropa pun telah mengaktifkan mekanisme pertukaran informasi terkait keamanan penerbangan.
(tfa/asr)