MARKET DATA

PHK Marak, Wamenko Dradjad Sebut Ada Perubahan Besar di Ekonomi RI

Dovana Hasiana,  CNBC Indonesia
06 November 2026 16:15
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo. (CNBC Indonesia)
Foto: (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan terdapat perubahan dalam ekonomi Indonesia, yang menyebabkan disrupsi kebutuhan tenaga kerja.

Efeknya muncul fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus terjadi. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah korban PHK Januari-Oktober 2026 telah mencapai 72.336 orang.

"Perekonomian kita itu sekarang bertransformasi. Jadi, teman-teman semuanya ya para pelaku usaha, karena ada disrupsi teknologi, ada berbagai macam, kemudian ada AI dan ada perubahan-perubahan geopolitik, itu kita mengalami transformasi ekonomi yang nggak, kita nggak menyadari sekarang sedang terjadi," ujar Dradjad dalam sesi wawancara bersama dengan CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/11/2026).

Selain itu, Dradjad mengatakan, juga terjadi pola belanja dari rumah tangga. Dia berpandangan masyarakat generasi muda saat ini tidak lagi menstok kebutuhan rumah tangga dalam waktu besar di awal bulan.

Namun, mereka membeli kebutuhan rumah tangga sesuai dengan kebutuhan. Tak sedikit juga yang melakukan belanja secara daring.

Fenomena ini kemudian membuat pengunjung di pusat belanja besar lebih sepi dibandingkan dengan periode sebelumnya. Di sisi lain, kata Dradjad, ritel kecil justru lebih menjamur.

"Setelah kita pelajari, ya memang sebagian masyarakat terutama generasinya baru, rumah tangga baru, mereka tidak kayak kami kalau belanja bulanan kita tumpuk di rumah," tutur Dradjad.

"Rumah makin mahal tentu ya, tanah makin mahal, jadi rumahnya enggak seluas rumah orang tua. Sehingga mereka lebih efisien di dalam mengelola ruangannya. Lebih suka dipakai untuk alat-alat yang kreativitas, alat kebutuhan generasi milenial, generasi Z itu," tambahnya.

Selain itu, Dradjad mengatakan terdapat pola di mana pekerja di sektor jasa makin banyak. Hal ini terjadi karena adanya disrupsi teknologi dan makin banyaknya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun, sistem pendidikan, vokasi, dan ketenagakerjaan Indonesia masih belum siap dengan transformasi karena disrupsi ini.

Akibatnya, kinerja sektor industri tradisional menurun dan bergeser ke yang lain, salah satunya tekstil dan produk tekstil.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi tekstil dan produk tekstil hanya tumbuh 3-4%. Sementara, telekomunikasi, transportasi, hotel, restoran tumbuhnya hampir 6-7%.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah Sebut Penciptaan Lapangan Kerja di RI Lebih Banyak dari PHK


Most Popular
Features