9 Photos
Chaos! Potret Bentok Pelajar Vs Polisi Tuntut Menteri Kehakiman Mundur
Protes ini dipicu kebijakan pengurangan masa hukuman bagi narapidana kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan anak di bawah umur.
Seorang pengunjuk rasa melemparkan kembali tabung gas air mata ke arah polisi antihuru-hara dalam sebuah aksi protes yang diorganisir oleh para pelajar untuk memprotes kebijakan Presiden Chili, Jose Antonio Kast di Santiago, Chile, Kamis (5/11/2026). (REUTERS/Pablo Sanhueza)
Bentrokan pecah antara mahasiswa dan polisi dalam sebuah aksi protes yang menuntut pengunduran diri Menteri Kehakiman Fernando Rabat. (REUTERS/Pablo Sanhueza)
Melansir dari Reuters, protes ini dipicu oleh kebijakan kontroversial berupa pengurangan masa hukuman bagi narapidana kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, serta pelanggaran hak asasi manusia. (AFP/STRINGER)
Para pengunjuk rasa melemparkan bom molotov dan benda-benda lainnya ke arah polisi, yang kemudian membalas dengan menggunakan meriam air dan gas air mata. Beberapa demonstran ditahan. (REUTERS/Pablo Sanhueza)
Rabat membela keputusan tersebut dengan menyatakan bahwa langkah itu sesuai dengan hukum dan interpretasi yang didukung oleh Mahkamah Agung. (AFP/STRINGER)
Para pelaku kekerasan seksual "harus kembali (ke penjara), mereka harus dipisahkan dari masyarakat luas," ujar Carmen Soto, seorang juru masak berusia 42 tahun, sambil memegang poster yang menuntut pengunduran diri Menteri Kehakiman Fernando Rabat. (REUTERS/Pablo Sanhueza)
"Saya sangat marah karena kita semua, pada titik tertentu, pernah mengalami suatu bentuk kekerasan," ungkapnya dikutip dari AFP. (REUTERS/Pablo Sanhueza)
Menurut lembaga survei Cadem, kabar tersebut membuat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Kast—yang baru berjalan delapan bulan merosot hingga ke angka 26 persen, yang merupakan titik terendah baru. (REUTERS/Pablo Sanhueza)
Presiden sendiri mengakui bahwa negara telah "gagal" melindungi para korban. (REUTERS/Pablo Sanhueza)