Rekor Sejarah! Produksi Listrik Panas Bumi PGE Tembus 4.113 GWh
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membeberkan bahwa perusahaan berhasil mencatatkan produksi tertinggi (all-time high) sepanjang sejarah perseroan dengan merealisasikan produksi listrik panas bumi sebesar 4.113 Giga Watt-hour (GWh) hingga September atau kuartal III 2026.
Angka tersebut meningkat sebesar 9,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan kinerja periode yang sama di tahun 2025.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebutkan bahwa capaian operasional tersebut membuktikan kuatnya fundamental dan operasi perusahaan di tengah ketidakpastian pasar finansial nasional.
"Pencapaian kami di tahun 2026 tercatat hingga September kita kembali mencatat all-time high pencapaian produksi yaitu di 4.113 GWh sekitar 9,86% year-on-year dari kinerja di tahun 2025. Hal ini tercapai dengan strategi bagaimana mengelola lapangan secara operation excellence, menjaga ketersediaan uapnya, sehingga power plant kami bisa kontinu beroperasi," ujarnya dalam Media Briefing PGE, di Jakarta, dikutip Kamis (5/11/2026).
Rekor produksi listrik tersebut didorong oleh tingkat capacity factor perseroan yang mencapai hampir 90% serta availability factor sebesar 99%.
Adapun, Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang yang dikelola oleh perusahaan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi produksi mencapai 1.438 GWh atau tumbuh 8,4% yoy, disusul kinerja maksimal Lapangan Lumut Balai yang mencatatkan capacity factor hingga 102 persen di atas target kontrak, serta peningkatan serapan beban di Lapangan Lahendong dengan capacity factor 82,8%.
Seiring peningkatan volume produksi, kinerja keuangan PGEO turut tumbuh secara signifikan. Pendapatan (revenue) perusahaan naik 10,46 persen menjadi US$ 352 juta, dengan laba bersih (net income) mencapai US$ 126 juta dan EBITDA tercatat sebesar US$ 287 juta. Dari sisi lingkungan, operasional PGEO berhasil mencegah emisi karbon sebesar 3,48 juta ton CO2 ekuivalen.
Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hutabarat mengatakan bahwa pertumbuhan laba bersih yang melampaui kenaikan pendapatan didorong oleh efisiensi ketat serta pengelolaan aset yang optimal.
"Net income kita growth 21% melebihi revenue yang tumbuh 10,46%. Artinya kita benar-benar stringent dan fokus pada fundamental, tidak hanya di operasi tetapi juga di keuangan untuk memastikan efisiensi di semua lini," tambah Fransetya.
(pgr/pgr)