Dradjad Bongkar Masalah Industri RI, Sawit & Petrokimia Belum Maksimal
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam memperkuat industri manufaktur. Salah satunya karena pengembangan industri petrokimia yang dinilai terlambat.
Padahal, sektor ini menjadi salah satu fondasi penting bagi industri hilir, termasuk produksi plastik dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad H. Wibowo menyoroti belum optimalnya pengembangan industri petrokimia di dalam negeri. Keterlambatan tersebut membuat Indonesia belum mampu membangun rantai industri yang kuat dari hulu hingga hilir.
Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Dradjad menyinggung bagaimana Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hilirisasi industri. Ia menilai, pengembangan industri tidak cukup berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk antara, tetapi harus dilanjutkan hingga menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
Salah satu contoh yang disorot adalah industri kelapa sawit. Menurut Dradjad, komoditas tersebut memiliki hampir 200 jenis produk turunan, tetapi pengembangan di dalam negeri masih banyak berkutat pada crude palm oil (CPO) dan minyak goreng.
"Palm oil itu produk turunannya itu hampir 200 kalau nggak salah. Tapi kita selalu mentoknya di CPO, minyak goreng," ujar Dradjad, Rabu (4/11/2026).
Padahal, di negara maju, produk turunan sawit telah dimanfaatkan lebih luas untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari sabun hingga kosmetik. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan industri hilir yang belum dimanfaatkan Indonesia.
Persoalan serupa juga tercermin pada industri petrokimia. Keterlambatan membangun dan memperkuat industri dasar tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku petrokimia, termasuk plastik. Selain itu, dia menilai industri ini hanya dikuasai oleh satu pemain.
Akibatnya, penguatan rantai pasok industri dalam negeri belum berjalan optimal. Ketergantungan terhadap pasokan bahan baku dari luar negeri dapat menjadi salah satu tantangan bagi industri pengguna, terutama ketika harga dan pasokan global bergejolak. Sekarang, pemerintah tengah mengundang investor baru untuk masuk ke industri petrokimia ini.
"Ya karena kita industri dasarnya, terus kemudian ke petrokimia, ke plastik, itu kita agak telat membangun. Dan ini dikuasai juga oleh satu pemain, dan satu pemain ini juga sudah banyak dapat fasilitas negara dari zaman dulu begitu ya. Nah, kita undang investor untuk masuk ke sini ya," kata Dradjad.
Dradjad juga menyoroti perdebatan mengenai deindustrialisasi di Indonesia. Ia menyebut, Kementerian Perindustrian pernah menyampaikan bahwa kontribusi sektor industri dalam statistik terlihat menurun, antara lain karena aktivitas kawasan industri justru tercatat dalam kategori real estate.
"Jadi kami kesannya deindustrialisasi karena kayak begini. Ya tapi memang harus kita cek data ya, industri manufaktur kita itu memang peranannya perlu kita tingkatkan," katanya.
(haa/haa)