Menperin Soroti PR Industri Makanan Minuman, Belum Memuaskan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian. Meski mencatatkan pertumbuhan dan investasi positif, pemerintah menilai kapasitas produksi yang tersedia perlu dimanfaatkan lebih optimal. Penguatan rantai pasok juga menjadi perhatian agar industri tidak hanya bergantung pada penjualan produk akhir.
Menteri Perindustrian (Menperin) MÂ Sarmuji mengatakan peningkatan utilisasi industri menjadi salah satu hal yang perlu dikejar. Dengan kapasitas produksi yang dimanfaatkan lebih besar, industri makanan dan minuman diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
"Utilisasi sektor industri di subsektor makanan dan minuman juga harus terus kita pacu agar kapasitas yang ada bisa dimanfaatkan lebih besar lagi sehingga kontribusi industri terutama di sektor makanan dan minuman terhadap perekonomian menjadi lebih tinggi lagi," kata Sarmuji dalam acara Krista Food Expo 2026 di PIK 2026, Rabu (4/11/2026).
Selain persoalan utilisasi, industri mamin juga perlu memperkuat produktivitas, inovasi, pemanfaatan bahan baku lokal, peningkatan nilai tambah, serta perluasan akses pasar. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri tidak hanya tercermin dari peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menghasilkan produk yang lebih kompetitif.
Sarmuji menjelaskan rantai pasok industri makanan dan minuman cukup panjang, mulai dari sektor hulu yang menyediakan bahan baku pertanian, perkebunan, dan perikanan hingga sektor hilir yang menghasilkan produk akhir. Di antara keduanya terdapat industri pengolahan yang berperan mengubah bahan baku menjadi produk antara.
"Di titik inilah nilai tambah banyak berbicara. Produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan mengambil peran yang lebih luas dalam rantai nilai, tidak hanya menjual produk akhir pada konsumen, tetapi juga memasok kebutuhan bagi usaha dan industri lain," ujarnya.
Menurut dia, penguatan industri produk antara menjadi penting karena satu jenis bahan baku dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Produk hasil pengolahan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai input untuk proses produksi berikutnya sehingga nilai tambah yang dihasilkan semakin besar.
Dengan strategi tersebut, pelaku industri makanan dan minuman tidak hanya bergantung pada pasar konsumen akhir. Mereka juga memiliki peluang memasok kebutuhan bahan baku olahan bagi pelaku usaha dan industri lain, baik dalam ekosistem pangan maupun sektor terkait.
Namun, pengembangan rantai pasok tersebut masih menghadapi tantangan. Industri perlu memiliki kemampuan pengolahan yang konsisten, efisien, serta mampu memenuhi spesifikasi dan kebutuhan pasar. Penguatan kapasitas produksi di bagian antara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
"Memang ada tantangan mata rantai di bagian antara produksi ini perlu diperkuat bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengolahnya secara konsisten, efisien dan sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Sarmuji.