Pemerintah Mau Bangun Tangki Minyak Baru Demi Cadangan Naik ke 60 Hari

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Selasa, 03/11/2026 18:45 WIB
Foto: Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan kepada awak media usai menghadiri rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (29/10/2026), sore ini. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berencana membangun sejumlah fasilitas tangki penyimpanan (storage) minyak mentah (crude) di wilayah Sumatra.

Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan fasilitas itu ditujukan untuk meningkatkan cadangan minyak nasional hingga 60 hari, dari kemampuan penyimpanan cadangan minyak nasional saat ini hanya sekitar 20 hari.

"Di samping itu kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika melakukan impor crude, itu semuanya bisa ada di tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai 60 hari," kata Bahlil saat ditemui wartawan usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/11/2026).


Bahlil menjelaskan, studi kelayakan atau engineering feasibility study (EFS) untuk rencana pembangunan fasilitas itu telah selesai. Rencananya, pemerintah akan mulai melakukan pengecekan lokasi pada akhir 2026.

"Akhir tahun ini akan memulai untuk kita mengecek lokasinya dari sisi keamanan, baik dalam konteks gempanya maupun keamanan lokalnya," kata Bahlil.

Lebih lanjut, hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah agar dapat mendekati standar minimum cadangan energi dunia yang mencapai 90 hari atau tiga bulan.

"Kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana," katanya.

Meski begitu, dia menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi salah satu pertimbangan utama. Pemerintah tak ingin pembangunan tangki penyimpanan itu justru menimbulkan risiko bencana bagi masyarakat maupun lingkungan sekitar.

Lebih lanjut, pada rapat terbatas hari ini, Bahlil juga melaporkan kepada Presiden Prabowo terkait kesiapan dalam implementasi program pencampuran bahan bakar nabati dengan bensin atau bioetanol melalui E20 hingga E50. Program itu dijalankan melalui kolaborasi Kementerian ESDM dengan Kementerian Pertanian.

"E20 sampai E50 dan kami sudah menyiapkan renstra Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM," tuturnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil Ungkap Aturan Baru Amankan Stok & Impor Minyak, BBM-LPG