Hitung-Hitungan DEN, Ekspor Batu Bara Cs Via DSI Bisa Rp1.452 Triliun

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 03/11/2026 17:20 WIB
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat nilai ekspor dari tiga komoditas sumber daya alam (SDA) utama yakni batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan ferro alloy beserta produk turunannya mencapai US$ 80 miliar atau setara Rp 1.452 triliun (asumsi kurs Rp 18.154 per US$) per tahun. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 30% dari total ekspor Indonesia.

Ekspor ketiga komoditas utama itu nantinya akan diberlakukan melalui satu pintu, yakni melalui BUMN Ekspor, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), mulai 1 Januari 2027 mendatang.

Anggota DEN Septian Hario Seto memaparkan hitung-hitungan potensi ekonomi dari tiga komoditas unggulan tersebut. Ia menyampaikan bahwa penerapan sistem ekspor satu pintu melalui DSI diprioritaskan untuk memastikan seluruh devisa hasil ekspor kembali secara utuh ke dalam negeri.


"Tiga komoditas itu sudah nilainya hampir kira-kira US$ 80 miliar ya dari tiga komoditas itu ya, termasuk produk turunannya kan kita lihat kan. Jadi itu cukup signifikan. US$ 80 miliar itu hampir sekitar 30%-an dari total ekspor kita," ungkap Seto saat ditemui di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di Jiexpo, Selasa (3/11/2026).

Pihaknya menilai penerimaan dari tiga komoditas strategis tersebut memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. Kebijakan ekspor satu pintu itu disiapkan untuk mencegah praktik under-invoicing serta illegal transfer pricing dalam transaksi ekspor nasional.

"Kalau DSI, ya kalau DSI saya kira yang prioritas yang di-make sure itu adalah jangan sampai ada under-invoicing atau illegal transfer pricing atau tadi devisanya enggak balik ke Indonesia semuanya gitu," paparnya.

Adapun, pemerintah mendorong ekspor komoditas dilakukan secara langsung ke negara pembeli tanpa melalui negara transit. Pengiriman langsung dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar serta menghasilkan harga jual komoditas yang lebih baik bagi Indonesia.

"Esensinya adalah ya kalau kita bisa langsung tentunya kan harapannya manfaat ekonominya bisa lebih besar ya. Jadi harganya bisa lebih bagus, segala macam. Kalau transit kan itu mengindikasikan adanya trader ataupun ya tadi ya," tandasnya.

Ekspor Tanpa Transit

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisadsi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESD Bahlil Lahadalia memerintahkan agar ekspor sumber daya alam (SDA), termasuk batu bara, harus ditujukan langsung ke negara tujuan. Bukan lagi "transit" ke negara lain.

"Tidak boleh lagi SDA kita sekarang ESDM, kalau kirim barang ke China, ya dari Jakarta langsung ke China, tidak boleh dari Jakarta mampir ke negara 'yang itu'. (Negara itu) hanya stempel, kemudian dia bilang by export dari negara dia. Dari mana barang kau!" ungkap Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026 di Jiexpo, Senin (2/11/2026).

Tak cuma soal SDA pertambangan, Bahlil juga memerintahkan soal ekspor gas dalam hal ini Liquefied Natural Gas (LNG) yang biasanya diekspor ke Jepang maupun Korea.

"Langsung saja, sudah lama barang kita diolah begini terus, saya nggak bisa diolah olah mereka, nggak bisa, saya sudah perintahkan Dirjen Migas," tegasnya.

"Langsung saja, kenapa harus pakai negara lain. mereka dapat pajak, mereka dapat neraca perdagangan. Baru ada bencana sedikit saja sudah gopoh-gopoh kayak apa aja. jangan kirim lagi kesana. Indonesia berdaulat jangan diatur-atur," tegas Bahlil.

Meskipun Bahlil tak menyebut negara transit tersebut. Namun ia menyatakan, bahwa apa yang dipikirkan para audience di acara Minerba Convex 2026 ini sama dengan isi hatinya.

"Kalian juga tau itu negara, sesuai hati kalian aja. Itu negara jangan mau senangnya saja," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

ESDM Usut Perusahaan Asing Pemilik Kebun Sawit Jalankan Usaha Tambang