MARKET DATA

BUMN Ini Sudah Punya Izin Tambang Logam Tanah Jarang, Ini Lokasinya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
03 November 2026 17:35
Peta negara pemilik produksi dan cadangan logam tanah jarang terbanyak di Dunia. (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: Peta negara pemilik produksi dan cadangan logam tanah jarang terbanyak di Dunia. (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi logam tanah jarang (LTJ) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Izin tambang mineral kritis tersebut berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat yang terbagi dalam 2 blok.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas La Ode Tarfin Jaya mengatakan memaparkan bahwa IUP Eksplorasi tersebut terbit pada Juli 2026, diikuti persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) eksplorasi pada Agustus 2026. Pihaknya saat ini tengah menjalankan kegiatan pengeboran (drilling) rapat in-fill pada area fokus seluas 200 hektar di lokasi tersebut.

"Jadi Mamuju itu kan kita sudah mendapatkan dari pemerintah dalam hal ini dari Kementerian ESDM cq Ditjen Minerba itu IUP Eksplorasi. Nah eksplorasi itu kita sudah terbit di bulan Juli tapi kemudian RKAB-nya itu di bulan Agustus. RKAB untuk eksplorasi. Nah kami eksplorasi di kisaran kurang lebih di dua blok itu masing-masing 100 hektar, total 200 hektar," katanya saat ditemui di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026, di Jiexpo, Selasa (3/11/2026).

Kegiatan pengeboran di Mamuju saat ini telah merambah 72 titik atau sekitar 10% dari total target 200 titik. Hal itu ditujukan untuk mendetailkan data awal Badan Geologi Kementerian ESDM dalam menghitung kembali estimasi sumber daya dan cadangan di lokasi itu.

"Sekarang kami lagi melakukan drilling rapat in-fill di 200 hektar itu saat ini baru di 10%, di 72 titik ya yang kami lakukan dengan kerapatan 50 50, 50 x 50. Ini perlu kami lakukan karena untuk mendetailkan apa-apa yang sudah dilakukan oleh Badan Geologi sebelumnya," ujarnya.

Meski belum terkira jumlah cadangannya, potensi komoditas logam tanah jarang di kawasan Mamuju tersebut memiliki karakteristik tipe ion-adsorption clay. Tipe tersebut tergolong sebagai logam tanah jarang primer yang serupa dengan deposit di Bayan Obo China, Myanmar, dan Caldeira Brazil.

"Nah LTJ kalau di Mamuju itu tipikalnya ion-adsorption clay. Jadi dia tipikal yang sama dengan misalnya Bayan Obo di China atau yang di Myanmar, atau di Caldeira Brazil, itu adalah tipe logam tanah jarang yang primer," paparnya.

Pengelolaan potensi mineral kritis seluas 7.300 hektar di Mamuju tersebut dilaksanakan berdasarkan penugasan prioritas dari pemerintah. Pihaknya akan siap untuk mengelola wilayah konsesi tambahan jika kembali mendapatkan penugasan dari pemerintah.

"Yang jelasnya sekarang kan Mamuju 7.300 hektar di dua blok. Jadi kalau misalnya pemerintah misalnya memberi tugas lagi ya kita siap timnya, prinsipnya itu. Menunggu, menunggu penugasan aja," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Cuma Untuk Kendaraan EV, Logam Tanah Jarang Penting Buat Ini


Most Popular
Features