2026 Kurang dari 2 Bulan, Penyaluran Rumah Subsidi FLPP Baru Segini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 03/11/2026 12:15 WIB
Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah harus memutar otak dalam penyaluran rumah subsidi Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP), pasalnya target penyalurannya sebanyak 360.000 unit.

Sedangkan Berdasarkan data BP Tapera, hingga 31 Oktober 2026, realisasi penyaluran FLPP mencapai 194.360 unit rumah atau hampir 54% dengan nilai pembiayaan sebesar Rp24,22 triliun. Khusus sepanjang Oktober 2026, penyaluran tercatat sebanyak 29.352 unit rumah, meningkat sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kami optimistis melihat perkembangan penyaluran FLPP, khususnya pada triwulan III dan Oktober 2026 yang menunjukkan tren positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujar Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana BP Tapera Sid Herdi Kusuma dalam keterangannya, Selasa (3/11/26).


Sid menjelaskan bahwa percepatan penyaluran FLPP dilakukan melalui peningkatan sosialisasi, audiensi, kampanye media sosial, pembukaan booth layanan perumahan, serta penguatan koordinasi bersama bank penyalur dan asosiasi pengembang. Tujuannya mempertemukan masyarakat yang membutuhkan rumah dengan pengembang dan perbankan, sekaligus mengidentifikasi kendala pembiayaan agar dapat segera ditindaklanjuti.

Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit. Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Adapun kontribusi perbankan dalam penyaluran FLPP, Bank BTN mencatat realisasi terbesar sebanyak 85.341 unit, disusul Bank Syariah Nasional sebanyak 48.286 unit dan BRI sebanyak 26.182 unit.

Dari sisi wilayah, Jawa Barat mencatat penyaluran tertinggi sebanyak 44.295 unit, diikuti Jawa Tengah sebanyak 17.906 unit dan Sulawesi Selatan sebanyak 16.538 unit.

Berdasarkan data BP Tapera hingga 2 November 2026 pukul 14.30 WIB, realisasi penyaluran KPR FLPP secara nasional telah mencapai 197.048 unit rumah dengan nilai pembiayaan sebesar Rp24,55 triliun. Angka tersebut bertambah 2.688 unit rumah dibandingkan posisi akhir Oktober 2026.

Untuk menaikkan penyaluran, rencananya akan dilakukan akad massal pada Desember 2026, yakni sebanyak 71.000 unit rumah pada 17 Desember dan 30.000 unit rumah pada 21 Desember. Pelaksanaan akad massal tersebut diharapkan semakin memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap pembiayaan rumah subsidi.

"Kita ingin memastikan masyarakat tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan, tetapi juga kemudahan dalam seluruh proses kepemilikan rumah. Karena itu, kesiapan perbankan, pengembang, dan dukungan BP Tapera menjadi sangat penting agar pelaksanaan akad massal pada Desember mendatang dapat berjalan dengan baik," ujar Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman Maruarar Sirait.


(fys/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penjualan Rumah Subsidi Ambruk