Indeks Saham Ambruk, Bos Pasar Modal Israel Sebut Ekonomi 'Tersandera'
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Tel Aviv Stock Exchange (TASE) Ittai Ben-Zeev melayangkan desakan kepada para pemimpin politik Israel pada hari Minggu. Ia mendesak seluruh pihak untuk mengesampingkan perbedaan politik dan segera membentuk pemerintahan yang berbasis konsensus demi masa depan ekonomi negara.
Mengutip The Times of Israel, Senin (2/11/2026), desakan itu disampaikan melalui surat terbuka menyusul hasil pemilihan umum hari Selasa lalu. Hasil pemilihan tersebut dinilai menempatkan tugas nasional besar di hadapan para pemimpin Israel yang jauh melampaui pertimbangan kubu politik mana pun.
"Tanggung jawab nasional harus diutamakan di atas pertimbangan politik jangka pendek," kata Ben-Zeev. "Pemerintahan berbasis luas yang bertumpu pada kesepakatan antarkubu tidak mengharuskan penghapusan perbedaan atau pelepasan prinsip-prinsip."
Ben-Zeev menegaskan bahwa masa depan ekonomi Israel tidak boleh disandera oleh berbagai perselisihan politik. Ia memperingatkan bahwa pertikaian politik yang berlarut-larut bisa menghambat potensi pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Seruan ini muncul kurang dari seminggu setelah warga Israel memberikan suara mereka dalam pemilihan umum, dengan pertanyaan mengenai siapa pemimpin selanjutnya yang masih menggantung. Partai-partai yang menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berhasil mengamankan 67 dari 120 kursi Knesset, berbanding 53 kursi milik blok sayap kanan dan ultra-Ortodoks perdana menteri.
Akan tetapi, perpecahan ideologis yang mendalam serta janji-janji kampanye yang saling bertentangan kembali membuat pihak oposisi kesulitan membentuk pemerintahan alternatif.
"Berdasarkan hasil pemilihan baru-baru ini, masih sulit untuk memasukkan unsur pemerintahan yang stabil di Israel," ungkap Kepala Ekonom Leader Capital Markets Jonathan Katz.
"Jelas, proses pembentukan koalisi akan memakan waktu lama, putaran pemilihan lain juga merupakan skenario yang mungkin terjadi," papar Katz.
Reaksi Pasar
Pasar bereaksi sejalan dengan ketidakpastian tersebut, di mana saham Tel Aviv terpantau anjlok dan mata uang shekel ikut melemah terhadap dolar AS pada minggu lalu. Hasil pemilihan ini memupuskan harapan investor akan perubahan pemerintahan, sekaligus memicu ketidakpastian mengenai pembentukan koalisi yang kuat dan stabil.
Indeks acuan TA-125 tercatat turun 3,4% pada bulan Oktober lalu. Kendati demikian, indeks ini masih mencatatkan kenaikan sebesar 7,4% sejak awal tahun 2026.
Ben-Zeev turut memuji ketahanan ekonomi Israel yang ia sebut berakar dari kewirausahaan, inovasi, dan pencapaian teknologi yang tetap kuat meskipun dihadapkan pada perang selama tiga tahun berturut-turut. Perusahaan-perusahaan Israel terus berkembang melalui periode terberat negara tersebut berkat terjaganya kepercayaan para investor.
Namun, ia juga mewanti-wanti bahwa ketahanan itu bukanlah suatu kebetulan yang bisa dipandang sebelah mata. Ia menggarisbawahi bahwa keunggulan teknologi semata tidak akan mampu menjamin kemakmuran ekonomi negara di masa depan.
"Mengubah potensi menjadi pertumbuhan membutuhkan keputusan berani, strategi jangka panjang, dan investasi dalam infrastruktur, yang semuanya dipandu oleh visi yang meluas jauh melampaui siklus pemilihan berikutnya," tegas Ben-Zeev.
Ben-Zeev meminta pemerintahan yang baru untuk mengesahkan anggaran negara yang bertanggung jawab, meningkatkan investasi infrastruktur, serta merancang sistem pendidikan masa depan. Ia juga mendorong perlunya memperluas partisipasi tenaga kerja dan merangkul mereka yang ikut menanggung beban nasional.
"Israel dapat menarik investasi yang substansial dan menjadi pusat ekonomi dengan pengaruh global," pungkas Ben-Zeev.
Di samping itu, Ben-Zeev juga menuntut agar Israel dapat memanfaatkan peluang regional untuk memperluas Perjanjian Abraham dan membuka jalan ke pasar-pasar baru. Hal ini penting untuk dilakukan guna memberikan kepastian bagi para investor yang selalu membutuhkan prospek ekonomi yang jelas.
(tps/tps)