Dunia Lagi Kebanjiran Nikel, 65% Suplainya dari RI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 19:15 WIB
Foto: Ilustrasi Nikel (Dok Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut kondisi kelebihan pasokan (oversupply) nikel di pasar global mencapai 700.000-800.000 ton. Sementara kebutuhan nikel dunia sebesar 3,5 juta ton per tahun.

Dari total kebutuhan nikel dunia tersebut, Indonesia merupakan pemasok terbesar. Indonesia memegang porsi dominan dengan menguasai 65% dari total suplai nikel dunia.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan penumpukan pasokan tersebut memicu penurunan harga nikel di pasar internasional.


Dia menegaskan pemerintah akan melakukan penyesuaian kuota produksi nasional agar volume yang dihasilkan seimbang dengan tingkat kebutuhan pasar global.

"Nikel itu kalau konsumsi dunia itu 3,5 juta. Sekarang kapasitas produksi oversupply kita 700-800 ribu. Nah kalau ini terus kita pertahankan, pasti harganya akan jatuh lagi," ungkap Bahlil di sela acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026, di Jiexpo, Senin (2/11/2026).

Dia menilai porsi pasokan sebesar 65% seharusnya memberi posisi tawar yang kuat bagi Indonesia dalam menentukan pergerakan harga komoditas. Penyesuaian volume produksi melalui instrumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) diberlakukan agar harga nikel tidak diatur oleh pihak luar.

"Karena itu kita akan lakukan penyesuaian dengan tingkat kebutuhan berapa totalnya. Dan kemudian itu yang kita lakukan produksi. Dan 65% suplainya dari Indonesia, masa harganya diatur oleh orang," tegasnya.

Tingginya volume produksi yang berlebihan sebelumnya telah menekan harga nikel global hingga anjlok ke bawah level US$ 16.000 per ton. Pemerintah merancang penyesuaian kuota produksi tersebut secara fleksibel mengikuti dinamika pergerakan harga pasar dunia. 

Perlu diketahui, harga nikel per 2 November 2026 ini tercatat berada di level US$ 15.400-an per ton.

"Bisa lebih rendah, bisa lebih tinggi. Selama kalau harganya bagus, kalau harga bagus boleh dong lebih tinggi. Tapi kalau harga rendah, masa kita mau produksi banyak," tandasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengungkapkan pasokan bijih nikel di Indonesia masih surplus hingga 19 juta ton di 2026. Bahkan, pihaknya mengaku pasokan nikel di Indonesia bakal terus meningkat di 2027.

"Soal demand global, yang berpengaruh terhadap kita, nikel bukan cuma harus dilihat dari domestik, tapi globalnya bagaimana? Kita masih surplus 19 juta ton di 2026, sedangkan di 2027 diperkirakan bisa lebih tinggi lagi, ini bisa menurunkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)," kata Meidy dalam dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk "Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Kamis (29/10/2026).

Pihaknya juga mengeluhkan banyak regulasi ditingkat hulu, sehingga pelaku usaha di industri nikel cukup berat ditambah dengan turunnya harga karena kelebihan pasokan di global.

"Ini mungkin yang perlu kita pikirkan ke depannya, karena yang paling banyak regulasi atau aturannya itu sepertinya di hulu, selalu ada setiap bulan aturan yang baru. Juga ada Peraturan Daerah (Perda), padahal harga nikel lagi turun," terang Meidy.

Pihaknya berharap pelaku usaha industri nikel lebih diperhatikan agar harga nikel bisa lebih stabil dan pasokan cukup untuk memenuhi permintaan global.

"Intinya, benarkan dulu regulasi dan lain-lainnya di dalam negeri, agar kami tidak diserang terus, agar juga harga bisa lebih stabil, duduk bareng karena ini berkaitan dengan regulasi yang berbeda-beda di setiap kementerian/Lembaga," ujar Meidy.

Nikel RI Banjiri Dunia

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat total produksi nikel olahan hasil hilirisasi di dalam negeri mencapai 2,5 juta ton pada 2025. Capaian produksi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama yang menguasai hingga 60% kebutuhan nikel dunia.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah sempat memaparkan bahwa total kapasitas produksi fasilitas pemurnian nikel nasional pada 2025 telah mencapai 2,7 juta ton Ni. Ia menyebut produksi tersebut berasal dari pengolahan jalur pirometalurgi dan hidrometalurgi yang beroperasi di dalam negeri.

"Pada tahun 2025 total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate (setengah jadi) yang terdiri dari 2,05 juta berupa produk-produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP - Nikel Sulfat," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).

Pihaknya mengestimasi produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 akan mengalami penurunan sebesar 3,5% hingga 4% dibanding capaian 2025. Meski begitu, volume produksi diproyeksikan kembali meningkat pada 2027 seiring bertambahnya kapasitas dari proyek-proyek baru.

"Pada tahun 2027 akan ditandai oleh penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," paparnya.

Penambahan kapasitas dari proyek HPAL tersebut difokuskan pada pengolahan nikel bahan baku baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi MHP nasional yang sebesar 450 ribu ton pada 2025 diperkirakan meningkat melebihi 900 ribu ton nikel pada akhir 2027.

"Jumlah produksi sebesar itu telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia (~60%)," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

ESDM Usut Perusahaan Asing Pemilik Kebun Sawit Jalankan Usaha Tambang